Breaking News

Opini:

Takengon Minim Wisata Religi

Takengon Minim Wisata Religi
Sirajul Mahadi

Oleh : Sirajul Mahadi

Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa karena dapat menegakkan syariat islam berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan keistimewaan provinsi Aceh dan undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh.

Berdasarkan undang-undang tersebut, itu artinya setiap kabupaten/kota di Aceh wajib menjalankan syariat islam. Demikian juga halnya dengan Kabupaten Aceh Tengah yang juga sudah menjalankan syariat islam, hal tersebut dibuktikan dengan gencarnya penyisiran yang dilakukan oleh Polisi Wilayatul Hisbah ke tempat-tempat yang diduga sebagai sarang terjadinya khalwat dan maisir. Banyak pelanggar syariat islam di dataran tinggi Gayo yang telah ditangkap dan menjalani uqubat cambuk.

Namun, perlu kita ketahui bahwa syariat islam tidak hanya sekedar khalwat dan maisir, akan tetapi, mencakup keseluruhan dari pada aturan yang ada di dalam islam yakni aturan yang terdapat pada Alqur’an dan hadist.

Syariat islam ialah hukum atau peraturan yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat islam, seperti halnya yang telah diatur oleh Pemerintah Aceh dalam undang-undang No. 44 Tahun 1999 bahwa penegakan Islam di Aceh haruslah secara Kaffah. Kata kaffah didalam alqur’an yakni menyeluruh artinya seluruh aturan Islam harus ditegakkan. Jika sudah ditetapkan di dalam qanun Aceh bahwa syariat islam harus ditegakkan secara menyeluruh itu artinya selain khalwat dan maisir, pelanggaran syariat Islam lainnya juga harus dibasmi.

Penerapan syariat Islam ini juga seharusnya diberlakukan pada destinasi wisata yang ada di Aceh. Khususnya di Aceh Tengah yang notabenenya sebagai salah satu tujuan wisata para pelancong.  Namun saat ini minim sekali wisata religi yang ada di sana. di mana banyak sekali patung-patung yang didirikan dan semakin dibiarkan menjamur seolah-olah membuat patung adalah budaya orang islam dan hal ini telah menjamur diberbagai tempat wisata di Aceh Tengah, baik itu hotel dan tempat wisata lainya.

Perlu digaris bawahi bahwa membuat patung bagi orang islam ialah haram hal ini menyangkut kepada aqidah. Di dalam Alqur’an dan hadist telah banyak disebutkan :

“Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik” (QS. Al-Hasyr :24).

“Hai manusia apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabb mu yang maha pemurah. Yang  telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadian dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu (QS. Al-Infitar 6-8).

Dua ayat Al-Quran di atas menegaskan bahwa membuat bentuk makhluk adalah hak Rabb sebagai pencipta dan pemberi bentuk. Sejalan dengan ayat tersebut, Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah” (HR. Bukhari No.5954 dan Muslim No 2107).

“Setiap engkau mendapatkan lukisan benda hidup, hendaknya engkau menghancurkanya” (HR. Al Muslim (969).

Ibnul Qayyim Menegaskan : “tamatsil dalam bahasa arab adalah jamak dari kata timsal, yakni gambar tiga dimensi (patung dan sejenisnya). lihat Al-Fawa id Hal 196.

Persoalan membuat patung bukan hanya sekedar bahwa patung itu bukanlah berhala dan tidak ada yang menyembahnya akan tetapi persoalan aqidah bahwa hanya Allah yang memiliki kekhususan untuk menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Melukis dan membuat patung berarti upaya meniru ciptaan Allah.

Syaikhul Ibnu Taiymiyah menyatakan “ Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan segala gambar tiga dimensi yakni patung dari orang mati, atau patung yang dibangun diatas kuburan agar dihancurkan, karena keduanya dapat menimbulkan kemusyrikan “ (Majmu’ Al-Fatawa 462 : 17).

Oleh karena itu seharusnya setiap muslim paham bahwa pelaksanaan syariat Islam bukan hanya sebatas menjauhi maksiat yang tampak jelas, tetapi juga memahami esensi yang menyangkut masalah akidah dalam bidang tertentu. Karena syariat Islam mengatur keseluruhan kehidupan manusia.Sesuai dengan Qanun No.8 Tahun 2016 Pasal 6 “pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab melakukan perlindungan terhadap Aqidah ummat.

Maka pemerintah dan penegak syariat islam di Aceh khususnya Aceh Tengah, agar segera memberantas hal-hal yang tidak sejalan dengan syariat Islam dan bersama-sama upaya penegakkan syariat islam secara Kaffah serta menjadikan wisata-wisata di Aceh bersih dari kemusyrikan dan menjauhkan negeri ini dari bala dan bencana sehingga negeri ini selalu dalam ridha Allah SWT.[]

Sirajul Mahadi, Alumni Unsyiah Jurusan Ilmu Politik

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...