Wakil Menag: Moral & Politik Seperti Bayi Kembar

Wakil Menag: Moral & Politik Seperti Bayi Kembar
Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi.

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh - Agama dan raja,  moral dan politik, ibarat seperti bayi kembar. Agama sebagai pondasinya dan raja (pemerintah) sebagai penjaganya. Jadi sesungguhnya ajaran Islam ditujukan kepada terwujudnya moral politik dan tercapainya politik moral.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi sebagai keynote speaker dalam Webiner Nasional dengan tema ‘Berpolitik Tanpa Kebencian: Membuka Catatan Penting Para Filsuf Islam’ yang dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UNI Ar Raniry Banda Aceh kerjasama dengan IAIN Salatiga dan UIN Sumatera Utara, Medan, Rabu (11/11/20).

Menurut Imam Al-Ghazali, sebut Zainut, adalah amalan dan kejujuran. Karena itu Imam Al-Ghazali berpendapat kepatuhan kepada raja atau pemimpin pemerintah didasarkan atas kenyataan bahwa tuhan memilih raja (presiden) dan menganugrahkannya kekuasaan serta cahaya ilahi.

“Menurut Imam Al-Ghazali pemimpin itu sebagai bayangan Tuhan, sehingga rakyat wajib patuh dan tidak boleh membangkang selagi pemimpin (raja) berada dalam syariah-NYA. Tentunya, tugas pemimpin adalah melaksanakan segala kewajiban utama agama adalah Maqasyidul Syari'ah,”katanya panjang lebar.

Wakil Rektor I UIN Ar Raniry, Dr Gunawan Adnan, Ph.D

Sementara Rektor UIN Ar Raniry Banda Aceh ketika membuka webinar yang disampaikan Wakil Rektor I Dr Gunawan Adnan P.hD mengatakan, kita harus meluruskan atau memberi persepsi, bahwa ada orang mengatakan politik itu jahat, politik itu tidak perlu.

“Ini semua harus diluruskan. Justru politik itu penting, Islam besar karena disitu ada unsur politik, artinya politik itu harus kita terlibat langsung disitu. Politik itu penting, kalo tidak maka kita akan di atur atau boleh dikatakan di jajah ataupun kita akan dibodoh bodohin oleh orang lain,”katanya.

Tetapi kemudian yang menjadi masalah bagaimana berpolitik secara Islam. Maka, topik webinar ini sangat menarik dan penting membuat kita semangat dalam berpolitik.

Berpolitik tanpa kebencian ini, katanya, sebenarnya kalau kita turunkan sumbernya jelas dalam al-Qur’an, Allah mengatakan Wama arsalnaka ilalillahirahmatalil 'alamin, jadi tidaklah seorang Rasul, termasuk kita ini sabagai warasatul ambia, menjadi llllillahirahmatallil'alamin.

Jadi kita tidak boleh menjadi bagian dari orang-orang yang mendeskriminasi kebencian. Islam tidak mempromosikan kebencian tetapi perdamaian. Maka, konsep Islam harus berangkat pada keadilan. Sehingga Allah mengatakan "Berbuat adillah kamu, karena adil itu sangat dekat dengan taqwa." Jika ada pelaku politik tidak adil atau tidak feer, mendzalimi bagi orang lain maka kita tidak mengikuti Rasul Allah dan tidak Islami.

Dalam Webinar Nasional ini, menghadirkan pembicara politisi senior H. Amri Ali (Ketua DPW PPP Aceh), Dr. Ernita Dewi, S.Ag., M.Hum (Dekan FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh), Dr. Abdullah Sani, Lc, MA (Kaprodi IPOL FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh), Drs. Mhd Aswin, MAP (Kaprodi Pemikiran Politik Islam FUSI UIN Sumatera Utara Medan) dan Dr. Benny Ridwan, M.Hum (Dekan Fak. Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Salatiga).

Politisi senior Tgk Amri M Ali

Politisi senior Amri M Ali menguraikan tujuan politik secara umum, agar kekuasaan yang ada di masyarakat maupun pemerintah diperoleh, dikelola, dan diterapkan sesuai dengan norma hukum, lalu menciptakan kekuasaan dalam masyarakat maupun pemerintah yang demokratis.

Kemudian, sebutnya, membantu terselenggaranya kekuasaan pemerintah dan masyarakat yang mengacu pada prinsip negara, mensejahterakan seluruh masyarakat. melindungi hak-hak semua warga negara dan menjamin terlaksananya kewajiban-kewajiban warga negara, menjaga keamanan dan perdamaian negara. Menjaga kehidupan sosial yang seimbang untuk kemajuan bangsa.

Sedangkan manfaat bagi negara, untuk  mempermudah tujuan negara mensejahterakan rakyatnya, mengakomodir kepentingan semua pihak saat pemerintah membuat sebuah kebijakan.

Sementara bagi rakyat, sebagai alat untuk partisipasi politik, menyampaikan kritik dan pendapat untuk pemerintah dan negara. Dengan menguasai politik warga juga paham akan aturan kenegaraan, meningkatkan kemampuan negosiasi.

“Negosiasi diperlukan untuk memberikan penawaran yang tentu lebih menarik, mengajarkan cara untuk berempati terhadap masyarakat tanpa rasial,”urainya panjang lebar.

Dekan FISIP UIN Ar Raniry, Dr Ernita Dewi, M.Hum

Sementara, Dekan FISIP UNI Ar Raniry, Ernita Dewi mengatakan, politik menduduki tempat terpenting, karena semua bagian filsafatnya mengandung unsur politik. Politik bukanlah tujuan, namun sebagai sarana untuk mendapatkan tujuan akhir manusia yaitu kebahagiaan.

Oleh karena itu, katanya, konsep politik Al Farabi didasarkan atas konsepsi usaha bersama dari manusia untuk mencapai kebahagiaan tertinggi dalam masyarakat.

Kebahagian hidup yang didambakan dalam suatu negara tidak akan pernah tercapai bila masing-masing individu tidak bersedia menyatukan persepsi dan visi demi kepentingan bersama Al-Farabi mengibaratkan negara sebagai satu tubuh layaknya tubuh manusia.

Ibnu Sina juga menyebutkan bahwa manusia membutuhkan negara sebagai tempat untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan sebagai kondrat hakiki manusia secara keseluruhan.

Sedangkan benci dan membenci adalah rasa tidak suka yang kuat terhadap seseorang atau terhadap sesuatu.

Membenci sama halnya dengan mengingkari fitrah kemanusiaan manusia. Meski cinta dan benci seolah-olah sama tetap saja satu dan lainnya itu jauh beda.

Sementara di dalam cinta terkandung kasih sayang dan kelembutannya. Sedangkan di dalam benci terkandung abai dan kekasarannya.

“Jika karena cinta tiada yang tampak selain kebaikannya, maka karena benci tiada yang terlihat selain keburukannya,”kata Dekan FISIP UIN Ar Raniry ini.

Webinar Nasional yang berlangsung dari pukul 08.30  hingga pukul  11.30 WIB mendapat banyak peminat, sehingga acara berlangsung sukses.[re]

Komentar

Loading...