Waskita

Waskita
Ilustrasi.net

 “TOKO ini diawasi CCTV,  segala tindak pencurian dan tindakan curang lainnya akan dilaporkan kepada kepolisian.”  

 “Area ini diawasi CCTV 24 Jam.” 

 Itulah beberapa tulisan peringatan yang sering kita temui di tempat-tempat umum. Kini hampir semua tempat memakai  kamera pengawas (CCTV). Bukan di tempat-tempat umum yang berupa toko atau perumahan saja, di masjid pun kini dipasang CCTV.  Hanya di toilet saja yang tidak terpasang CCTV.

Kehidupan yang serba digital dan mobile (bergerak) seperti sekarang ini, selama kita membawa handphone dan perangkat digital lainnya, kemanapun kita pergi,  posisi kita akan dapat diketahui dan terpantau. Apapun yang kita bicarakan dan dituliskan via handphone misalnya akan terekam dengan akurat. Suatu saat akan bisa dibuka kembali. Kini seolah-olah tak ada lagi tempat yang  nihil dari alat yang  mengawasi gerak-gerik perilaku kita.

Global Positioning  System (GPS) yang tersambung ke satelit lebih memudahlan seseorang untuk mengetahui posisi suatu benda atau orang. Karenanya, sangat sedikit sekali peluang seseorang untuk berbohong mengenai posisi tempatnya berada.  Demikian pula ketika kita bepergian dan mencari alamat, GPS, googlemap, atau perangkat lainnya dapat menjadi perunjuk jalan agar kita tidak tersesat.

Meskipun di suatu tempat tidak ada CCTV,  kita jangan merasa bebas untuk berperilaku yang aneh dan nyeleneh, orang-orang   di sekitar kita akan  merekamnya dengan kamera di handphone  yang mereka bawa. Tak sedikit perilaku aneh dan nyeleneh seseorang yang mereka jadikan viral di media sosial tanpa disadari oleh pelakunya.

Dengan adanya berbagai alat pengawas,  baik CCTV maupun GPS harus menjadikan diri kita  berhati-hati dalam berucap, menulis, maupun berperilaku. Apapun yang kita lakukan di tempat umum, kemungkinan besar akan diketahui orang. Terlebih-lebih jika kita aktif memposting segala perilaku dan tulisan kita via media sosial. Semua yang kita posting akan meninggalkan jejak digital yang akan tersimpan selamanya.

Kondisi seperti sekarang ini menginspirasi Robert O’Harrow, seorang wartawan  “The Washington Post’,  peraih penghargaan bergengsi bidang jurnalistik “Pulitzer” menulis sebuah buku yang berjudul “No Place to Hide.” Dalam buku tersebut (hal.282 – 300) disebutkan, pada saat ini kita hidup pada masa yang serba terekam yang belum pernah dialami orang-orang sebelum kita. Kemanapun kita pergi, kehidupan kita selalu terrekam dengan apik. Kehidupan kita bagaikan catatan harian elektronik yang dijaga, disimpan, dan disaksikan orang lain. 

Jejak-jejak kehidupan kita pada saat ini dapat dilihat hampir semua orang.  Oleh karena itu, bijak dalam berucap, bertindak, berperilaku, dan dalam menggunakan piranti digital seperti handphone, internet, dan media sosial mutlak diperlukan. Lebih dari itu, kemajuan teknologi digital dan mobile yang mampu merekam gerak-gerik kita harus dijadikan pelajaran untuk semakin meningkatkan keyakinan kita kepada Allah. 

Jauh sebelum kemajuan teknologi seperti sekarang ini, kita sudah diperingatkan  Allah  agar kita berhati-hati dalam  berucap dan bertindak. Apapun yang kita perbuat selalu diawasi  “dua CCTV” yang tak pernah error dan tak pernah padam.  Kedua “kamera” tersebut terdapat di sisi kiri dan kanan kita. “Dan tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat” (Q. S. Qaf : 18).

Sayangnya, kita lebih berhati-hati dan merasa takut dengan kamera pengintai (CCTV) dan takut meninggalkan jejak digital yang jelek dari ucapan dan perilaku kita daripada takut terhadap pencatatan dua malaikat yang ada disamping kiri dan kanan kita. Padahal, lebih dari sekedar CCTV,  apapun yang kita lakukan akan tercatat dengan apik dan tersimpan sampai hari disidangkannya seluruh perbuatan manusia di hadapan Allah, kelak di akhirat.

Berbeda dengan CCTV dan sistem digital yang kemungkinan masih bisa error dan dihapus, catatan jejak kehidupan yang ditulis dua malaikat Allah yang ada di samping kiri dan kanan kita tak akan ada yang mampu menghapusnya. Amal perbuatan kita akan tetap tercatat dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.

Sebagian ulama menyebutkan,  tobat yang kita lakukan hanya akan menghapus siksaan Allah atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Namun bekas-bekasnya masih tetap ada. Ibarat kulit kita yang terkena luka parah, meskipun sudah kering dan dinyatakan sembuh, bekas-bekas lukanya masih tampak jelas namun sudah tidak terasa sakit lagi. 

Kita harus mampu mengambil pelajaran dari kemajuan teknologi,  jika sebuah teknologi seperti kamera pengintai saja dapat mengawasi segala gerak-gerik kita, apalagi Allah yang Maha Melihat. Tak ada sejengkal tempat pun di muka bumi ini yang terlepas dari pengawasannya. Alangkah bijaknya jika kita tidak merasa aman dan nyaman ketika kita berbuat dosa atau maksiat.

Seseorang boleh merasa aman ketika berbuat dosa atau kemaksiatan karena tidak ada CCTV, tidak ada yang merekam, dan tidak mempostingnya ke media sosial, namun ingat pengawasan dari Allah selalu melekat pada kehidupan kita.  Kelak di padang Mahsyar, Allah akan memperlihatkan seluruh rekam jejak kehidupan kita.

Waskita yang secara leksikal berarti penglihatan yang tajam, juga bisa merupakan kependekan dari pengawasan kepada kita. Kemanapun kita pergi, dimanapun kita berada, pengawasan-Nya selalu mengikuti kita. Suatu tindakan yang bijak apabila kita senantiasa merasa diawasi Allah baik dalam berucap maupun bertindak. 

Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi mengatakan, berbahagialah orang yang merasa diawasi Allah. Ia selalu bertindak hati-hati dan waspada.  Kamu boleh melakukan kemaksiatan apapun di muka bumi ini dengan berbagai sarat, salah satunya “kemaksiatanmu tak akan terlihat  dan diawasi Allah,  serta tidak dicatat malaikat pencatat amal.”

Adakah tempat di muka bumi ini yang tidak disaksikan Allah?  Karena jawaban pastinya adalah mustahil ada, maka sangatlah bijak jika kita selalu meyakinkan adanya Zat yang Maha Waskita (Maha Melihat), dan kita merasa diawasi oleh-Nya sepanjang masa, dimanapun kita berada.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp.Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...