iklan bener Duka Cita Gub - Bambang

Sore Itu, Morenk Beladroe Kembali ke Kampung Abadi

Sore Itu, Morenk Beladroe Kembali ke Kampung Abadi
Jenazah almarhum Morenk diangkat untuk dibawa ke kuburan. Foto/cakradunia.co/helmi hass

SUASANA haru, Selasa siang 11 Juni 2019 itu, menyelimuti Gampong Lamkuta, Pidie, ketika iring-iringan mobil rombongan jenazah almarhum Morenk Beladroe alias Ahmad Mauladi (44) memasuki jalan menuju rumahnya, sekitar dua kilometer dari Kota Sigli.

Adik-adiknya dan saudara dekat yang sejak pagi menunggu jenazah tidak mampu menahan kesedihan, sehingga berkali-kali menyeka air mata yang menetes  di pipi mereka.

Peti jenazah alm yang diturunkan dari ambulan milik PMI Banda Aceh setelah menempuh perjalanan lebih dari enam jam dari Jakarta – Sigli di dinding bagian atasnya masih menempel tulisan Batik Air, diangkat oleh saudaranya ke kamar milik keluarganya.

Dari Jakarta, jenazah almarhum yang dibawa pulang dengan menumpang pesawat Batik Air diantar langsung oleh adik kandungnya Rifka dan teman dekatnya J Kamal Farza, pengacara dan juga seniman Aceh.

Sementara dari Banda Aceh menuju Sigli selain adik dan saudaranya juga di antar oleh Kepala Taman Budaya Aceh D Kemalawati, penyair dan seniman Aceh, Wina SW1, Fauzan Santa, Sarjev, Helmi Hass dan sejumlah teman lainnya.

Dari Pemkab Pidie, Wakil Bupati H Fadullah datang ke rumah duka untuk menyampaikan ucapan belangsungkawa. Wabup merasa sangat kehilangan putra terbaik Pidie yang telah mengharumkan nama Aceh melalui karya-karya besarnya di Indonesia.

Jenazah almarhum sempat satu jam lebih disemanyamkan di rumah duka sambil menunggu untuk dimandikan.  

Ruang tamu kepenuhan, jamaah shalat meluber ke teras rumah. Foto/Helmi Hass

Menjelang dishalatkan, keluarga dan teman dekatnya diminta satu persatu untuk melihat jasad almarhum yang terakhir kali sambil mengirimkan doa. J Kamal Farza, Fauzan Santa dan Sarjev sebagai teman yang pernah sama-sama diperantauan tertunduk sedih. Mereka tak bergeming, ketika sahabatnya terbujur kaku di depan mata mereka.

“Selamat jalan sahabat, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu,” desah mereka.

Sekitar seratusan pelayat tak bisa seluruhnya menshalati almarhum, karena ruang tamu rumahnya yang dijadikan tempat shalat tidak mampu menampung semua yang hadir, sehingga sebagian meluber hingga ke teras rumahnya.

Ketika ustad kampung menyampaikan kutbah singkat di depan rumahnya,  keluarga, warga dan sahabat yang hadir telah memaafkan dosa-dosa almarhum.

“Kami mohon abang kami dimaafkan, semoga dosa-dosa almarhum terhapuskan,”sebut adiknya dengan suara terbata-bata.     

Ketika keranda mayat diusung dengan berjalan kaki sekitar 200 meter dari rumah duka ke komplek perkuburan kampung, terasa langkah pengusung ringan. Hanya dalam beberapa menit jenazah tiba di sisi liang kubur yang sudah digali sejak pagi.

Di sana jenazah almarhum tidak langsung di makamnya, karena masih ada keluarga yang baru datang dan ingin menshalatinya lagi. Dengan terurai air mata, sejumlah keluarga dekat kembali menshalati almarhum di pinggir liang kubur.

Saudara dekat yang belum sempat shalat, sebelum jenazah di masukkan ke liang kubur dishalati lagi. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Sejak pagi warga desa silih berganti mendatangi rumah duka yang terletak sekitar 600 meter masuk ke perkampungan dari jalan nasional Banda Aceh – Sigli untuk menyampaikan berlangsungkawa. Sementara ribuan seniman dan warga Indonesia terus mengirimkan doa-doanya agar seniman Aceh yang sudah menasional itu dihapuskan dosa-dosanya dan ditempatkan ditempat yang baik disisi-Nya.

Kepala Taman Budaya Aceh, Dra Kemalawati yang ikut mengantar jenazah almarhum ke Sigli, begitu mengetahui Morenk Beladroe meninggal dunia, merasa kehilangan kata-kata. Sebelum perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 tahun 2018, Morenk yang menjadi salah seorang pengurus partai lokal sempat berdiskusi panjang lebar dengannya tentang konsep Pekan Kebudayaan Aceh.

“Seperti biasa, ide-idenya begitu cemerlang. Sungguh kita merasa kehilangan seorang selalu punya ide kreatif yang karyanya tak pernah biasa hingga tak mudah dilupakan,” demikian lirih D Kemalawati yang saat itu menjabat sebagai Kabid Bahasa dan Seni di Disbudpar Aceh.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Wina SW1 yang tahun lalu sempat bertemu Morenk di Jakarta. Wina yang biasanya suka memotret dalam berbagai moment, Selasa kemarin, tak mampu membidikan lensa kameranya – dia hanya terpaku dan merasakan  kepergian Morenk, kehilangan seorang teman yang selalu optimis dalam mengarungi kehidupannya.

Cuma, ditengah kesedihannya tiba-tiba muncul keprihatinan. Penyair yang pernah lama menimba ilmu di Kyoto, Jepang menghela nafasnya berkali-kali. Hatinya bergolak, kenapa seniman sehebat Morenk tidak digubris oleh pemerintah Aceh. Dia, melihat hanya Kepala Taman Budaya yang juga penyair nasional yang hadir - yang lain kenapa tidak peduli atas kepergian seniman Aceh yang sudah  menasional itu.

“Saya sedih, Pemda Aceh sepertinya tak peduli kehilangan senimannya. Kecuali Kepala Taman Budaya Aceh saja, selebihnya cuek, meski mereka sudah tahu melalui media massa. Untung ada Wabup Pidie, Fadlulah datang. Saya heran, kenapa mereka tak peduli atau para pejabat tidak pernah mau tahu. Menteri Agama saja peduli dan menelpon langsung keluarganya. Ini sudah ngak benar, ”kata Wina berulang-ulang seakan tak percaya.

Dari kekecewaan Wina SW1, D Kemalawati menuliskan sebuah puisi dengan judul “Dalam Arus Air Raya” yang ditujukan untuk Wina SW1:

Dalam arus air raya/Kita selembar daun ringan biasa/Tak bermakna/Tak ada yang akan memungutnya/Menjadikannya lencana/Kita terlalu biasa/Karena kita hanya satu muka/Yang putih dan hitam/Terlihat nyata.

Kita tak bisa bermuka-muka/Memuja-muja hingga meja-meja terbuka/Duduk di kursi singgasana/Kita terlalu biasa untuk sebuah harga/Meski telah teruji mengukir karya/Biar mereka merayakan gemuruh basa basi/Kita pergi dengan pasti/Setelah berbagi sesuatu/Yang berarti.

Banda Aceh, 12 Juni 2019

Pusat Perfilman Kemendikbud Indonesia juga menggenang kepergian Morenk dengan membuat lembaran khusus memberi ucapan berlangsungkawa atas kepergian desainer yang pernah bekerjasama dengan mereka.

“Diluar namanya harum, namun di Aceh seperti dilupakan”.

Sementara Fauzan Santa, sinematografi Aceh, teman akrab almarhum dalam pesan singkatnya, Rabu siang, 12 Juni, kepada penyair D Kemalawati melalui WA menyatakan, “berat kali kak, kita kehilangan bagian paling artistik kebudayaan Aceh terkini.  Poster Cukup Sudah salah satu yang tercantik karya almarhum,”sebut Fauzan.

D Kemalawati menjawab, “ya, kakak belum sempat meminta cover buku puisi, dia telah pergi.”

Perasaan yang dalam juga dirasakan penyair nasional asal Aceh, Fikar W Eda yang juga wartawan senior menyebutkan, Aceh kehilangan sosok kreator, seorang disain grafis, penyelenggara budaya, konseptor, dan motivator.yang dicintai oleh sahabat dan pengagumnya.

“Almarhum Morenk dikenal dikalangan seniman Aceh dan seniman nasional, sebagai sosok yang hangat dan penuh kreativitas,”sebut Fikar dalam laporannya yang disiarkan Serambinews.

Sebagai disain grafis, salah satu karyanya tertera pada gapura kuburan masal Ulhee Lhuee Banda Aceh, disainnya juga pada sertifikat nol kilometer Sabang dan banyak lagi bertebaran di mana-mana.

Pendiri warung Kopi Pancong di Kalibata City dan Cangkir Sembilan ini, sering terlibat dalam banyak acara kebudayaan di Indonesia, baik yang dikerjakan secara bersama maupun yang digagasi sendiri, antara lain The Rampoe Aceh, Cukup Sudah, Konser Maestro Rendra-Iwan Fals-Sawung Djabo di Banda Aceh dan banyak lagi.

Jenazah Morenk ketika dimasukkan ke liang kubur. Foto/Helmi Hass

Selamat jalan Morenk Beladroe, semoga amal ibadah-mu diterima Allah SWT dan mendapat tempat disisi-NYA yang paling indah seperti karya-karyamu. Amiin.

Helmi Hass

Komentar

Loading...