Tentang Azan

Tentang Azan
Ilustrasi.net

UMAT Islam Indonesia tengah digegerkan dengan modifikasi azan yang sengaja diviralkan di media sosial. Modifikasi yang dilakukan begitu sensitif, “Hayya ‘alal Jihad”, mari kita menuju jihad. Tentu saja hal ini mengundang reaksi dari kaum muslimin pada umumnya,  sebab penambahan ini jelas-jelas tidak ada contoh dari Rasulullah saw.

Berkenaan dengan azan ada beberapa hal yang harus kita pahami. Pertama, azan itu merupakan panggilan untuk melaksanakan ibadah shalat. Mengumandangkan azan merupakan ibadah yang lafaz dan tata caranya telah dicontohkan Rasulullah saw. Oleh karena itu, lafaz azan tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi.

Bilal bin Raba’ah, muazin pertama, mengumandangkan azan dengan lafaz yang diajarkan Rasulullah saw. Lafaz-lafaz azan tersebut tidak pernah diubah sampai Rasulullah saw wafat, dan berlaku sampai saat ini.

Kita tidak diberi keleluasaan oleh Rasulullah saw untuk menambah atau mengurangi lafaz azan. Kalaupun boleh menambah atau mengurangi, para sahabat yang masa hidupnya lebih dekat dengan Rasulullah saw lebih berhak menambah atau menguranginya daripada kita.

Pada era kepemimpinan Khalifat al Rasyidin, empat sahabat Rasulullah saw yang utama, umat Islam sering menghadapi serangan,  baik dari kaum munafik, orang-orang yang murtad, maupun dari kalangan nonmuslim. Peperangan pun sering terjadi, keselamatan umat Islam pun banyak terancam, namun dalam riwayat perjuangan dan kepemimpinan mereka tak ada catatan sejarah mengajak jihad atau berperang melalui lantunan suara azan. 

Mereka tak berani menambah atau mengurangi lafaz azan. Padahal secara logika, kalau Rasulullah saw pernah memberikan keleluasaan untuk merubah lafaz azan,  maka empat sahabat utama ini pasti akan melakukannya dan menginformasikannya kepada seluruh umat.

Kedua, Penambahan lafaz azan yang dibolehkan. Seperti telah disebutkan, kita tidak diberi keleluasaan untuk memodifikasi lafaz atau kalimat-kalimat dalam azan, kecuali kalimat yang pernah dicontohkan Rasulullah saw.

Berkenaan dengan tambahan kalimat atau lafaz dalam azan, hanya terdapat dua kalimat yang boleh ditambahkan,  dan  dicontohkan oleh Rasulullah saw.  Kedua kalimat tersebut adalah “tatswib”.  Sederhananya, kalimat ini adalah ucapan “ash shalatu khairum minan naum” (shalat lebih baik daripada tidur) yang diucapkan setelah kalimat “hayya ‘ala shalah”. Kalimat tambahan ini hanya diucapkan pada azan shubuh.

Abu Mahdzurah berkata, “Ya Rasulallah, ajarilah aku tata cara azan”. Kemudian Rasulullah mengajariku azan, dan ia berpesan, jika azan untuk shalat shubuh hendaklah kamu mengucapkan,   ‘Ash Shalatu Khairum Minan Naum’ (2X),  Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah” (H. R/ Ahmad dan Abu Daud).

Selain tambahan “tatswib”, dalam kondisi tertentu, Rasulullah saw memperbolehkan menambah kalimat “shallu fii buyutikum” atau “alaa shallu fii rihaalikum”. Kalimat ini dikumandangkan ketika ada peristiwa besar yang menghalangi umat Islam,  yang menyebabkan umat Islam tidak dapat mengerjakan ibadah shalat berjamaah di masjid.

Peristiwa besar yang dimaksud misalnya hujan lebat disertai angin ribut/badai, cuaca yang sangat dingin yang benar-benar menghalangi umat untuk shalat di masjid, atau musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini jika ada fatwa kita tidak boleh keluar rumah.

“Ibnu Umar pernah mengumandangkan azan  ketika shalat di waktu malam yang dingin dan berangin. Kemudian ia mengucapkan ‘Alaa shollu fir rihaal’ (shalatlah di rumah kalian).

Setelah selesai mengumandangkan azan, ia memberikan penjelasan,”Ketika cuaca malam sangat dingin, dahulu Rasulullah saw memerintahkan muazin untuk mengucapkan ‘Alaa shollu fi  rihaal’ (hendaklah kalian shalat di rumah kalian).” (H. R. Muslim dan Abu Daud)

Adapun teknik pengucapannya, Imam Nawawi dalam karyanya, “Syarah  Shahih Muslim” Juz V : 207) berpendapat, kalimat “Alaa shollu fir rihaal” boleh diucapkan di tengah-tengah azan, karena terdapat dalil untuk melakukannya. Akan tetapi, lebih baik diucapkan pada akhir azan, agar lantunan azan yang sudah biasa diucapkan tetap ada.”

Dari kitab-kitab hadits, kitab-kitab fikih yang pernah saya baca, tak ada lagi tambahan kalimat azan selain tambahan yang telah disebutkan tadi. Abu Mahdzurah menjelaskan, kalimat pokok dalam azan yang biasa kita kumandangkan hanya sembilan belas kalimat. “Nabi saw mengajarkan azan kepadanya sebanyak sembilan belas kalimat” (H. R. al Khamsah).

Selain harus diyakini tak ada tambahan lain dalam mengumandangkan lafaz azan, kita pun harus meyakini, mengumandangkan azan, mendengarkan, dan menjawabnya  merupakan ibadah. Disadari atau tidak, kita sering menyepelekan kumandang azan  dan menjawabnya. Padahal, di dalamnya banyak keutamaan pahala,  baik bagi muazin maupun bagi orang yang mendengarkan dan menjawabnya.

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat memberi shalawat terhadap shaf pertama, sedang muazin diampuni dosanya sepanjang suaranya, ucapannya dibenarkan oleh para pendengarnya, baik dari kalangan yang basah maupun yang kering,  dan ia akan beroleh pahala sebanyak orang yang ikut shalat bersamanya” (H. R. Imam Ahmad dan Nasa’i).

Satu hal lagi yang selayaknya tidak kita tinggalkan adalah berdo’a setelah usai mendengar kumandang azan.  Rasulullah saw menjamin akan memberikan syafaat kepada orang-orang yang mengucapkan do’a setelah azan.

Rasulullah saw menjelaskan, salah satu saat mustajab atau terkabulnya do’a-do’a kita adalah do’a yang dipanjatkan antara azan dan iqamat.

“Tidak akan ditolak, do’a yang dipanjatkan antara azan dan iqamat.” (H. R. Abu Daud, Nasa’i, at-Tirmizi).

Imam at Turmuzi menambahkan, diantara para sahabat ada yang bertanya kepada Rasulullah saw, “Do’a apa yang harus kami panjatkan, ya Rasulallah?”

“Mohonlah ampunan kepada Allah dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.” Demikian jawab Rasulallah saw. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Csiurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...