Breaking News

Selamat Datang Syahrul Mubarak Semoga Covid -19 Cepat Berakhir

Selamat Datang Syahrul Mubarak Semoga Covid -19 Cepat Berakhir
Ilustrasi. Ist

Oleh: Tgk. H. Khairul Azhar. M.Ag

KETIKA Ramadhan tiba, ucapan kita adalah marhaban ya Ramadhan. Marhaban itu sendiri dari kata  "rahb" yang artinya luas atau lapang. Ibarat ada tamu penting mau datang, maka sudah kita siapkan tempat yang luas dan lapang sehingga leluasa tamu itu berada di tempat kita. Mengapa demikian?, Karena kita senang dan suka atas kedatangannya.

Bila Ramadhan datang, apalagi kita memasukinya, maka luaskan hati dan lapangkan dada. Senang dan gembira atas kedatangan Ramadhan membuat kita merasa ringan untuk melakukan apa yang menjadi kewajiban dan keharusan di dalamnya.

Namun, apabila kita tidak senang, apalagi sebel atas kedatangan Ramadhan, tidak nikmat apa yang harus kita lakukan di dalamnya. Saat pagi kita tunggu siang, saat siang kita tunggu sore hingga saat sore kita tunggu datangnya maghrib. Padahal tanpa ditunggu maghrib itu pasti tiba. Yang penting adalah apa aktivitas yang harus kita lakukan.

Ramadhan itu artinya membakar. Yang dibakar adalah dosa. Kalau dosa diumpamakan seperti pohon dan pohon itu dibakar, maka nasib pohon itu mati. Tapi karena tidak terbakar sampai ke akar-akarnya, potensi untuk tumbuh lagi tetap ada, tapi sangat sulit. Begitulah orang yang sukses puasa Ramadhan, dosa menjadi sangat sulit untuk dilakukan lagi.

Hal yang sama disayangkan, ibarat pohon bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang dan rantingnya, menebangnyapun mau musim hujan. Lalu, tumbuh lagi lebih hijau, lebih segar, bahkan lebih rimbun. Bisa jadi, ada orang di bulan Ramadhan hanya meninggalkan dosa untuk sementara, setelah Ramadhan berakhir, dosa itu dilakukan lagi lebih semangat dan lebih banyak, nauzubillah min dzalik.

Orang seperti inilah yang kata Nabi Saw: "Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali hanya lapar dan haus saja."

Mengasah,

Selain membakar, arti Ramadhan adalah mengasah. Maka, melalui ibadah puasa Ramadhan, seharusnya kita mengasah agar tambah tajam.  Yang diasah bukan golok dan pisau, tapi hati. Bila hati telah tajam, maka mudah membedakan mana Haq dan mana bathil, mana benar dan mana salah. Bahkan perintah dan larangan disampaikan dengan isyarat saja sudah paham dan nyambung.

Allah SWT mengisyaratkan kita dengan gempa bumi, ternyata banyak orang tidak menyadari. Diisyaratkan lagi dengan banjir, ternyata masih tidak nyambung, akhirnya diisyaratkan lagi dengan gempa dan banjir (tsunami), tapi masih tidak nyambung juga.

Nabi Ibrahim dan Ismail adalah contoh orang yang punya ketajaman hati. Dilaksanakan perintah menyembelih Ismail, meski perintah itu melalui isyarat mimpi, sementara diceritakan mimpi saja sudah nyambung bahwa itu perintah yang harus dilaksanakan.

Perhatikanlah sehari-hari, apakah hati kita sudah cukup tajam atau malah tumpul?.

Dalam situasi sekarang, datangnya Ramadhan tidak menyurutkan kegembiraan kita. Seandainya situasi semakin buruk, yang tidak bisa kita lakukan yang sifatnya kumpul dengan banyak orang, tarawih bisa kita lakukan di rumah bersama keluarga.

Tgk. H. Khairul Azhar. MAg (Pimpinan Dayah Zainatu Ulum Dinia Islami Gampong Ujong Tanjong Kec Meureubo, Meulaboh)

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...