Tralala, Tralili, Pendidikan Akhlak!

Tralala, Tralili, Pendidikan Akhlak!
Mahwi Air Tawar

Beberapa bulan ini indra kita disuguhi oleh kata penting yang mesti diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akhlak! Dalam konteks agama terang saja akhlak menjadi salah satu alasan penting diutusnya sang nabi junjungan, Muhammad Saw.

Oleh karenanya, jauh sebelum mengetengahkan masalah serius yakni pendidikan akhlak, alangkah baiknya bila sejenak kita berpetualang bersama Bintang si bintang laut, Kulut si kuda laut, Rara si karang Mutiara, dan Kiting.  Keempat makhluk laut bersahabat itu punya obsesi melihat keindahan bintang di langit sebagaimana sering mereka dengar dari para pelaut yang kerap menyebut dan mengagumi bintang-bintang di langit, demikian juga sebagian dari pelaut yang setiap hendak merubah dan atau mengubah haluan senantiasa mengikuti gerak perpindahan salah satu bintang.

Bagi pelaut, pijar bintang di langit bukan sekadar ribuan cahaya yang indah di tengah kegelapan dan kesunyian sebagaimana penyair menjadikannya objek dari puisi-puisinya yang galau dan rapuh. Tapi bagi pelaut, bintang menyatu dalam intuisi sehingga setiap mau merubah haluan pelayaran atau kapan dan ke arah mana mesti menggerakkan perahunya, pertama-tama yang dilakukan adalah menatap langit kemudian dengan bahasa isyarat mereka seakan berbicara dengan bintang-bintang itu.

Tampaknya, perbincangan antara pelaut dan bintang-bintang itulah yang kemudian didengar oleh empat sekawan makhluk laut, Bintang, Rara, Mutiara, dan Kiting dalam cerita rekaan yang ditulis oleh adinda Cherry Nafiza Hamman dalam buku kumpulan cerita anak Kisah-Kisah dari Bawah Laut Negeri Bahari (reboeng: 2020).

Lalu apa hubungannya antara kisah empat sekawan dengan pendidikan akhlak? Nah, sebelum melanjutkan mari membayangkan dampak dari pendidikan akhlak yang kerap digemakan hingga menjadi trend bahkan, dari saking trendnya anak-anak usia dini pun sambil membentak temannya berteriak. "Dasar. Tak punya akhlak!"

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam pergaulan sehari-hari akhlak penting dijalankam, budi dan pekerti mesti didahulukan. Namun begitu, bagaimana mungkin akhlak yang baik itu dapat diterapkan jika pada saat bersamaan berpikir logis diabaikan? Seorang anak kecil sembari mengumpat menyelipkan kata akhlak, sesuatu yang tidak masuk akal tentu saja. Sebaliknya, hampir dipastikan orang yang berpikir logis dan atau mendahulukan akal setiap tindakannya akan senantiasa diiringi akhlak, karena sejatinya orang yang berakhlak tidak akan mengumpat apalagi berkata-kata "kotor" meski tujuannya baik.

Pertanyaannya apa hubungannya akhlak dan kutipan cerita empat sekawan makhluk laut di atas, apa pula korelasinya dengan kehidupan anak-anak? Semua orang tahu, apalagi akademisi bahwa dunia anak adalah dunia bermain, berfantasi, dan berimajinasi yang, kadang-kadang tak masuk akal. Tapi jangan lupa bahwa fantasi, imajinasi, dan keriangan anak-anak adalah bekal memperkaya sudut pandang, memperkaya pengetahuan sehingga dengan ilmu pengetahuan yang luas itulah kelak anak-anak dapat mempraktikkan akhlak dalam pergaulan sehari-hari tanpa harus berteriak nyaring tentang akhlak di tengah jalan. []

Penulis Sastrawan Madura

Komentar

Loading...