Usman Lamreung Desak PT Medco Terapkan Pencegahan dini Wilayah Lingkar Tambang

Usman Lamreung Desak PT Medco Terapkan Pencegahan dini Wilayah Lingkar Tambang
Akademini Universitas Albuyatama, Usman Lamreung

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh – Usman Lamreung mendesak PT Medco E & P Malaka segera mencarikan solusi dari aspek tehnis, berkomitmen tinggi dan serius dalam menerapkan Early Warning System (EWS) dalam proses mitigasi melalui kegiatan-kegiatan sosialisasi dan edukasi akan bahaya H2S.

“Ini penting agar warga sekitar tambang lebih peka dan paham bahwa mereka hidup berdampingan dengan bencana dan sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatannya, lalu pemasangan alarm-alarm pendeteksi gas supaya warga memiliki kewaspadaan tinggi, menyiapkan masker-masker oksigen, memperbaiki jalur-jalur evakuasi, dan sebagainya,”kata Usman Lamreung.

Sebagaimana diketahui, warga Gampong Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, sebanyak 163 KK, korban keracunan gas dan dirawat di rumah sakit dari kegiatan flaring PT Medco E & P Malaka, yang sempat mengungsi lima hari dari Jumat hingga Rabu (9-14/4) sudah kembali pulang ke rumah masing-masing setelah dinyatakan kondisi udara sudah normal.

Menurut Usman, apa yang dialami oleh warga Gampong oleh PT Medco E&P Malaka Blok A, mendampingi pemulangan pengungsi disertai membayar biaya kompensasi sebesar  2  juta/kk, dinilai sebagai bentuk tanggung jawab dan patut diapresiasi oleh semua pihak.

“Namun, pemberian kompensasi 400.000/kk, selama 5 hari dipengungsian oleh perusahaan PT Medco E&P Malaka sebagai solusi dari aspek sosial/ekonomi penanganan keadaan darurat, tetapi menurutnya perusahaan dianggap belum memberi solusi dari aspek tekhnis,”kata Usman secara tertulis kepada media ini, Jumat (16/4).

Pernyataan pihak DLH Aceh Timur yang didampingi perusahaan telah melakukan survey di lokasi sumur AS-9, AS-11 dan AS-12 tidak tercium lagi bau menyengat yang diduga dari asap suar dan dari pengukuran kualitas udara di desa tersebut dengan parameter SO2, H2S, dan CH4 terbaca nol, juga dianggap oleh Usman belum memadai. Karena pihak perusahaan belum memberikan keterangan resmi penyebab terjadi insiden tersebut, menyebabkan ratusan terpaksa KK mengungsi dan belasan lainnya masuk rumah sakit.

“Insiden keracunan warga Gampong Panton Rayeuk T, mengindikasikan PT Medco E&P Malaka belum menerapkan sistem pencegahan dini (EWS), sehingga efek yang ditimbulkan akibat terhirup gas beracun, berdampak pada warga desa, yang menyebabkan terjadi warga  terpaksa mengungsi dan dirawat di rumah sakit umum,” urai Usman akademisi Universitas Albuyatama tegas.

Menurut Usman Lamreung, insiden yang sama pernah terjadi pada Mei 2019, November 2020, dan pada April 2021, dikuatirkan masih sangat berpotensi akan terjadi lagi pada waktu dan gampong lainnya, dengan tingkat resiko tinggi jika gas tersebut kembali menerpa warga, dan selama dalam kurun waktu 3 tahun tersebut, PT Medco dinilai belum melakukan langkah-langkah preventif.

“Mitigasi melalui sistem pencegahan dini (EWS) menjadi penting diterapkan sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam melindungi manusia yang hidup di sekitaran proyek BLOK A, sehingga jatuhnya korban akibat menghirup gas berbahaya dapat diminimalisir,” tutup Usman mengingatkan managemen PT Medco.

[man/re]

Komentar

Loading...