Tegukan Terakhir Kopi, Kesunyian, Puisi

Tegukan Terakhir Kopi, Kesunyian, Puisi
Ilustrasi/Tia Jupe

Lewat catatan pendek ini saya ingin berharap; esai penutup ini bukan esai terakhir saya. Meski diam-diam saya selalu ingin mengakhiri petualangan saya menjelejahi belantara hutan aksara, berjalan diam-diam dalam keterasingan, membaca buku dan menulis karya sastra, cerpen dan puisi.

Seteguk Kopi Emak saya baca di antara keinginan-keinginan berhenti menulis dan membaca. Sebab, saya selalu merasa kekuatan imajinasi dalam karya sastra —setidaknya yang saya baca— tidak mampu melampaui peristiwa sehari-hari, baik yang terjadi dan menimpa masyarakat "bawah", maupun irama hidup dan bahkan narasi-narasi yang dibikin oleh perwakilan rakyat dan umat, DPR dan ustaz dadakan. Lihat saja di telivisi dan media-media sosial narasi-narasi yang mereka sampaikan yang mampu menggerakkan ratusan bahkan ribuah umat untuk mencintai sekaligus membenci yang tidak sejalan dan "sepikiran".

Disaat-saat seperti itu, terkadang saya membayangkan teks-teks laporan pertanggung-jawaban ditulis dalam bentuk puisi dan teks pidato ustaz-ustaz dadakan ditulis oleh penyair dan dibacakan oleh deklamator. Misalnya:

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang dihormati angin harapan. Sidang paripurna akan segera kami gelar dengan materi nyanyian orang-orang lapar. Sebelum sidang dimulai, Mari kita sejenak berdoa dan menikmati aneka macam kue yang tersedia di atas meja anggota sidang terhormat.  Anggota sidang, mohon sejenak abaikan materi yang berbunyi seperti di bawah ini:

Ibu
di tepian kerontang ladangku
wajahmu menjelma hujan
turun dari langit hatimu

Aku bergegas dan berteduh
di bawah rimbun putih rambut doamu

Kuhirup aroma melati dari kelopak matamu
hingga segala keluh dan rintihan tak lagi pilu.

Ibu
kau cakrawala di atas bumi nestapaku
sepasang matamu menjelma pijaran bintang-bintang
saat kujahit sobekan-sobekan kain jiwaku
dengan helai sarung sembahyangmu.

Anggota sidang yang mulia, mohon abaikan teks di atas, karena teks di atas dapat merusak selera makan saudara yang tengah menikmati kue. Apalagi, teks di atas hanya karya fiksi.  Sementara tugas kita adalah memikirkan dan menelikung masalah-masalah yang berkaitan dengan nasib rakyat, tugas kita adalah menelikung anggaran:

Puisi di atas tentu saja bukan karya anggota dewan kehormatan sidang paripurna apalagi ustaz. Tidak. Puisi di atas saya kutip dari puisi Tika Suhartatik, "Hujan Ibu". Sebagaimana juga penyair, yang tidak akan sanggup melakukan hal-hal "senonoh" bahkan salah seorang artis senior yang entah dari mana belajar ilmu agama, tiba-tiba menulis dan membaca puisi berisi tuntutan kepada Tuhan.

Tidak. Sekali lagi, penyair tidak akan bisa membuat puisi atau bahkan mengikuti alur dan narasi anggota rakyat yang memiliki kemampuan memanipulasi kalimat dan ekspresi dirinya yang, cukup berhasil meyakinkan rakyat bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata demi rakyat. Sementara penyair, selamanya berhati-hati dengan kata dan kalimat, terlebih dengam kaidah piranti-piranti puitika. Sementara anggota DPR akan lebih berhati-hati saat membuat laporan anggaran, sehingga lebih imajinatif daripda puisi itu sendiri.

Sayangnya, "Seteguk Kopi Emak" bukanlah buku laporan sehingga saya atau penyair tak perlu repot-repot berpikir dan atau mencari cara bertemu anggota dewan, mengikuti sidang paripurna dan melaporkan nasib rakyat kecil sebagaimana digambarkan penyair Suhartatik dalam puisi-puisinya.

Oleh karena saya yakin bahwa buku ini apalagi isinya akan dibacakan dalam sidang paripurna DPR dan dalam majelis-majelis pengajian, maka sudah sewarnya puisi-puisi dalam buku "Seteguk Kopi Emak" dihayati sambil menikmati kopi, apalagi kopi itu dibuat langsung oleh orang yang paling dicintai, Emak (ibu).

Kopi senantiasa menjadi tema menarik dinarasikan baik dalam quotes apalagi puisi. Saya tidak paham, kenapa banyak penyair, tak terkecuali penyair Suhartatik suka menjadikan kopi sebagai idiom dalam puisi-puisinya. Pahit dan hitam kopi seolah menjadi hukum tak tertulis bagi penyair bahwa: hitam dan pahit kopi adalah gambaran derita, kehilangan, dan kenangan pahit.

Saya tidak tahu pasti, apakah penyair tahu, setidaknya, merasakan kehidupan seorang petani kopi yang pada saat menanam, merawat dan memetiknya selalu melakukannya dengan suka ria sekalipun tahu bahwa harga kopi ketika di tangan tengkulak tidak seindah dan sekaligus sesendu puisi.

Akhirnya, saya memang mengakhiri esai ini. Apalagi kopi dari emak Suhartatik tinggal seteguk, mari nikmati kopi "Seteguk Kopi Emak".

Salam, Juli 2020

 

Mahwi Air Tawar, lahir di Madura. Redaktur Majalah Sastra Horison ini menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya yang sudah terbit di antaranya, Blater, Karapan Laut, dan Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi.

Komentar

Loading...