Tersandera Makanan

Tersandera Makanan
Ilustrasi.net

TAK DAPAT dipungkiri, pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Tanpa pangan, kehidupan manusia akan berakhir dengan kematian. Pangan yang berhubungan dengan makanan merupakan kebutuhan primer yang diperjuangkan semua orang.

Keamanan dan kenyamanan hidup manusia terletak pada tiga  unsur, yakni tersedianya makanan, terjaminnya kesehatan dan keamanan. Jika pada suatu hari, seseorang memiliki persediaan makanan untuk hari itu, seraya jiwa raganya sehat, dan hidupnya dalam keadaan aman dari gangguan kejahatan dan bencana, maka pada hari itu dunia dan seisinya serasa milik sendiri.

Kebutuhan akan pangan yang berupa makanan merupakan sunatullah (ketetapan Allah) yang tak bisa dibantah oleh siapapun. Ketika Nabi Adam a.s  dan Siti Hawa a.s  ditempatkan di sorga, yang pertama Allah persilakan kepada mereka berdua adalah mengkonsumsi makanan dan minuman sorga.

Secara politis, pangan juga menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya. Dalam struktur pengelolaan negara di seluruh dunia, didalamnya sudah pasti ada lembaga atau kementerian yang mengurus masalah pangan. Istilah lembaga atau kementeriannya bisa berbeda-beda, tapi intinya sama,yakni mengurus urusan logistik alias kebutuhan makanan bagi rakyatnya.

Masih secara politis, dalam kampanye-kampanye pemilihan kepala daerah maupun presiden, ketersediaan dan kemudahan untuk memperoleh pangan selalu menjadi janji-janji politik yang ditawarkan para calon pemimpin kepada khalayak.  Hampir tak ada seorang calon pemimpin pun yang tidak menjadikan kemudahan memperoleh kebutuhan pangan sebagai materi kampanyeunya.

Dari sudut pandang ekonomi, bisnis makanan merupakan bisnis yang tidak akan pernah mati. Selama manusia ada, selama itu pula bisnis makanan akan berjalan. Kemudian dari sudut tata boga, kreasi menu makanan akan terus berlanjut mengikuti perkembangan zaman dan selera orang-orang. Hampir setiap hari selalu muncul menu-menu baru dengan rasa dan penyajian yang mengundang selera orang untuk mencoba.

Dari sudut pandang sosial-spiritual, memberikan bantuan berupa pangan/makanan menjadi salah satu tolak ukur kedermawanan seseorang. Salah satu ciri dari ketaatan seseorang terhadap ajaran agama Islam diukur dari kedermawanannya dalam melepaskan rasa lapar yang diderita saudara dan tetangganya.

Makanan juga menjadi salah satu indikator kesempurnaan keimanan seseorang. Meskipun seseorang rajin melaksanakan ibadah shalat, shaum sunat, tadarus al Qur’an, dan ibadah mahdhah lainnya, semuanya masih dinilai belum sempurna, bahkan nilai-nilai ibadahnya tersebut akan hilang, manakala ia membiarkan saudara dan tetangganya hidup dalam kelaparan, dan ia mengetahui dan mampu untuk menolongnya.

Makanan juga dapat menjadi benteng dari panasnya api neraka manakala makanan yang kita miliki benar-benar diperoleh dengan cara yang halal, tidak kemaruk dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsinya. Memberikan makanan kepada saudara atau tetangga yang membutuhkan akan menjadi benteng kokoh yang bisa menghalangi panasnya api neraka. Jangan malu untuk bersedekah memberikan makanan meskipun dengan sebiji kurma, sebab sedekah makanan yang kita berikan dengan ikhlas akan mampu memadamkan panasnya api neraka. Demikian sabda Rasulullah saw.

Dari sudut pandang tasawuf, memberikan makanan menjadi salah satu tolak ukur kemuliaan akhlak seseorang. Kelembutan hati seseorang dapat dilihat dari cara ia mengkonsumsi makanan.  Jika ia sederhana dalam mengkonsumsinya seraya tidak lupa membagikan makanan tersebut kepada saudara dan tetangganya, sudah dapat dipastikan dia merupakan orang yang berhati mulia.

Suatu ketika, orang-orang mempersoalkan hukum mendengarkan dan memainkan musik di hadapan Jalaluddin Rumi, salah seorang ulama sufi. Pertamanya, ia dia diam mendengar orang-orang yang memperdebatkan hukum memainkan dan mendengarkan musik. Namun karena perdebatan tak berujung pada konklusi apalagi solusi, ia mengajak orang-orang tersebut untuk merenungkan perkataannya. 

“Menurutku, hukum mendengarkan dan memainkan musik itu menjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama ahli fiqih. Tapi dari sudut pandang keilmuanku, ada satu musik yang sudah jelas haramnya. Musik tersebut adalah beradunya sendok dan garpu di atas piring ketika kalian makan dengan lahap sampai mengeluarkan suara seperti musik yang bertalu-talu,  kemudian suara tersebut  terdengar oleh tetanggamu yang kelaparan, seraya kalian tidak mau berbagi makanan dengan tetanggamu yang kelaparan tersebut.” Deikian kata Rumi.

Dari sudut pandang spiritual,  berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan menjadi salah satu kunci diterimanya segala ibadah kita. Makanan halal yang kita konsumsi akan menjadikan ibadah kita diterima, jeritan do’a kita didengar dan dikabulkan Allah. Sebaliknya, makanan haram yang kita konsumsi selain akan menjadikan ibadah kita ditolak, do’a kita tak dikabulkan, juga akan menjadi kunci pembuka panasnya siksaan api neraka.

Ajaran Islam sangat mejunjung tinggi asas kebutuhan manusia akan  makanan dan minuman. Puluhan ayat dalam al Qur’an secara khusus mempersilakan kita untuk makan dan minum disertai dengan hukum-hukumnya. Dalam al qur’an juga terdapat pesan sosial dan spiritual dari makanan, yakni kita tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dan harus mau berbagi makanan dengan orang lain, baik kepada saudara maupun tetangga.

Dalam hal mengkonsumsi makanan, ajaran Islam sangat menganjurkan agar kita sederhana dalam mengkonsumsinya, sekalipun makanan yang kita konsumsi halal hukumnya. Sayangnya, kebanyakan dari kita selalu kemaruk dan berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Kita jarang berhenti makan sebelum perut terasa keras dan suara sendawa keluar dari tenggorokan.

Tak dapat dipungkiri, Ramadhan dan Idul Fitri selalu identik dengan penyajian berbagai makanan khas. Selama bulan Ramadhan hampir semua stasiun televisi menyajikan liputan acara kuliner khas untuk berbuka puasa. Demikian pula dengan menjelang perayaan Idul Fitri penyediaan makanan khas dan aneka kue menjadi wajib tersedia di atas meja. 

Parahnya, banyak orang yang memaksakan diri untuk menyediakan menu khas pada Idul Fitri dengan dalih hanya setahun sekali. Tak sedikit orang yang memaksakan diri berutang demi merayakan Idul Fitri, kemudian pusing membayarnya setelah Idul Fitri usai.   

Kehidupan Manusia-manusia modern pada saat ini sudah “terjajah” dan tersandera dengan aneka makanan. Hatinya selalu menggebu-gebu ingin merasakan menu baru yang iklannya dilihat di media sosial atau televisi. Hukum halal-haram, nilai gizi, dan keamanan pangan terkadang dilupakan, yang terpenting selera keinginan makannya terpenuhi. 

Orang yang tersandera makanan tak akan bisa berhenti makan sebelum makanan yang diinginkannnya  masuk ke dalam lambungnya. Ia ingin sekali memuaskan nafsu makannya sekalipun makanan yang ia konsumsi mengancam kesehatannya. Prinsip ” yang penting enak”  menjadi pola hidup orang-orang yang tersandera makanan.

Rasulullah saw  senantiasa mewanti-wanti agar kita tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Kemampuan mengendalikan diri dan kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan dan kemampuan diri untuk berbagi makanan dengan orang lain merupakan salah satu indikator dari keberhasilan ibadah puasa. Kedermawanan kita untuk mau berbagi dengan sesama merupakan salah satu bukti bahwa kita benar-benar telah meraih “fitri”, kesucian diri selepas Ramadhan.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam.Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...