Usman Lamreueng: Dampak Penertiban Bantaran Krueng Aceh Bertambahnya Pengangguran

Usman Lamreueng: Dampak Penertiban Bantaran Krueng Aceh Bertambahnya Pengangguran
Akademisi Unaya, Usman Lamreung

CAKRADUNIA,CO, Aceh Besar - Masyarakat sepanjang bantaran Krueng Aceh di tiga kecamatan Kabupaten Aceh Besar, yang selama puluhan tahun menggarap lahan tersebut akan terkena dampak ekonomi akibat penertiban bangunan di sepanjang bantaran Krueng Aceh.

Kebijakan Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten Aceh Besar mendapat tanggapan serius dari tokoh muda Aceh asal Aceh Besar Usman Lamreung kepada cakradunia.co, Jumat, (16/10/2020) mengungkapkan bahwa akan muncul dampak serius terhadap perekonomian masyarakat yang sudah puluhan tahun menggunakan lahan tersebut baik sebagai lahan pertanian, peternakan serta untuk usaha lainnya.

 “Sudah puluhan tahun menggarap lahan tersebut dan sudah barang tentu apa yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar bantaran Krueng Aceh, telah membantu program pemerintah seperti menjaga ketersediaan ketahanan pangan, peternakan sapi setiap meugang dan hari raya qurban,”ungkap Usman Lamreung

“Berbagai usaha yang ada di sepanjanga bantaran Krueng Aceh juga telah menampung lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya,”tambahnya  

Menurut akademisi Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh Besar seharusnya dalam pembongkaran tersebut pemerintah Aceh dan pemkab Aceh Besar merelokasi para usahawan yang ada ketempat yang baru dan memikirkan solusi agar tidak bertambahnya pengangguran di Aceh 

“Contohnya, peternak dirangkul dalam suatu wadah yang terorganisir yang mengarah terbentuknya sistem peternakan intensif atau semi intensif dengan melibatkan dinas peternakan Aceh dan Aceh Besar. Koperasi dan peternak tidak dirugikan secara materi dan psikologis. Sehingga pembongkaran disekitar bantaran sungai menjadi humanis,” ungkap Usman

Dalam hal ini Usman menilai sosialisasi rencana pembongkaran bangunan dan kandang ternak dibantaran sungai yang dilakukan oleh Pemda Aceh dan Pemda Aceh Besar terkesan  tidak humanis karena tidak ada solusi alternatif terhadap pengusaha, peternak dan petani disepanjang bantaran Krueng Aceh.

“Intinya pemerintah harus mempersiapkan ruang baru (wadah) atau tempat relokasi bagi mereka yang terdampak sehingga tidak meninggalkan luka dan benci di hati masyarakat khususnya masyarakat Aceh Besar dan terkesan Islami dan humanis,”pintanya penuh harap.

Usman Lamreung dalam hal ini mewakili masyarakat bantaran krueng Aceh berharap agar pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Besar untuk mempertimbangkan kembali agar menunda penertiban bantaran krueng Aceh, mengingat masyarakat menengah kebawah yang menggunakan lahan tersebut masih butuh ruang tersebut untuk membangun ekonomi keluarganya.

“Pemerintah juga diharapkan agar menerbitkan kebijakan terhadap penggunaan lahan agar aliran sungai tidak terganggu dan bebas banjir sehingga pendapatan ekonomi masyarakat tidak terganggu, ini adalah sebagai solusi, karena dua hal tersebut adalah kebutuhan dan keselamatan manusia,” tutup Usman

Sementara itu, suara nyaring warga setempat mempertanyakan keberadaan Bupati Aceh Besar kemana saat masyarakat dizalimi.

“Bupati Aceh Besar hoeka jinoe, bek watee pilkada mantong perle ke kamoe rakyat, watee ka teupileh hana peduli lee keu rakyat” (bupati Aceh Besar kemana sekarang, jangan ketika pilkada saja perlu rakyat, ketika sudah terpilih tidak peduli lagi ke rakyat), kata Abdullah warga Aceh Besar tegas.

(Rachman/Re)

Komentar

Loading...