Update Status

Update Status
Ilustrasi.WinNetNews.com

Oleh: Ade Sudaryat

SEJAK kehadiran media sosial facebook, twitter, dan lainnya, update status menjadi kata yang populer. Ada sebagian orang yang merasa terasing apabila belum melakukannya di akun media sosial yang diikutinya. Padahal jika ditelusuri, dalam update statusnya cuma menginformasikan sesuatu yang tidak begitu penting. 

Seseorang begitu nampak senang jika sudah melakukan update status di akun media sosialnya, apalagi jika banyak dikomentari orang-orang yang membacanya. Beberapa tahun lalu,  Diana I. Tamirdan Jason P. Mitchell dari Fakultas Psikologi Universitas Harvard dari hasil penelitian yang mereka lakukan, menyebutkan terdapat kecenderungan seseorang untuk diketahui eksistensi dirinya. Seseorang, rata-rata menghabiskan 40% dari percakapannya untuk membicarakan diri sendiri. Salah satunya melalui update status di media sosial.

Selama memiliki tujuan yang baik dan tidak bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, bukan sesuatu  yang jelek apabila seseorang yang aktif di media sosial untuk melakukan update status, apalagi jika isinya mengajak kepada kebaikan. Namun, terkadang banyak orang yang  keliru dalam melakukannya. Seseorang yang akan makan begitu sibuk memotret makanan yang akan disantapnya sebagai bahan update status sampai ia lupa berdo’a. Sesudah makan pun bukan berdo’a, tapi ia mengambil handphone dan membaca komentar terhadap update statusnya.

Berkenaan dengan update status, ibadah yang kita lakukan merupakan upaya update status diri kita di hadapan Allah. Seseorang yang taat beribadah kepada Allah, status dirinya bukan saja akan dikenal oleh manusia, tapi juga oleh seluruh makhluk-Nya. Seseorang yang berzikir baik melalui tadarus, istighfar, dan lain sebagainya merupakan update status orang tersebut di hadapan-Nya. Buahnya, Allah akan mengupdate status perbuatan orang tersebut di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.

“Tidaklah sekelompok orang duduk berzikir kepada Allah, kecuali para malaikat dan rahmat Allah akan mengelilingi mereka. Allah menurunkan ketenteraman, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya (H. R. Muslim).

Dalam hal update status, selayaknya kita meneladani Uwais bin ‘Amir yang lebih popular dengan sebutan Uwais Al-Qarni. Ia melakukan update status dirinya di hadapan Allah swt, bukan di hadapan manusia. Salah satu update status yang ia lakukan adalah senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan kepada semua orang yang didasari lillahi ta’ala. Buah dari update statusnya, ia menjadi manusia yang terkenal di bumi dan di langit.

Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat,  “nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh, namun di badannya masih tersisa tapak luka dari penyakitnya sebesar uang satu dirham. Ia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya ia berdo’a kepada Allah, maka akan diperkenankan Allah semua permintaannya. Jika engkau mau agar ia meminta kepada Allah supaya engkau diampuni, mintalah kepadanya.” (H. R. Muslim).

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Nanti apabila kalian bertemu dengan Uwais Al-Qarni, mintalah do’a dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”

Tak jadi masalah apabila kita selalu melakukan update status diri kita melalui media sosial. Baik dan buruknya berpulang kepada niat dan tujuan kita dalam melakukannya. Namun alangkah indahnya, jika kita dapat melakukan upadate status seperti yang dilakukan Uwais Al-Qarni agar kita mendapat rahmat, maghfirah, ampunan, dan keridaan-Nya.***

 

Penulis Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut.

Komentar

Loading...