Sya’ban & Ujian Keimanan

Sya’ban & Ujian Keimanan
Ilustrasi.net

ENAM BELAS bulan sudah Rasulullah saw tinggal di Madinah. Selain agak bebas dari gangguan kafir Quraisy Makkah, ia pun dapat mengemban tugasnya dengan leluasa berdakwah,  baik di dalam negeri Madinah maupun ke luar negeri Madinah. 

Ia beserta para sahabatnya dapat melakukan dakwah secara massif, tidak lagi melakukan dakwah secara tertutup seperti ketika tinggal di Makkah. Hasilnya, Islam berkembang pesat sampai menyebar ke luar negeri Madinah. Dari hari ke hari dukungan terhadap dakwah Rasulullah saw terus mengalir.

Persatuan, persaudaraan yang diikat dengan jalinan silaturahmi merupakan kunci sukses utama dakwah Rasulullah saw. Sejak kedatangannya ke kota Madinah, yang pertama ia lakukan adalah mengikat tali persaudaraan. Rasa permusuhan, dendam kesumat selalu ia wasiatkan agar dihilangkan dari kehidupan beragama dan bermasyarakat. Suku Aus dan Khajraj, dua suku besar di Madinah yang selalu bermusuhan dan berseberangan pun dapat dipersatukan.

Rasulullah saw dan para sahabat dapat melaksanakan ajaran Islam tanpa terlalu banyak tekanan, kecuali sedikit tekanan dari kaum Yahudi dan kaum munafik yang masih membangkang. Ibadah shalat berjamaah dapat dilakukan secara terbuka, terlebih-lebih setelah berdirinya masjid di kota Madinah. Namun, satu hal yang selalu Rasulullah saw rindukan adalah ka’bah di kota Makkah. Selama tinggal di Madinah, dalam melaksanakan ibadah shalat, arah kiblatnya adalah Baitul Maqdis (Masjid al Aqsha).  Ia berharap, suatu saat ibadah shalatnya dapat menghadap ke arah ka’bah di Makkah.

Pada bulan Sya’ban tahun ke-2 dari hijrah (Februari, 624 M) kerinduan Rasulullah saw terhadap arah kiblat menghadap ke ka’bah mendapat jawaban. Rasulullah saw diperintahkan Allah merubah arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah yang ada di Makkah.

Kisahnya, pada bulan tersebut,  Rasulullah saw beserta para sahabat bersilaturahmi sekaligus bertakziyah ke keluarga Umi Basyar dari Bani Salamah.  Salah seorang kerabat Umi Basyar wafat. Kampung Bani Salamah sendiri berada di pinggiran utara Madinah.

Kehadiran Rasulullah saw beserta para sahabatnya disambut gembira keluarga Umi Basyar. Mereka pun menjamu makan siang Rasulullah saw beserta para sahabatnya. Namun, sebelum jamuan makan siang dihidangkan, waktu Zuhur telah tiba. Rasulullah saw beserta para sahabatnya terlebih dahulu melakukan shalat berjamaah di mushalla keluarga Ummi Basyar dengan arah kiblat menghadap ke Baitul Maqdis.

Tatkala shalat Zuhur baru berlangsung dua raka’at, Allah menurunkan wahyu agar Rasulullah saw berpindah arah kiblat dari Baitul Maqdis  ke arah Ka’bah. Rasulullah saw segera melaksanakannya. Sisa dua rakaat berikutnya dilaksanakan menghadap ke arah ka’bah. Para sahabat mengikuti perputaran arah tersebut, tetap berdiri di belakang imam, dan tidak memutuskan pengerjaan ibadah shalat Zuhur.

Setelah selesai melaksanakan shalat Zuhur, Rasulullah saw menjelaskan peristiwa tersebut, bahwa Allah telah memerintahkan merubah arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah atau Masjid al Haram (Q. S. al-Baqarah : 144). Setelah turunnya ayat tersebut, kemudian disusul dengan wahyu berikutnya (Q. S. al-Baqarah : 149-150).

Hukum dan perincian lebih lanjut tentang perpindahan arah kiblat tersebut, penulis persilakan para pembaca untuk mengkaji lebih dalam ayat-ayat tersebut. Satu hal yang akan kita garis bawahi dalam tulisan ini adalah keimanan atau keyakinan para sahabat dalam mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Logis ataupun tidak, senang atau pun tidak terhadap suatu perintah, asal perintah tersebut datang dari Allah dan Rasul-Nya, mereka pasti akan melakukannya. Sehingga ketika terjadi perubahan arah kiblat, para sahabat mengikutinya, tanpa melakukan komentar apalagi protes terhadap peristiwa tersebut.

Sikap tersebut berlainan dengan sikap kaum munafik dan sebagian kaum Yahudi yang membenci umat Islam pada waktu itu. Mereka melakukan berbagai provokasi dan perang opini akan peristiwa tersebut. Mereka menuduh Rasulullah saw tidak konsisten, bertindak berdasarkan kemauan nafsunya sendiri, dan berbagai tuduhan lainnya.

Peristiwa ini, dimanfaatkan kaum munafik dan sebagian kaum Yahudi untuk kembali memecah belah suku Aus dan Khazraj yang telah dipersatukan Rasulullah saw. Mereka berupaya mengadu domba agar mereka saling menjelekkan, berperang,  dan kemudian bermusuhan kembali. Tetapi upaya mereka tidak berhasil. Komunikasi yang dilakukan Rasulullah saw beserta para tokoh sahabat bisa meredam kegelisahan dan meyakinkan umat bahwa perpindahan arah kiblat tersebut merupakan perintah Allah. 

Separo bulan Sya’ban telah kita lalui. Arah kiblat kita sudah pasti. Sampai akhir zaman, arah kiblat umat Islam tak akan berubah lagi. Ka’bah menjadi arah kiblat terakhir umat. 

Dalam keadaan normal, tidak dalam keadaan darurat, shalat apapun yang  kita lakukan wajib menghadap ke arah ka’bah. Dengan demikian, tidak akan ada lagi ujian keimanan dalam perpindahan arah kiblat seperti yang dialami para sahabat. Namun demikian, ujian keimanan dalam bentuk lain akan tetap ada sampai datangnya hari kiamat.

Sya’ban pada tahun ini masih seperti Sya’ban pada tahun lalu. Kita masih diuji  “arah pandemi Covid-19” yang belum pasti kapan akan segera pergi. Dari hari ke hari kebijakan penanganan terhadap pandemi ini seperti tidak pasti. Vaksinasi yang telah dikampanyekan, baru sebagian masyarakat yang dapat menikmati. Ketakutan akan pandemi yang merubah segala arah kehidupan, masih kuat mendekap dan  menyelimuti berbagai lini.

Bukan hanya pendemi saja yang membuat kita merasa teruji. Pada bulan Sya’ban tahun ini berbagai ujian datang melada umat dan negeri ini. Ledakan bom bunuh diri di Makasar, tanah longsor dan musibah kebakaran di berbagai wilayah kota, dan meledaknya kilang minyak di Balongan Indramayu Jawa Barat menambah deretan musibah yang tentu saja menguji keimanan dan keyakinan kita akan ke-Mahakuasa-an Allah swt.

Sampai dunia ini berakhir, Allah akan tetap menurunkan berbagai peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang menyesakkan dada. Tujuannya bukan untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang beriman, tapi untuk menguji sejauh mana kadar kualitas keimanan para hamba-nya. Bagi orang yang beriman, bersyukur ketika mendapat kenikmatan dan bersabar ketika mendapatkan musibah merupan perbuatan yang berpahala besar.

Satu lagi ujian keimanan yang beberapa hari ke depan akan kita hadapi adalah pelaksanaan ibadah shaum. Inilah ujian keimanan terberat bagi umat Islam. Secara fisik, sekedar menahan lapar saja, banyak orang yang sudah berhasil melaksanakannya. Malahan bukan orang dewasa saja, untuk sekedar menahan lapar dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, anak-anak kecil saja sudah banyak yang mampu melakukannya. Namun, ibadah shaum secara psikologis, pengendalian jiwa, belum semua orang mampu melakukannya. 

Sikap konsumtif dan hedonis selama melaksanakan ibadah shaum masih sering kita pelihara. Buka shaum yang sebenarnya bersifat ibadah, kita ubah menjadi buka shaum penuh gaya. Pamer menu buka shaum via media sosial senantiasa diumbar seraya lupa berdo’a. Ghibah yang dikemas dalam bentuk gosip masih senang kita lakukan sambil “ngabuburit”.  Demikian pula dengan sikap ria dalam melaksanakan ibadah masih menjadi hiasan dalam melaksanakannya. 

Selayaknya kita berdo’a dan menitipkan diri kepada Allah, semoga Sya’ban yang penuh ujian ini mengantarkan diri kita memiliki kekuatan dalam menapak jalan-jalan terjal keimanan, sehingga kita dapat melaksanakan segala titah dan perintah-Nya dengan benar-benar lillahi ta’ala. Kita harus menengok ke dalam diri kita akan kealfaan yang telah kita lakukan selama ini. Kita pun harus  benar-benar segera memperbaiki kualitas segala ibadah,  dan menyerahkan shalat, segala ibadah, hidup, dan mati kita hanya untuk Allah,  Tuhan Pemilik semesta alam.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

  

Komentar

Loading...