Selamat Jalan Erwinsyah

Selamat Jalan Erwinsyah
Alm Erwinsyah (kanan) ketika tampil dalam sebuah pertunjukan dengan Mustafa Ismail pada tanggal 9 September 2006. Ist

SAYA kaget ketika tadi menerima kabar bahwa seorang seniman Aceh, Erwinsyah (50), telah tiada pada Selasa tengah malam, 29 September 2020.

Seharusnya, menurut seorang kawan seniman Aceh, Erwin dijadwalkan tampil membaca puisi Rabu (30/) malam ini di Taman Budaya Aceh di Banda Aceh. Tapi Tuhan berkehendak lain. Hidup memang begitu rahasia. Detik ini mungkin kita masih bernafas, tapi beberapa detik kemudian nafas kita terhenti.

Saya mengenal Erwin ketika kami sama-sama berteater di Teater Bola, Banda Aceh, pada awal 1990-an. Beberapa kali kami berpentas bersama. Kelompok teater itu dipimpin oleh dua seniman yang juga sudah almarhum, yakni Junaidi Yacob dan Pungi Arianto (yang juga seorang wartawan).

Beberapa tahun berteater, kemudian saya bersolo karir sebagai penulis aneka rupa (mulai dari puisi, cerpen, esai sastra, resensi buku,  ulasan seni, hingga opini bidang sosial-politik). Meski tidak lagi satu teater, kami masih sering bertemu dalam banyak kegiatan kesenian di Aceh pada era jtu.

Bahkan, setelah saya hijrah dan tinggal di Jakarta pun kami masih sering berkomunikasi. Juga bertemu ketika saya pulang ke Aceh. Dan memang tak sulit bertemu dia, karena ia terlibat dalam banyak aktivitas kesenian di sana.

Ia senang membantu kawan-kawan yang mengadakan acara seni, bahkan hingga urusan di luar praktek seni seperti membuat dan memasang spanduk. Itu sebabnya ia dikena dan akrab dengan l banyak kalangan seniman lintas bidang.

Saya lupa kapan persisnya ketemu Erwin. Salah satu pertemuan itu pada awal 2016,  di Lamno, Aceh Barat Daya, tanah kelahirannya. Kala itu, saya mengontak dia ketika melintas di kota kelahirannya bersama Bang Ahmad Farhan Hamid dan Fikar W. Eda. Kami meluncur dari arah Meulaboh ke Banda Aceh sepulang berkeliling Aceh untuk sosialisasi hasil Kongres Peradaban Aceh (KPA) 2015.  Kami (berempat dengan Erwin) makan dan ngopi di sebuah warung di kota kecil yang terkenal dengan perempuan-perempuan bermata biru, kulit putih dan hidung mancung seperti bule itu.

Sebelumnya, jauh sebelum itu, kami bersama sejumlah seniman Aceh lainnya berkeliling Aceh Timur dalam acara Sastrawan Masuk Sekolah yang diadakan Lapena  pimpinan Helmi Hass dan D Kemalawati, tempat Erwin aktif. Acara itu didukung BRR pada 2006. Nah, foto "lawak-lawakan" ini dijepret oleh cerpenis/novelis Saiful Bahri di sebuah hotel di Langsa ketika acara itu. 

Erwin senang humor, murah senyum, dan selalu riang. Lihatlah ekspresinya dalam foto ini. Banyak kawan merasa kehilangan. Selamat jalan Erwin.

Mustafa Ismail

Komentar

Loading...