Tgk H Attarmizi Hamid, Ingin Hidupkan Dayah Kecil di Pelosok Gampong

Tgk H Attarmizi Hamid, Ingin Hidupkan Dayah Kecil di Pelosok Gampong
Tgk H Attarmizi Hamid, Anggota Fraksi PPP DPR Aceh. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

TERLAHIR sebagai anak santri, Tgk H Attarmizi Hamid (43) selalu berpikir bagaimana dayah-dayah kecil yang hidup memprihatinkan nun jauh di pelosok gampong bisa tumbuh,  agar generasi muda di sana menjadi pewaris desa yang agamis dan intelek dalam menyongsong masa depan yang penuh tantangan. 

Perjuangan itu, tak terlepas dari titah orang tuanya alm Tgk H Abdul Hamid Laduni (71), Pimpinan Dayah Darul Wustha, Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan. Sang ayah, selalu berpesan agar apapun pekerjaan yang ditekuninya kelak dengan satu syarat tidak boleh melupakan seumeubeut (mengajar mengaji) dan membangun dayah.

Selepas SMAN 1 Labuhan Haji Tahun 1995 dan menimba ilmu di Dayah Darul Wustha dari 1983 sampai 1995, Tgk Tar, begitu nama akrabnya, tidak ingin kuliah di perguruan tinggi umum. Tapi, melanjutkan studi di Dayah (Pesantren) Darussalam Al Waliyah, Pimpinan Buya H Jamaluddin Waly dari tahun 1995-1998.

Memasuki masa pemilu tahun 1999, putra kelahiran Desa Ujung Padang, Labuhan Haji ini, didatangi sejumlah pimpinan partai untuk diajak menjadi calon  legislatif. Namun, waktu itu partai-partai yang melamarnya, ditolak oleh ayahnya.

Tgk H Attarmizi Hamid.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Kemudian datang pimpinan Partai PPP untuk menjumpai ayahnya, memohon izin agar Tgk Tarmizi yang memiliki potensi dibolehkan mencalonkan diri jadi caleg dari partai berlambang Ka’bah itu. Permohonan pimpinan Partai PPP itu ternyata meluluhkan hati Tgk H Abdul Hamid dengan mengizinkan anaknya, menjadi caleg partai berlambang Ka’bah itu.

“Kalau calon dari PPP boleh. Tapi, berjanjilah untuk tidak meninggalkan kewajiban seumeubeut santri di dayah,”kata putra kelahiran 1 Pebrurai 1976 ini, mengulang kembali petuah Abunya.

Kenapa memilih jalur politik dalam hidupnya? Mantan Ketua PERTI Aceh Selatan ini, meyakini bahwa salah satu cara memperjuangkan kepentingan agama ia harus masuk ke dalam ranah politik, menjadi anggota legislatif. Banyak hal yang bisa diperjuangkan di dalam gedung Dewan yang terhormat itu. Memang, sekarang banyak orang-orang pesantren yang bekerja di pemerintahan dan swasta, sehingga tidak ada perbedaan lagi tergantung kemampuan individunya. Demikian juga dilegislatif, lepasan pesantren justru sangat dibutuhkan untuk keseimbangan pembangunan fisik dan keagamaan.

Begitu mendapat restu, Tgk Tar langsung mencalonkan diri dan berjuang berbulan-bulan masuk keluar gampong ke dayah-dayah untuk mencari dukungan semua elemen masyarakat.

Alhamdulillah perjuangannya tak sia-sia, terpilih menjadi anggota DPRK Aceh Selatan termuda waktu itu, karena baru berusia 23 tahun untuk periode 1999-2004.

Tgk H Attarmizi Hamid.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Setelah menjadi anggota parlemen, janji dengan Abunya tetap dipenuhi.  Ditengah kesibukkan melayani rakyat, pria yang bersahaja ini tetap melakukan pengajian, baik pagi, siang dan malam hari di Dayah Darul Wustha yang dipimpin Abunya.

Selama menjadi anggota DPRK Aceh Selatan,  secara bertahap terus berjuang agar Imam Syik di dayah, masjid mendapat perhatian. Waktu itu, dananya tergolong kecil. Namun, sudah lumayan dari pada tidak ada sama sekali. Kini, kehidupan Imam jauh lebih baik karena ditambah dengan  dana desa yang sudah pasti yang diplotkan oleh pemerintah pusat. 

Atas kepeduliannya kepada masyarakat dan dayah, alumni SDN Lhueng Beurawe, Labuhan haji ini, kembali mencalonkan diri pada pemilu tahun 2004 dan alhamdulilah terpilih lagi menjadi anggota DPRK Aceh Selatan kedua kali secara berturut-turut pada periode 2004-2009.

Meski sudah 10 tahun menjadi wakil rakyat di Aceh Selatan (1999-2009), diakuinya sangat banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Persoalan keberlangsungan hidup dayah-dayah kecil di gampong-gampong banyak yang tak tertangani, karena APBK daerah sangat terbatas. Kondisi itu sangat miris baginya, namun tak bisa berbuat banyak karena itulah fakta yang dialaminya.  

Selepas dari parlemen, sejak tahun 2010 hingga 2017, suami Hj Maulida Al Waly ini tetap mengurus ummat dengan menjadi pimpinan MPU Aceh Selatan dan juga memimpin Dayah Serambi Mekkah (2012-2016).

Setelah melepaskan Ketua MPU Aceh Selatan,  tahun 2017 hijrah ke Banda Aceh menjadi anggota MPU Aceh. Namun, tidak lama di sana tahun 2018, menantu alm Buya H Natsir Waly ini diajak oleh Ketua DPW Aceh Tgk H Amri M Ali untuk memperkuat caleg di dapil 9 Aceh (Abdya, Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil). Maka, harus mengundurkan diri karena mencalonkan diri jadi caleg anggota DPR Aceh periode 2019-2024.

Tgk H Attarmizi Hamid.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Perjuangan ayah tiga anak ini untuk merebut satu kursi parlemen Aceh berhasil. Dari sembilan kursi yang diperebutkan, mantan Ketua PAC PPP Labuhan Haji tahun 1999-2004 berhasil duduk di kursi ke-7. Sedangkan Kursi 8 dan 9 diraih Safaruddin dari partai Gerindra, dan Hendri Yono dari partai PKPI.

Kini, setelah setahun lebih masuk gelanggang besar sebagai Anggota DPR Aceh, banyak hal yang dipelajarinya. Tantangan di DPR Aceh lebih berat dan dinamikanya sangat komplek, sehingga dia harus pandai membawa diri dalam perahu PPP yang hanya enam kursi itu.

Meski gelombang lebih besar, pengalamannya menjadi anggota DPRK Aceh Selatan selama 10 tahun,  bagi mantan Wakil Ketua DPC PPP Aceh Selatan ini pasti bisa membawa diri dengan mengikuti komando Fraksi PPP yang digawangi oleh Ihsanuddin MZ yang kaya dengan pengalaman beroganisasi.

Walau pun kini berada di Komisi 1, bidang pemerintahan dan Hukum, keinginannya untuk mensejahterakan pesantren, dayah, guru ngaji dan kaum dhuafa tak pernah berhenti. Dana pokir APBA yang diperjuangkan oleh dirinya akan diarahkan ke sana.

Ditengah perjuangan anggaran dan dinamika pergulatan politik antara eksekutif dan legislatif APBA 2020, ayah tercinta Tgk H Abdul Hamid Laduni pada bulan Juni 2020 lalu dipanggil sang Khalid.

Dalam keadaan berduka, setelah ayah pergi untuk selama-lamanya, Wakil Ketua DPW PPP Aceh yang membidangi agama ini, harus mengambil estafet kepemimpinan dayah. Bila sebelumnya, sebagai dewan guru, maka sejak Juni lalu mengemban tugas baru  sebagai Pimpinan Dayah Darul Wustha, Labuhan Haji.

Tgk H Attarmizi foto bersama Istri Maulida Al Waly dan tiga anaknya, Muhammad Ilham Ghaffar Hamid (belakang), Muhammad Faizal Hadzieq Hamid (tengah) dan Muhammad Nawwaful Ahda Hamid. Foto/Dok/Tgk H Attarmizi.

Kini, dayah yang diawali dari MTI itu sudah beberapa kali direhap dan dilakukan perluasan memiliki santri sebanyak 700-an. Setelah 30-an tahun dayah lahir dan mendidik para santri, banyak alumni yang sudah mendirikan dayah  di  berbagai daerah, baik di Aceh Selatan, Abdya sampai ke Nagan Raya.

Meski rentang jarak hampir 400 km antara Banda Aceh – Labuhan Haji, Tgk Tarmizi selalu memonitor perkembangan dayahnya yang kini dimanajeri oleh adik-adiknya dan dibantu sejumlah saudara-saudaranya.

Sejak berkeluarga dengan Maulida Al Waly putri alm Buya H Natsir Waly pada tahun 2002, putra pertama dari empat bersaudara ini, dikarunia tiga anak semuanya laki-laki, masing-masing; Muhammad Ilham Ghaffar Hamid [16], Muhammad Faizal Hadzieq Hamid [11] dan Muhammad Nawwaful Ahda Hamid [9].

Anak yang tua, Ilham Ghaffar Hamid akan melanjutkan kuliahnya  ke Universitas Al Azhar, Kairo. Alumni SMAN 1 Labuhan Haji  dan Pesantren Darussalam Al Waliyah, Pimpinan Buya H Jamaluddin Waly ini akan berangkat ke Mesir dalam waktu dekat ini. Sedangkan adik-adiknya masih duduk di bangku sekolah dasar yang baru setahun ini pindah ke Banda Aceh.

Disinggung bagaimana dengan suasana masa pandemi virus corona di kampungnya, apa berpengaruh kepada santrinya. Sampai sekarang, diakuinya, di daerahnya aman-aman saja alias belum terjangkit virus corona.

“Alhamdullilah sampai sekarang belum ada. Santri belajar seperti biasa dan petani tetap ke sawah. Tapi, tetap was-was dan protokol kesehatan juga ada. Mudah-mudahan di sana tetap tidak ada covid-19. Setiap waktu sholat kami berdoa dan habis shalat magrib kami bersamadyah untuk alm ayah dan minta jauh dari semua marabahaya,”tutur ayah Muhammad Nawwaful Ahda Hamid  ini bersyukur.

[helmi hass]

 

Iklan Covid-19 Aceh Timur

Komentar

Loading...