Setakar Mahar Senarai Kenangan

Setakar Mahar Senarai Kenangan
Penyair Krismarliyanti, memperlihatkan antologi cerpennya "Mahar".

Oleh: Mahwi Air Tawar

Musim gugur telah tiba, daun-daun berguguran, salju mencair, kereta berderak dan diberangkatkan, lalu bagaimana dengan kenangan, apakah kenangan bisa diberangkatkan?

Kalimat sederhana dan indah di atas tentu bukanlah kalimat pembuka dari cerpen Mahar karya Krismarliyanti, tapi kalimat di atas adalah salah satu ungkapan dari penulis Cina, Khu Lung. Lalu apa hubungannya ungkapan Khu Lung di atas dengan cerpen-cerpen penulis dan pelukis Krismarliyanti, Mahar?

Membaca cerpen-cerpen Krismarliyanti yang terhimpun dalam buku ini kita akan segera disuguhi  cerita-cerita dengan narasi-narasi tokoh yang “terjebak” dengan masa lalunya. Masa lalu menjadi sesuatu yang unik dan “mungkin” bagi sebagian sastrawan tak akan bisa berpaling dan bahkan menjadi sesuatu yang unik untuk ditulis, baik masa lalu yang berkaitan dengan kenangan sang penulis, sahabat, atau bahkan keadaan masa lalu suatu wilayah, kota-kota bahkan negara.

Belajar kepada masa lalu, demikian ungkapan klise kerap kita dengar benar adanya bahwa masa lalu terkadang perlu dihadirkan ketika kita tengah berhadapan dengan sesuatu yang genting.  Terlepas kalimat tersebut mengandung unsur ketaksaan, namun, makna yang tersirat dalam kalimat di atas, betapa masa lalu senantiasa menjanjikan keindahan puitik baik bagi batin sang penulis maupun pembacanya yang pernah atau suatu saat nanti akan mengalami dan meniggalkan masa lalunya.

Di hampir semua karya sastra, masa lalu seperti mata pisau tajam dan siap menghunjam kabut kenangan, juga suasana yang sedang dijalani dan dialami oleh pembacanya yang hidup di masa kini. Kepada masa lalu lah generasi kini belajar baik tentang estetika sastra, maupun tema-tema yang disuguhkan oleh sang penulis atau barangkali peristiwa-peristiwa getir dan kebahagiaan sebuah bangsa.

Demikian juga dalam cerpen-cerpen Krismarliyanti. Dalam buku ini sang penulis memang tak secara utuh mendedah latar masa lalu namun ia membawa tokoh-tokohnya hidup dan bernostalgia dengan masa lalunya. Sesuatu yang barangkali perlu dibaca untuk kembali mengenang dan ingin merasakan bagaimana orang-orang dahulu, setidaknya di masanya menjalin hubungan, membangun keakraban, dan merayakan pertemuan-pertemuan sampai menjalin percintaan sebagaimana tergambar dalam cerpen Mahar.

Buku kumpulan cerpen Mahar karya Krismarliyanti, penulis kelahiran Rangkasbitung ini memuat delapan cerpen di antaranya Arthan, Hijrah, Mahar yang Tertinggal, Mahar, Janin, Pelukan Terakhir, Rayya dan Hujan, Mantri Sodik.

Lewat cerpen-cerpennya, Krismarliyanti seakan mengajak kita menyelami keindahan masa lalu terlebih dalam situasi sekarang, dimana segala sesuatu dilakukan dengan sangat cepat, dan hampir tak ada sisa untuk kelak dikenang. []

Komentar

Closed.