Breaking News

Tentang Shalat Kita

Tentang Shalat Kita
Ilustrasi.net

SEBELUM menjadi seorang sufi, Syaikh Abul ‘Abbas al Juwaliqi selain memiliki aktivitas mengajar ilmu-ilmu agama, ia pun berprofesi sebagai pembuat karung. Karena kualitas produk karungnya yang bagus disertai harga yang memadai, produknya terkenal dan sangat laku di pasaran.

Pada suatu ketika, ada beberapa orang yang membeli karungnya, namun tidak secara kontan. Ia pun memenuhi permintaan mereka setelah mereka berjanji akan membayarnya dalam waktu tertentu. Saking banyaknya  pembeli, ketika akan mencatat jumlah  barang dagangannya,  ia lupa orang-orang  yang mengambil barang dagangannya pada hari itu.

Tak berselang lama, waktu shalat datang. Seperti kebiasaannya, ia segera menutup lapakya, dan bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat. Demikian pula dengan murid-muridnya, mereka sudah terlebih dahulu berada di dalam masjid. Mereka terbiasa menanti gurunya untuk shalat berjamaah.

Setelah iqamat, ia pun memimpin shalat berjamaah. Para santri dan beberapa orang masyarakat di sekitar masjid mengikutinya. Di tengah-tengah melaksanakan ibadah shalat, terlintas dalam pikirannya, aktivitas dagang yang ia lakukan. Dari mulai membuka toko sampai transaksi yang terjadi datang berhamburan dalam pikirannya, bahkan ia pun bisa mengingat orang yang mengambil karung dan belum membayarnya. Padahal sebelum melaksanakan ibadah shalat, ia benar-benar lupa akan jumlah orang yang belum membayar karungnya.

Setelah selesai melaksanakan ibadah shalat, ia berkata kepada salah seorang muridnya yang biasa membantu di tokonya, “Ketika melaksanakan shalat tadi, terlintas di pikiranku, kepada siapa saja hari ini aku menjual karung-karungku, dan siapa saja yang belum membayarnya. Cepat tolong dicatat, ya!”

Sebelum melaksanakan perintah sang guru, muridnya tersebut berkata, “Baiklah. Maaf, wahai guru, jadi ketika Anda tadi berdiri di depan kami itu sedang melaksanakan shalat, menjadi imam bagi kami, atau sedang berjualan karung di toko?” (H.M.D. Dahlan & Syihabudin, Pengalaman Ruhani Kaum Sufi, 2001 : 134).

Pertanyaan muridnya tersebut sontak membuat jiwanya bergetar, bukan marah, namun ia menyadari betapa urusan duniawinya masih ia bawa ketika melaksanakan ibadah shalat. Ketika melaksanakan ibada shalat yang seharusnya benar-benar fokus menghadap Allah, namun dalam kenyataannya masih membayangkan segala aktivitas yang dilakukan sebelum melaksanakan ibadah shalat.

Disadari atau tidak, pelaksanaan ibadah shalat kita lebih parah daripada yang telah dilakukan  Syaikh Abul ‘Abbas al Juwaliqi. Betapa tidak, disamping masih kurangnya kekhusyukan, kita pun masih jarang melaksanakan ibadah shalat pada awal waktu. Kalaupun masih bisa shalat pada awal waktu, tergesa-gesa dalam melaksanakannya sering kita lakukan.

Membuat program kerja, berbelanja, bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya ketika melaksanakan ibadah shalat sering kita lakukan. Lisan kita membaca do’a-do’a yang harus dibaca ketika melaksanakan ibadah shalat, namun hati kita, pikiran kita melayang mengingat akan aktivitas yang harus kita lakukan. Pekerjaan di kantor, perdagangan di toko, atau aktivitas lainnya datang silih berganti menemani ibadah shalat kita.

Jika kita benar-benar merenungkannya, dari sekian banyak rakaat shalat yang sudah  kita laksanakan, entah berapa jumlah rakaat shalat kita yang benar-benar khusyuk dan lillahi ta’ala. Malahan, jangan-jangan ibadah shalat kita hanya sekedar melaksanakan rutinitas belaka. Sekedar memenuhi kewajiban yang nihil kekhusyukan dan pengaruhnya terhadap kehidupan.   

Kita sering melaksanakan ibadah shalat sebatas menggugurkan kewajiban saja. Hal terpenting sudah melaksanakan kewajiban ibadah shalat pada waktunya, tanpa memikirkan kekhusyukan dan pengaruhnya terhadap kehidupan. Secara fiqih kita begitu apik memperhatikan syarat sah dan rukun shalat, namun harus diakui, kita masih lemah dalam hal kekhusyukan hati ketika melaksanakannya.

Fisik kita berada di atas sajadah atau di masjid, lisan kita berkomat-kamit membaca do’a mengiringi setiap gerakan shalat, namun hati kita tidak fokus. Hati dan pikiran melanglang buana memikirkan perkara lain, memikirkan aktivitas dan berbagai masalah yang tengah dihadapi.

Mari kita merenungkan kembali pelaksanaan ibadah shalat kita.  Sudah saatnya kita meningkatkan kualitas ibadah shalat sebelum ajal menjemput kita. Sangatlah merugi jika ibadah shalat kita tak berarti apa-apa di hadapan Allah.

Kita harus semakin meyakinkan diri, ibadah shalat merupakan amal pertama yang Allah periksa dari diri kita. Ibadah shalat menjadi kunci penentu keselamatan kita di akhirat kelak. Jika ibadah shalat kita asal-asalan, kemudian tak berarti apa-apa di hadapan Allah, lalu amal apa yang akan menjadi penyelamat jiwa kita dari pedihnya azab Allah?

Sejatinya, ibadah shalat merupakan waktu yang tepat untuk mengingat Allah. Waktu yang tepat untuk memi’rajkan jiwa kita, taqarrub kepada-Nya, sebab ibadah shalat merupakan mi’rajnya kaum mukminin. Jika ketika melaksanakan ibadah shalat,  kita malah lebih banyak menghadirkan lintasan-lintasan ingatan akan aktivitas dunyawiyah, kapan lagi waktu yang tepat bagi kita untuk mengingat Allah?

“Sungguh aku ini Allah. Tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Q. S. Thaha : 14). *** 

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut  Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...