Tauhid

Tauhid
Ilustrasi Tauhid. Foto: Wordpress.com

AKU sedang mencari Tuhan.” Begitu jawabannya ketika ditanya orang-orang yang berpapasan dengannya. Sambil membawa lentera, semalaman sampai pagi hari dia berkeliling ke pasar dan ke tempat-tempat kerumunan orang.

Sekelompok orang yang kebetulan berpaham atheis menertawakannya. “Hai ada apa dengan Tuhanmu? Apakah ia tersesat dan tahu jalan pulang?

“Barangkali dia sedang bersembunyi karena ketakutan sama kita? Atau ia sedang bepergian, dan kemudian memutuskan pindah rumah?” Sahut yang lainnya.

Sang Pencari Tuhan tersebut tiada lain adalah Friedrich Wilhem Nietczche (1844 -1900), salah seorang tokoh filsafat. Entahlah, mungkin karena putus asa tidak menemukan  Tuhan yang ia cari, akhirnya ia berkesimpulan, “Tuhan sudah mati.”

Meskipun berasal dari keluarga Pendeta yang rajin membaca Injil,  sejak usia delapan belas tahun, sang Filosof ini sudah kehilangan kepercayaan kepada Tuhan (Fuad Hassan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, 1992 : 40; Karen Amstrong, A History of God, 1993 : 346, Etienne Gilson, God and Philosopy, 2002 : 168)  

Kita hentikan sampai disini kisah Nietczche yang mencari Tuhan. Ajaran agama manapun tak akan ada yang berani berpendapat seperti Nietczche. Terlebih-lebih dalam ajaran Islam, keberadaan Tuhan itu sangat sakral, Mahahidup dan Mahakekal.

Untuk meyakini wujud Allah, dalam khazanah keilmuan Islam dikenal ilmu khusus untuk mengenal-Nya yang disebut ilmu tauhid. Untuk mengkaji ilmu ini, para ulama telah menulis berbagai kajian kitab tauhid, dari kitab kecil yang sederhana sampai kitab besar yang berjilid-jilid. Di pondok-pondok pesantren, untuk tingkat pemula biasanya mempelajari Tijan Addaruri, Jauhar al Tauhid, Sulam al Taufiq, Fath al Majid, dan lain sebagainya.

Ibrahim Al-Bajury dalam karyanya Tijan Addaruri (halaman 3) menyebutkan, wajib hukumnya bagi seorang muslim mukallaf (yang sudah dewasa) untuk mengenal Allah beserta sifat-sifat-Nya. Sebagai pembelajaran awal dari tauhid, sejak kecil kita diperkenalkan oleh guru-guru mengenal sifat-sifat Allah. Para ulama memperkenalkannya dengan sebutan “Sifat Duapuluh”. Di dalamnya memperkenalkan dua puluh sifat yang melekat pada Zat Allah seperti wujud (eksistensi Allah), baqa (Mahakekal), bashirun (Maha Melihat), sami’un (Maha Mendengar), dan sebagainya.

Hal terpenting setelah kita mempelajari  ilmu tauhid adalah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Meyakinkan Allah itu Mahadekat, Maha  Penolong, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan berbagai sifat keagungan lainnya. “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q. S. Qaf : 16).

Serendah apapun kadarnya, di hati kita pasti ada keyakinan akan wujud Allah beserta berbagai sifat keagungannya. Sudahkah kita mengaplikasikan nilai-nilai tauhid tersebut dalam kehidupan keseharian kita?

Suatu ketika, Umar bin Khathtab r.a. menguji seorang budak,  Penggembala kambing. “Sudahlah, aku beli satu ekor saja dari kambing-kambing yang kamu gembalakan. Kalaupun hilang satu, toh majikanmu tak akan mengetahuinya. Jumlah yang ratusan ekor ini, kan tak pernah dihitung  setiap hari? Atau kalau mengetahui berkurang jumlahnya, katakan saja diterkam srigala!”

“Ya, majikanku tak akan mengetahui  aku telah berkhianat dan berbohong kepadanya. Tapi, apakah Zat yang menciptakan majikanku, menciptalan Anda, aku, dan kambing-kambing ini juga tidak akan mengetahui perbuatanku?  Jika Ia tidak akan mengetahui perbuatanku, aku akan menjualnya?”

Mendengar jawaban seperti itu, sahabat Umar bin Khathab terperangah, kagum akan keyakinan sang Penggembala.  Ia memeluknya sambil menangis penuh haru. Ia segera mendatangi majikan sang Budak, dan ia memerdekakan dari status budaknya.

Kembali kepada kisah pada awal tulisan ini. Kita sepakat, tidak setuju dengan perilaku Nietczche. Kita pun pasti akan membenci dan menentang keras jika pada saat ini ada orang yang melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Nietczche. Oleh karena itu, jika ada seorang muslim yang melakukan perbuatan seperti yang dilakukan sang Filosof tersebut, hukumnya sudah tergolong kepada perbuatan murtad, keluar dari ajaran Islam.

Namun demikian, dengan pikiran yang tenang dan tidak emosional, mari kita merenung sejenak. Perbuatan yang dilakukan Nietczche sebenarnya merupakan sindiran dan tamparan keras bagi perilaku keseharian kita.

Boleh saja kita membenci apa yang dilakukan Nietczche, tapi dalam praktiknya kita mengamalkan perkataan Nietczche. Sayang, kita tidak menyadari perilaku kita yang sering menganggap seolah-olah Allah itu “tidak ada”,  “tidak melihat”,  “tidak mendengar”, dan “jauh dari kita.”

Seandainya kita benar-benar menyadari Allah itu ada, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Mahadekat,  kita pasti kita tidak akan berani berbuat maksiat, melakukan korupsi, dan berbuat kejahatan lainnya. Contoh kecilnya saja, ketika melakukan ghibah (menceritakan kejelekan) orang lain, kita lebih takut didengar manusia daripada takut didengar Allah. Padahal sekalipun tidak ada orang  lain di sekitar kita, Allah tetap melihat dan mendengar apa yang kita ucapkan.

Bagi kita, bangsa yang ber-Tuhan dan beragama, tentu saja bukan menyatakan “Tuhan telah mati” seperti yang dilakukan Nietczche, tapi pernyataan sang Filosof tersebut seharusnya sudah mati di hati dan dalam kehidupan kita. Allah itu Mahahidup dan Mahakekal.

Syaikh Muhammad Nawawi, dalam karyanya Muraqat  Shu’ud al Tashdiq fi Syarhi Sulam al Taufiq (halaman 10) mengatakan, wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk menjaga marwah keislamannya dari perbuatan  yang  dapat mengeluarkan dirinya dari Islam. Salah satu perbuatan yang dapat menghancurkan marwah keislaman  seseorang adalah perbuatan murtad (mengingkari akan keberadaan Allah).

Menurutnya, terdapat tiga macam perbuatan murtad, yakni murtad akidah (tidak meyakini akan eksistensi Allah), murtad perbuatan (misalnya beribadah, memohon kepada selain Allah), dan murtad ucapan (misalnya menuduh seorang muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai orang kafir).

Kalau benar-benar disadari, negara kita itu negara bertauhid. Buktinya sila pertama dasar negara kita itu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Seandainya sila kesatu ini  benar-benar dipraktikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sangat yakin sekali negeri ini akan subur dan makmur dalam naungan rida dan ampunan  Allah Swt. Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Semoga*

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.   

Komentar

Loading...