Sumber Keselamatan

Sumber Keselamatan
Ilustrasi. Blogspot.com

SEBAGAI sumber hukum kedua dari tatanan syari’at Islam, hadits Nabi saw memiliki peranan penting sebagai penafsir terhadap ayat-ayat al Qur’an. Tidaklah mengherankan jika para ulama berusaha keras mengumpulkan, menyeleksi tingkatan derajatnya (shahih, dhaif, palsu, dan lain sebagainya), yang kemudian dibukukan untuk menjaga keabadiannya.

Beberapa kitab hadits telah disepakati sebagai sumber hukum yang valid.  Kitab-kitab hadits tersebut oleh para ulama hadits diberi sebutan “kutubu sittah” (enam kitab hadits), yakni  Shahih Bukhori; Shahih Muslim; Sunan Abu Daud; Sunan at Tirmidzy; Sunan an Nasa’i; dan Sunan Ibnu Majah.

Dalam tulisan ini akan dikemukakan intisari dari salah kitab “kutubu sittah”, yakni Sunan Abu Daud. Kitab yang disusun  Imam Sulaiman bin al Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad ibnu ‘Amr Asijistany yang kemudian terkenal dengan panggilan Abu Daud.

Muhammad Muhammadiy bin Muhammad Jamil al Nursiyani dalam karyanya  “al Madkhol ila Sunan Abi Daud” (hal. 59) menyebutkan, dalam Sunan Abu Daud terdapat hampir 4.800 hadits. Jumlah hadits tersebut merupakan hasil seleksi dari 500.000 hadits yang pernah ditulis Abu Daud.

Orang-orang merasa kagum dengan koleksi, kecerdasan, dan daya hafal  Abu Daud. Ia bukan hanya hafal terhadap al Qur’an,  juga hafal terhadap hadits-hadits Nabi saw. Menurutnya, dari ribuan hadits yang terdapat dalam kitabnya, seandainya kita mampu mengamalkan empat pokok  hadits yang terdapat dalam kitab tersebut, kita akan bisa meraih kehidupan bahagia dunia dan akhirat.

Adapun keempat pokok hadits tersebut,  pertama niat lillahi ta’ala. Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung  kepada  niatnya. Diterima atau ditolaknya amal kita, berpahala atau tidaknya amal kita, sangat tergantung kepada niat. 

Terdapat tiga syarat utama diterimanya amal kita di sisi Allah, yakni niat karena Allah, perbuatannya sesuai dengan perintah Allah,  dan sesuai dengan contoh dari Rasulullah saw. Jika salah satunya hilang,  maka perbuatan kita menjadi perbuatan sia-sia. Meskipun suatu perbuatan dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih, jika bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka perbuatan tersebut nirpahala.  Demikian pula, meskipun suatu perbuatan sesuai dengan perintah Allah dan contoh dari Rasulullah saw, perbuatan kita akan nirpahala jika dilakukan tanpa keikhlasan.

Kedua, diantara  kebaikan  seorang  muslim adalah meninggalkan segala perbuatan yang tidak bermanfaat. Ini merupakan perbuatan yang nampak ringan, namun berat dalam pelaksanaannya, terlebih-lebih pada era serba digital, serba media sosial seperti sekarang ini. Berita-berita “sampah” dan hoaks yang tidak bermanfaat lebih banyak kita baca dan kita dengar daripada  berita-berita positif. Untuk itu, kita harus bisa memilih dan memilahnya. Kita harus terbiasa melakukan  “saring’ berita sebelum melakukan “sharing” agar apa yang kita berikan kepada orang lain benar-benar bermanfaat.

Ketiga, bersikap simpati dan empati  terhadap sesama mukmin dan manusia pada umumnya. Belum termasuk memiliki keimanan yang sempurna, seseorang yang belum bersikaf simpati dan empati terhadap sesama manusia, terutama sesama mukmin. Orang yang beriman akan senantiasa merasa senasib sepenanggungan dengan saudaranya. Ia akan selalu siap hidup   saling membantu satu sama lainnya. Ia tak akan rela membiarkan kerabat, saudara, dan tetangganya hidup dalam kubangan penderitaan. Kesombongan, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap  orang lain sangat ia jauhi, sebab ia yakin sekali, ketiga sifat tersebut akan meracuni kehidupan dan keimanannya.

Keempat, memperhatikan hukum halal dan haram. Seorang mukmin yang taat akan hati-hati dalam menjalani kehidupannya. Hukum halal, haram, dan syubhat akan selalu menjadi pertimbangan  sebelum melakukan suatu perbuatan.  Ketika ia akan mengkonsumsi suatu makanan, bukan rasa dan gaya hidup kebanyakan orang yang pertama ia pertimbangkan, namun hukum halal dan haram dari makanan tersebut akan  menjadi pertimbangan utamanya.

Demikian pula dalam menjalani profesi atau pekerjaan. Ia akan memperhatikan hukum  pekerjaan yang  ia jalani dan penghasilan yang  ia peroleh. Jika hukum pekerjaannya haram, ia tak segan-segan untuk segera meninggalkannya, meskipun pekerjaannya tersebut menjanjikan penghasilan besar.

Perbuatan nista seperti korupsi, memanipulasi data, penggelembungan dana akan ia jauhi. Perasaan takut melanggar perundang-undangan yang berlaku selalu ia tanamkan di hati, dan perasaan takut yang paling utama adalah melanggar aturan-Nya dan menghadapi persidangan di hadapan Dzat Yang Mahahakim kelak di akhirat.

Jika keempat pokok keselamatan hidup tersebut benar-benar kita jalankan dalam kehidupan keseharian kita, Allah akan memberikan jaminan ketenangan, ketentraman, dan keselamatan hidup kita di dunia akhirat. Harus diakui, bukan hal yang mudah untuk melaksanakan keempat pokok sumber keselamatan hidup tersebut, namun demikian kita harus berjuang keras untuk dapat melakukannya. Kita harus belajar menanamkan keyakinan di hati nurani, Allah akan senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang tengah berusaha taat menapaki jalan-jalan kehidupan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...