Wali Murid MIN 8 Banda Aceh Tolak Pembangunan SPBU di Depan Sekolahnya

Wali Murid MIN 8 Banda Aceh Tolak Pembangunan SPBU di Depan Sekolahnya
Muslim SH (kiri) saat menyerahkan petisi penolakan pembangunan SPBU kepada Ketua Komite MIN 8 Banda Aceh Yusri, S.Ag disaksikan wali murid di depan sekolah setempat, Minggu (26/9/20) ist.

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh – Wali murid MIN 8 Banda Aceh menyerahkan petisi penolakan pembangunan SPBU di depan sekolah mereka kepada ketua komite sekolah untuk diteruskan kepada Walikota Banda Aceh dan Pertamina, Minggu (26/9) siang.  

Penolakan tersebut dikeluarkan setelah mengadakan pertemuan di aula Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 8 Banda Aceh di sekitar kawasan Stadion Harapan Bangsa di Jalan Malikussaleh Lhong Raya.

Dalam pertemuan yang dihadiri  para wali murid yang berlatar belakang berbagai profesi menilai banyak aspek besar yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak anak mulai kesehatan, estetika, keamanan dan kenyamanan murid yang barada masa pertumbuhan.

Atas dasar beberapa masukan dan dilihat dari banyak aspek, maka semua wali murid sepakat menolak pembangunan SPBU  yang berada persis di depan madrasah tersebut di seberang kantor Basarnas.  

Ketua Komite MIN 8 Banda Aceh, Yusri S.Ag mengatakan sepakat dengan saran dan masukan peserta rapat dan akan meneruskan hasil rapat ini kepada Pemko Banda Aceh dan Pertaminan untuk membatalkan pembangunan SPBU di lokasi sekolah tersebut.

“Seperti kita ketahui di lokasi ini merupakan zona pendidikan yang berdiri banyak sekolah selain MIN 8 juga ada komplek SMKN 1,2 dan 3, juga ada SMAN dan sekolah olahraga raga yang berada di lokasi Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh. Kita sangat tidak setuju untuk dibangun SPBU di lokasi tersebut,” kata Yusri SAg yang didampingi Ismardi SE, MA, bendahara komite MIN 8 Banda Aceh kepada media ini, Sabtu (26/9).

Sekitar seribu wali murid, sebutnya, mengharapkan penolakan pembangunan SPBU di depan MIN 8 Banda Aceh didengar oleh Pertamina dan Pemko Banda Aceh.

Sementara Muslim SH,  salah satu wali murid mengatakan kehadiran SPBU bersebelahan dengan MIN 8 harus ditolak, karena akan berdampak pada psikologis peserta didik yang masih anak anak.  

Menurutnya, semua tidak sependapat perizinan SPBU dalam zona pendidikan yang telah disepakati sebelumnya. Diseputar itu sudah ada boarding school atlit dibawah binaan Dispora Aceh, ada sejumlah sekolah lain.

Orang tua murid merasa tidak aman dan nyaman, andai terjadi musibah kebakaran akan goncang jiwa anak-anak yang masih kecil-kecil dan jika kebakaran terjadi disusul ledakan tangki minyak, sangat sukar dievakuasi, karena akses keluar pintu gerbang berhimpitan dengan SPBU yang direncanakan. Sedangkan di samping kiri- kanan dan belakang sekolah dibatasi pagar tembok  sekolah tinggi.

“Andai pun kita lemparkan anak-anak keluar pagar beton tersebut sangat tidak mungkin karena semua batas bidang tanah sekolah tersebut air payau yang bisa tenggelamkan anak-anak. Wah gawat Pemko, tim amdal dan Pertamina lebih penting kebijakan bisnis ekonomi dibandingkan pendidikan. Padahal, maju mundur bangsa ini sangat ditentukan pada pendidikan generasi si kecil-kecil itu,”urai Muslim Alumni Fakultas Unsyiah ini heran.[re]

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...