Breaking News

Whistle Blower

Whistle Blower
Ilustrasi.net

“AKU tidak akan pikir-pikir lagi, apalagi naik banding dengan vonis hukum yang telah pengadilan jatuhkan kepadaku. Aku menerimanya.” Demikian kata seorang perampok ketika usai  mendengarkan vonis yang dijatuhkan hakim.

“Namun demikian, sebelum aku menjalani masa hukuman, tolong aku pertemukan terlebih dahulu dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz!” Lanjut sang perampok.

Hakim dan wakil dari kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz sangat keberatan. Berbagai prasangka jelek berkecamuk dalam pikiran mereka. Walaupun demikian, keinginan sang perampok disampaikan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Para penasihat khalifah memberikan berbagai masukan agar khalifah menolak permintaan sang perampok. Namun dengan berbagai pertimbangan, khalifah mengizinkan sang perampok untuk bertemu dengannya.

“Mengapa kamu ingin bertemu denganku. Ada pesan apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku? Apakah vonis yang dijatuhkan kurang memenuhi rasa keadilan?” Tanya khalifah.

Tanpa ada perasaan takut, sang perampok menjawab, “Khalifah yang mulia, aku sudah menerima vonis dari pengadilan yang berada dibawah kekuasaanmu. Para hakim telah berupaya keras menegakkan keadilan sesuai dengan perbuatanku. Namun demikian, perlu khalifah ketahui, keadilan yang ditegakkan di negara yang Anda pimpin ini belum sempurna, ibaratnya seperti orang yang berdiri dengan satu kaki. Hukum dibawah kepemimpinanmu masi berstandard ganda, tebang pilih.”

Khalifah mengernyitkan dahi, rupanya ia belum memahami benar maksud dari sang perampok.

“Boleh diperjelas, apa maksudmu sebenarnya?”

“Begini, khalifah yang mulia. Dari sisi hukum formal, perbuatanku sudah layak dihukum. Tetapi secara moral, orang-orang yang dirampok juga layak mendapatkan hukuman, malahan hukumannya harus lebih berat daripada hukuman yang dijatuhkan kepadaku.” Lanjut sang perampok.

Khalifah semakin bingung dengan ucapan sang perampok. “Seperti kamu ketahui, aku benci kezaliman. Sekecil apapun tak boleh ada tindak kezaliman di daerah kekuasaanku. Coba kamu jelaskan siapa saja yang dimaksud orang yang harus mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang dijatuhkan kepadamu itu?”

“Aku hanya rakyat jelata, orang  jahat, dan perampok. Tapi aku hanya merampok harta para pejabat negara yang rakus, yang kekayaannya melebihi dari gaji yang diberikan  negara. Aku memohon kepada khalifah untuk mengaudit harta kekayaan mereka. Apakah harta kekayaan, kemewahan hidup mereka sesuai dengan gaji yang mereka terima?”  Jawab sang perampok berapi-api.

Khalifah tercenung.  Jangan-jangan benar yang dikatakan sang perampok tersebut. Akhirnya khalifah memerintahkan para pembantunya untuk mengaudit harta kekayaan para pejabat negara dan para pembantu jalannya roda pemerintahan.

Setelah dilakukan audit, terbukti benar perkataan sang perampok tersebut. Jumlah harta para pejabat yang dirampok tak sepadan dengan gaji yang mereka dapatkan dari negara. Kesimpulannya, diduga keras para pejabat tersebut menyalahgunakan kekuasaannya, bisa jadi mereka melakukan tindak pidana korupsi dan melakukan tindakan yang merugikan rakyat.

Khalifah meminta kepada para pembantunya agar mendatangkan kembali sang perampok. Setelah ia berada di hadapannya, khalifah berkata, “Aku sangat menghargai dugaanmu. Ternyata dugaanmu tak meleset. Para pejabat yang hartanya engkau rampok itu benar-benar telah menyalahgunakan kekuasaannya. Kini mereka telah dijatuhkan hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang dijatuhkan kepadamu. Selanjutnya, karena kamu telah menjadi whistle blower (pelapor terjadinya tindak pidana),  kamu akan mendapatkan keringanan masa hukuman, malahan kamu bisa bebas dari hukuman yang telah engkau terima.”

“Aku telah menerima vonis hakim terdahulu. Aku menolak keringanan hukuman yang Anda berikan. Biarkan aku menjalani hukuman sesuai dengan vonis hakim di pengadilan.” Kata sang perampok.

Khalifah merasa heran dengan jawabannya. “Mengapa kamu menolak kebijakanku?”

“Sebab aku telah melakukan pencurian lagi?” Jawab sang perampok.

“Dimana? Bukankah kamu sedang dipenjara?” Tanya khalifah penuh keheranan.

“Aku telah mencuri waktu dan pikiran Anda. Begitu banyak waktu dan pikiran yang Anda curahkan demi menyelesaikan kasusku. Padahal Anda diangkat menjadi khalifah bukan hanya untuk mengurus kasusku saja, tapi untuk kepentingan seluruh  rakyat di daerah kekuasaan Anda. Biarkan aku menjalani hukuman untuk menebus dosa dan kekeliruanku.”Demikian sang perampok mengakhiri dialognya dengan khalifah. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...