Setelah Setahun Berpisah, Mar’ah Ingin Bertemu Anaknya

Setelah Setahun Berpisah, Mar’ah Ingin Bertemu Anaknya
Mar'ah mengendong anaknya ketika masih bersama TSM. Ist

CAKRADUNIA.CO – Hati wanita mana yang tak teriris, ketika buah hati satu-satunya hilang di depan matanya selama setahun lebih. Keadaan sedih itu, dipendam sangat dalam oleh Mar’ah Sholihah, warga asal DKI Jakarta.

Untuk mencari sang buah hati yang dibawa pergi mantan suaminya TSM, Mar’ah Sholihah terpaksa menetap berbulan-bulan di Aceh.

Sebagai seorang ibu, apalagi telah mendapatkan keputusan pengadilan atas hak asuh anak, tentu sangat ingin bertemu dengan buah hatinya itu. Mar’ah menyebutkan, anak mereka yang bernama Teuku Farhad telah diambil secara paksa oleh mantan suaminya saat di Jakarta. Farhad kemudian dibawa pergi ke Aceh, sejak 27 Februari 2019 lalu.

Bersama ibundanya, berbagai upaya kekeluargaan telah Mar’ah lakukan agar menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan, salah satunya bersilaturahim baik dengan mantan suami dan keluarga bahkan dengan istri baru mantan suaminya. Namun upaya bertemu dengan Farhad tetap gagal.

Dalam upaya memperjuangkan keadilan bagi dirinya, Mar’ah juga sempat mendatangi Kampus STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh yang merupakan tempat mantan suaminya mengajar sebagai Dosen

“Kami telah mendatangi STAIN Dirundeng di Meulaboh, Aceh Barat dan mendapat kepastian bahwa mantan suami saya T Sukri Masnur benar mengajar sebagai dosen STAIN. Tapi, dia dosen STAIN yang statusnya dosen tidak tetap sehingga pihak kampus saat ini belum bisa mengambil tindakan apapun,” ungkap Mar'ah kepada Cakradunia.co beberapa hari lalu.

Tanggapan Penasehat Hukum

Untuk keperluan proses hukum, Mar’ah mempercayakan Kantor Hukum Kasibun Daulay dan Rekan. Melalui pesan surat elektronik, Advokat Kasibun Daulay, SH, MH menyampaikan tanggapannya atas jalannya kasus ini.

Hasibun Daulay mengakui Bahwa kliennya Mar’ah Sholihah Binti Ichsan adalah seorang ibu, korban yang sudah lama menunggu dan mengaharapkan keadilan, belum merasakan keadilan atas putusan pengadilan Nomor. 1007/Pdt.G/2019/PA.Jakarta Selatan.

Oleh karena hal tersebut, sangat berharap hadirnya  negara melalui kewenangan dan kekuasaannya untuk turut campur memberikan keadilan dan kepastian hukum sesui dengan Undang-Undang dan hukum yang berlaku dinegeri ini.

Bahwa dalam situasi seperti ini kliennya sudah  6 (enam) bulan lebih berada di Aceh meninggalkan tempat kediamannya di Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, untuk menuntut dan  menunggu/mendapatkan keadilan, sudah sepatutnya setiap stakeholder memberikan perhatian yang maksimal pada kasus ini.

“Selama 6 (enam) bulan berada di Aceh sudara Mar’ah Sholihah tidak pernah mendapatkan akses untuk bertemu dan bahkan untuk sekedar komunikasi melalui handphone dengan anaknya, hal tersebut telah mencederai rasa keadilan buatnya ibu yang telah melahirkan dan membesarkan anak yang dicintainya tersebut,” kata pengacara senior Aceh ini.

Terkait berita ini, cakradunia.co belum mendapat konfirmasi dari T Sukri Masnur. (Arif K)

Komentar

Loading...