Sepak Bola dan Kita

Sepak Bola dan Kita
Ilustrasi/hypefreshmag

TAK DAPAT disangkal, sepak bola merupakan olah raga yang paling banyak digemari penduduk di seantero jagat ini. Seiring dengan semakin digemarinya olah raga ini, dari waktu ke waktu bermunculan kader pemain baru, baik yang lahir karena bakat bawaan maupun melalui pendidikan dan pelatihan khusus kesepakbolaan.

Seiring dengan kemajuan zaman, kini sepakbola bukan lagi sebagai bagian dari olah raga belaka, namun olah raga yang satu ini telah menjadi sebuah industri. Kini klub sepakbola layaknya sebuah perusahaan, ada pemiliknya, dan  bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang menggiurkan. Para pengurus klub, pemain, dan pengurus lainnya dapat hidup layak dari mengelola dan bermain sepak bola. Dunia perekonomian pun menggeliat dengan adanya berbagai kompetisi sepak bola.

Sebagai sebuah industri, para pemain dituntut  dapat bertindak profesional baik secara adminstrasi maupun kompetensi. Secara admistrasi, kini para pemain tidak bisa pindah  antar klub secara bebas, tapi harus melalui perjanjian dan pentransferan pemain. Proses pentransferan pemain ini merupakan bagian industri sepak bola yang menghasilkan uang. Satu klub bisa “menjual” pemainnya kepada klub lainnya dengan harga yang tidak murah.

Setiap saat, para pemain dituntut  meningkatkan kompetensinya. Tujuannya selain untuk memperoleh skill bermain, juga untuk meningkatkan harga jualnya. Jika kompetensinya bagus, harga jual dan pendapatan gajinya akan semakin bagus pula.

Jika kita menelusuri permainan sepak bola, keterampilan atau kompetensi inti yang harus dimiliki para pemain adalah menangkap dan melepaskan bola. Para pemain mutlak dituntut memiliki keterampilan menangkap, mendapatkan, dan merebut bola dari lawan main tanpa melanggar aturan yang telah disepakati. Kemudian, setelah pemain dapat menangkap dan menguasai bola, kompetensi berikutnya yang harus dimiliki adalah keterampilan melepaskan bola, yakni mengoperalihkan dan menendang bola kepada kawan atau ke  arah yang tepat.

Seorang pemain bola yang baik adalah orang yang mampu merebut bola dari lawan main tanpa melanggar aturan, kemudian melepaskannya kembali, baik dioperalihkan kepada kawan maupun ditendang ke  arah gol lawan main. Bukanlah seorang pemain sepakbola yang baik, manakala ia hanya mampu menangkap bola, kemudian menguasainya sendiri tanpa dioperlalihkan kembali kepada kawan atau ke arah gol lawan.

Apabila kita renungkan, kehidupan kita pun layaknya bermain sepak bola. Kita berlari ke sana kemari untuk mendapatkan harta, jabatan, dan berbagai penunjang kehidupan. Kita dituntut  menjadi  “pemain bola kehidupan”   yang baik, dapat menangkap “bola kehidupan”  dengan baik tanpa melanggar peraturan, dan tanpa mencidrai lawan main kita.

“Bola kehidupan” yang harus kita tangkap bisa berupa harta benda, pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Semuanya harus didapatkan dengan melakukan permainan yang cantik, memukau, dan menyenangkan bagi para penonton atau orang lain. Sementara  peraturan yang harus ditaati  selama menjadi “pemain bola kehidupan” adalah peraturan agama, peraturan Allah dan Rasul-Nya.

Seorang “pemain bola kehidupan”  yang baik akan merasa takut jika ia melanggar peraturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, sebab resiko yang diperolehnya adalah “kartu merah” yang akan menjadikan kehidupannya menderita di akhirat kelak. Sementara,  selama hidup di dunia bisa saja, “pemain bola kehidupan”  yang melanggar peraturan Allah dan Rasul-Nya nampak lebih bahagia daripada orang-orang yang taat akan peraturan Allah dan Rasul-Nya. Namun, di akhirat kelak, kondisinya akan sangat jauh  berbeda.

Sebagai “pemain bola kehidupan”  yang baik, ia tidak akan hanya piawai menangkap atau mendapatkan  “bola kehidupan”  saja, namun ia akan segera mengoperalihkan “bola kehidupan” yang diraihnya kepada orang lain atau kepentingan lain sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya.   Ia tidak akan menguasai dan menikmati “bola kehidupan” berupa harta  hanya untuk kepentingan pribadinya belaka.

Epictetus, salah seorang filosof  Yunani pernah berkata, “Kamu akan menemukan bahwa para pemain bola andal melakukan hal yang mirip dengan seseorang yang menangani kekayaan. Bukan bolanya yang dianggap berharga oleh mereka, tetapi yang dinilai baik tidaknya adalah seberapa mahir mereka melemparkan dan menangkap bola tersebut” (Henry Manampiring, Filosofi Teras, 2019 : 80).

Ia menyadari dalam hartanya  ada hak orang lain, ada kewajiban zakat, infaq, dan sedekah yang harus ia keluarkan. Ia sangat meyakini, zakat, infaq, atau sedekah yang ia keluarkan ibarat mengoperalihkan bola kepada kawan main untuk diarahkan ke gol, dan kebaikan hasilnya akan kembali kepada dirinya.

Sebaliknya jika hartanya tidak dioperalihkan dengan cara berbagi dengan orang lain, ia ibarat pemain sepak bola yang setelah mendapatkan bola, ia menguasai dan memainkan bolanya sendiri. Selain akan berpotensi melanggar peraturan, lama kelamaan ia akan lelah sendiri, dan ia celaka karena kelelahan memainkan bolanya secara sendiran.  

Orang yang menguasai hartanya secara egois, tidak mau berbagi dengan orang lain pun lama kelamaan akan kelelahan. Merasa jenuh dengan harta yang berlimpah, namun ketenangan dan kebahagian menjauh darinya. Zakat yang ia lewatkan, infaq dan sedekah yang ia tolak hanya akan menjadi belenggu, kecelakaan, dan penyesalan tiada akhir di akhirat kelak.

Tidak mengeluarkan zakat, infaq, dan sedekah merupakan penyesalan dan kepedihan pertama yang akan dialami orang-orang kikir yang meninggal.  Ia menguasai hartanya seraya  enggan berbagi dengan orang lain. Ia akan memelas suatu hal yang mustahil terjadi, ia memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia agar bisa hidup kembali, dan ia berjanji akan berbuat kebaikan. Salah kebaikan yang akan ia lakukan adalah menyedekahkan hartanya.

“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu; kemudian dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematianku) sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh’ “ (Q. S. al Munafiqun : 10).

Selain berbagi harta, kita pun harus menggunakan segala hal yang diperoleh dalam kehidupan ini bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk kepentingan seluruh makhluk Allah. Kekuasaan atau jabatan yang kita miliki harus benar-benar dipergunakan untuk kemaslahatan kehidupan seluruh makhluk Allah, terutama manusia. Jika tidak, seperti halnya harta benda yang hanya dikuasai untuk kepentingan pribadi, kekuasaan yang dimiliki akan hanya menjadi belenggu kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

Jangankan di akhirat kelak, ketika kekuasaan dipergunakan tidak dengan semestinya, kecelakaan dan kesempitan hidup akan dirasakan orang-orang yang menyalahgunakannya. Bukan rahasia lagi, bagaimana tertunduk malunya para pejabat dan penguasa yang divonis hakim karena melakukan tindak pidana korupsi. Padahal  sebelumnya, mereka adalah para penguasa yang nampak berwibawa, disegani semua orang, dan selalu diberi pengawalan kemanapun mereka pergi.

Di akhirat lebih ngeri lagi. Para penguasa akan ditentukan keselamatannya di hadapan Allah dengan amanat kekuasaannya selama di dunia. Mereka akan dijeremuskan ke dalam azab Allah oleh kezalimannya selama menjadi penguasa di dunia, atau mereka akan diselamatkan oleh kejujuran dan keadilannya selama ia menjadi penguasa di dunia.

Sebagai “pemain bola kehidupan” yang  jatah bermain kita di lapangan kehidupan ini hanya sebentar, jangankan 1000 tahun, seratus tahun pun sudah jarang ada yang melakoninya dengan sempurna, sudah selayaknya kita menjadi pemain yang baik. Kita harus melakoninya bukan hanya mampu mengejar “bola kehidupan”, mendapatkan, dan menguasainya, namun juga harus mampu menggunakan dan membagi “bola kehidupan” yang kita peroleh untuk kemaslahan hidup seluruh makhluk Allah. Hanya dengan cara seperti itulah kehidupan kita akan menjadi baik di hadapan-Nya. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut.

Komentar

Loading...