Tetap Ibadah Dalam Kondisi Apapun

Tetap Ibadah Dalam Kondisi Apapun
Ilustrasi

GARIS besarnya, ibadah itu terbagi kepada dua kategori, yakni ibadah mahdhah dan ibadah ghair mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah, seperti shalat, shaum, ibadah haji, membaca al Qur’an, dan zikir. Sementara ibadah ghair mahdhah yakni ibadah yang tidak langsung berhubungan dengan Allah, contohnya sedekah, berakhlak baik, sopan satun, tidak menyakiti perasaan orang lain, dan sebaginya. Dengan kata lain, ibadah ghair mahdhah merupakan ibadah yang bersifat sosial-kemanusiaan.

Baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghair mahdhah harus kita laksanakan dengan berimbang. Namun dalam kenyataannya, sebagian dari kita masih banyak melakukannya dengan tidak berimbang. Ada orang yang begitu rajin dan tekun melaksanakan ibadah mahdhah, namun ia tak begitu menghiraukan ibadah ghair mahdhah.

Shalat wajib dan sunat ia laksanakan, begitu pula dengan ibadah shaum, umrah, dan ibadah haji, namun ia tak peduli dengan kehidupan di sekitarnya. Ada pula orang yang begitu semangat melaksanakan ibadah sosial-kemanusiaan, ia memiliki kepeduliaan yang tinggi terhadap kemanusiaan, apapun ia lakukan demi membantu setiap orang yang membutuhkan bantuannya, namun ia tak begitu menghiraukan ibadah mahdhah. Shalat, shaum, umrah, dan haji meskipun secara materi dan fisik sudah mampu, ia lewatkan begitu saja. 

Dalam hal ibadah mahdhah, dengan alasan kesibukan masih banyak orang yang berani meninggalkannya, ibadah shalat misalnya. Dengan berbagai alasan, sampai saat ini belum semua orang yang mengaku beragama Islam melaksanakannya. Kesibukan yang menyita waktu, rata-rata menjadi alasan utamanya. Padahal, sesibuk apapun, kita harus tetap melaksanakannya. Apapun kesibukan kita, tak ada satu pun dalil yang dapat dijadikan sandaran untuk menjadikan diri kita meninggalkan ibadah mahdhah yang bersifat individual seperti ibadah shalat tadi.

Kelak, ketika kita dihisab Allah, dan ditanya mengenai alasan kita tak melaksanakan ibadah, ada orang yang mengajukan alasan, “Ya Rabbi, aku tak bisa melaksanakan ibadah kepada-Mu, karena aku orang kaya,  terlalu sibuk mengurus harta-hartaku yang begitu banyak.”

“Apakah kamu tidak pernah mendengar kisah Nabi Sulaeman a.s. yang hartanya lebih banyak daripada hartamu? Ia tak pernah meninggalkan ibadah kepadaku.” Demikian jawab Allah swt.

Ada pula orang yang mengemukakan alasan tak beribadah kepada Allah karena terhalang penyakit yang ia derita. Kemudian Allah menjawab atas alasan orang tersebut  “Apakah kamu tak pernah memperhatikan Nabi Ayub a.s. yang telah aku uji dengan penyakit berat sampai ia diusir dari kampungnya, karena penyakitnya dikhawatirkan menular kepada orang lain? Ia tetap beribadah meskipun dalam kondisi menderita penyakit yang parah.”

Hamba Allah lainnya menjadikan penderitaan, diperlakukan tak adil selama di dunia, hak hidupnya dirampas oleh penguasa dan orang lain, dan kemiskinan sebagai alasan tak sempat melakukan ibadah kepada-Nya. Allah menjawab atas alasan orang tersebut, “Apakah kalian tak pernah mendengar dan memperhatikan penderitaan Nabi Yusuf a.s. Ia bernasib seperti kamu, dizalimi, diasingkan, dan hidup menderita di penjara. Ia lebih menderita jika dibandingkan dengan kamu, namun ia tetap beribadah kepada-Ku.”

“Ya Rabbi, aku tak bisa beribadah kepadaku karena kehidupanku sangat miskin. Waktu kehidupanku habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharianku.” Demikian alasan hamba Allah yang lainnya.

“Tidakkah kau memperhatikan Nabi Isa a.s putra Siti Maryam. Ia tak memiliki harta apapun, bahkan ia tak memiliki keluarga. Namun, ia tetap beribadah dan taat kepada-Ku.” Jawab Allah kepada orang tersebut.

Dialog tersebut merupakan kutipan dari kisah yang terdapat dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al ‘Asqolany, halaman 27. Dari rangkaian kisah  tersebut dapat diambil satu pelajaran, kita tak memiliki alasan apapun untuk tidak melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Contoh yang paling dekat, ibadah shalat. Tak ada alasan yang dapat kita kemukakan kelak di akhirat jika kita selama di dunia ini meninggalkannya.

Allah telah memberikan kewajiban ibadah kepada kita sesuai dengan kemampuan kita. Mustahil Allah memberikan beban di luar batas kemampuan kita untuk melaksanakannya.

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”  (Q. S. Al-Baqarah : 286).

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Q. S. Al-Baqarah : 185).

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (Q. S. Ath-Thagabun : 16).

Harus kita akui, begitu banyak godaan ketika kita akan melaksanakan ibadah kepada-Nya. Jika bukan karena hidayah dan pertolongan-Nya, tak mungkin kita dapat melaksakannya. Oleh karena itu, selayaknya kita selalu memohon pertolongan kepada-Nya agar diberi kekuatan dan ketetapan hati untuk istikamah dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya.*

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kp.Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

iklan flayer Gub3

Komentar

Loading...