Ziarah Hati

Ziarah Hati
KH Nisful Lalila Iskamil

”Ful, ponapa makna ologan onggha hajji neka mungggu pangghaliyan sampeyan?” (Ful, apa makna dari panggilan naik haji bagi kamu?)

Pertanyaan di atas diajukan KH. Washil Syarbini kepada saya ketika kami sama-sama menghadiri undangan selamatan salah satu santri yang hendak berangkat naik haji. Mendengar pertanyaan di atas tentu saja sejenak saya terdiam. “Mohon maaf, Kiai, sebagaimana undangan-undangan pada umumnya, yang harus saya sematkan dalam hati adalah meluruskan niat, dan niat yang saya maksud adalah niat memenuhi undangan Allah." jawab saya,  "seperti dalam menghadiri undangan saat ini, saya berada dalam terop perjamuan-Nya, menikmati hidangan-Nya dengan rasa nyaman dan syukur.” Kemudian, setengah bercanda saya melanjutkan, “perkara dari undangan itu saya dapat berkat atau tidak itu urusan tuan rumah. Syukur, kalau ada oleh-oleh berkat yang bisa dibawa pulang untuk anak dan istri di rumah.”

Mendengar jawaban di atas, mendadak KH. Washil Syarbini beranjak dan menjerit dengan melafakan kata-kata thayyibah. Saya tersentak kaget sekaligus hawatir ketika melihat perubahan sikap kiai ketika mendengar jawaban dan uraian saya.  Dalam hati saya terus berucap, Allah, Allah, Subhanallah. Saya takut KH. Washil Syarbini tersinggung dengan jawaban saya.

“Begini,” pelan-pelan KH. Washil Syarbini menjelaskan dengan nada santun dan gemetar. “Sering saya bertanya kepada calon jamaah haji, pertanyaannya sama dengan pertanyaan yang saya tanyakan kepadamu, Ful,” ujarnya. “Nyaris semua jawaban yang saya dapatkan sama.” sambungnya, “untuk itu, karena jawabanmu berbeda dengan yang lain tolong jelaskan maksud dari jawabanmu tadi,” pinta KH. Washil Syarbini.

Syukurlah, kekhawatiran saya hanyalah kehawatiran seorang manusia yang lemah iman, yang seringkali tidak yakin dengan apa yang diucapkan. Dengan segala keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, saya mencoba menguraikan apa yang saya maksudkan, “mengapa mereka dipanggil? Untuk kepentingan apa mereka harus menghadap baitullah (rumah Allah)? Mereka yang terpanggil harus merasakan dan membulatkan niat bahwa dirinya sedang dipanggil dan akan berada di bawah terop perjamuan-Nya, tidak berada jauh dari tempat-tempat yang telah disediakan-Nya, dapat menikmati hidangan-Nya dengan penuh rasa nyaman, tanpa harus mengatur atau protes kepada tuan rumah untuk memenuhi keinginan kita agar pelayanan dan hidangan sesuai selera yang kita kehendaki. Terlebih jika ada berkat (ampunan dan berbagai keutamaan) yang dapat dibawa pulang ke tanah air untuk kebaikan dan kemaslahatan keluarga di rumah.”

 Alhamdulillah, setelah saya menjelaskan apa maksud jawaban saya di atas, KH. Washil Syarbini mengamini dan menyampaikan keinginannya. “Saya ingin ke baitullah lagi. Saya ingin ke Mekah denganmu, denganmu, Ful!” katanya sambil meninggalkan saya. Saya melongo  dan kurang mengerti dengan apa yang beliau sampaikan, dan kenapa pula beliau langsung pergi? tanya saya dalam hati.

Berselang tidak seberapa lama baru saya pahami kalimat ajakan dan berlalunya KH. Washil Syarbini, bahwa apa yang beliau sampaikan dan lakukan tidak lebih sebagai wasilah atau ikatan batin sebagai manusia yang harus senantiasa dijaga dan dimotivasi agar tidak berjarak dengan sang Maha Pencipta, Allah.

Sikap pedulian seperti di atas selalu ditunjukkan K.H. Washil Syarbini dengan selalu menanyakan motivasi berhaji kepada calon jamaah haji yang beliau temui. Motivasi merupakan niat menjadi frame atau bingkai yang kelak akan terus memompa semangat para jamaah haji, terutama dalam meluruskan niat dalam hati.  

Sebagaimana kita pahami, berhaji bukan sekadar menunaikan rukun islam kelima tapi lebih dari itu, di sebagian masyarakat kita dalam berhaji terkadang muncul "ego" untuk mendongkrak posisi sosial seseorang di hadapan manusia lain. Oleh karenanya, penting bagi kita meluruskan niat bahwa baik dalam berhaji ataupun --dalam kontek hubungan antara manusia seperti menghadiri undangan-- niat  yang ikhlas bahwa apa yang kita lakukan hanya semata-mata untuk beribadah kepada Allah bukan sekadar prestise dan  gagah-gagahan semata.

Untuk itu, sejak sedari dini harus ditata ulang dan diintropeksi berkali-kali niat di dalam hati agar perjalanan haji menjadi perjalanan yang bermuatan ibadah semata-mata. Perjalanan yang hanya untuk memenuhi panggilan Allah, bukan perjalanan untuk mendapatkan panggilan sebagai pak haji atau bu haji.

KH. Nisful Laila Iskamil
Pengasuh Pondok Pesantren Asy Syifa, Cumedak, Jember, Jawa Timur.

Komentar

Loading...