Sejarah Menentukan Masa Depan

Sejarah Menentukan Masa Depan
Ilustrasi. Black Death terjadi 600 tahun lalu, mirip dengan wabah virus corona pada masa sekarang. Membuat separuh umat manusia di dunia meninggal (Wikipedia)

BEBERAPA hari lalu dunia pendidikan kita diramaikan dengan isu akan dihapuskanya mata pelajaran sejarah. Berbagai pihak mengemukakan pandangannya dan perang opini isu ini pun sempat muncul beberapa hari sampai akhirnya, “Mas Menteri” mengeluarkan pernyataan, pihaknya tidak pernah mengemukakan wacana  penghapusan mata pelajaran sejarah. 

Tulisan sederhana ini tidak akan menyinggung  isu tersebut secara mendalam, namun  tulisan ini berupaya mengajak para pembaca untuk menyadari akan pentingnya mengkaji  sejarah dalam kehidupan. Orang bijak adalah orang yang menjadikan masa lalunya bukan sekedar kenangan, tapi dijadikan ibrah  dalam menentukan arah kehidupan pada masa mendatang.

Dengan kata lain, sejarah adalah pedoman atau guru yang mengajarkan kita untuk  meniti kehidupan dengan hati-hati, belajar dari kesuksesan dan kegagalan orang-orang pada masa lalu. Dalam kata-kata Herodotus, filosof dan sejarawan dunia, “historia vitae magistra”, sejarah adalah guru kehidupan.

Satu hal yang paling penting dari pelajaran sejarah adalah kita bisa mengambil ibrah dari perilaku orang-orang pada masa lalu. Jika kita membaca perilaku jelek orang-orang dalam sejarah yang mengakibatkan kecelakaan atau kesengsaraan dalam kehidupannya, kita dapat mengambil ibrah untuk tidak meniru perbuatan tersebut. Demikian pula dengan kesuksesan dan keberhasilan orang-orang  pada masa lalu, kita bisa meneladaninya dan menerapkannya dalam kehidupan.

Lebih dari semua itu, dengan mempelajari sejarah, kita dapat bertindak  hati-hati,  waspada, tepat,  dan bijak dalam mengambil tindakan tatkala kita menghadapi suatu peristiwa  yang persis sama dengan  peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu. Dikatakan demikian, sebab  peristiwa  masa lalu yang tercatat dalam  sejarah seperti lingkaran, berputar dari titik awal, dan kembali lagi ke titik semula. Peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu akan terulang lagi pada masa-masa kehidupan kita.

Beberapa teori filsafat sejarah mengisyaratkan akan teori lingkaran atau putaran sejarah tersebut.

Sebuah pepatah yang berasal dari Perancis mengatakan,  “l’histoire se repete”. Sejarah akan berulang. Kebaikan dan keburukan yang pernah terjadi pada masa lalu, akan terulang kembali pada saat ini dan pada masa yang akan datang meskipun dalam setting situasi dan kondisi yang berbeda.

Para sejarawan dunia seperti Ibnu Khaldun, Vico, Spengler, Toynbee memiliki teori gerak sejarah daur kultural. Teori ini sama seperti pepatah dari Perancis tersebut. Sejarah mempunyai daur kultural yang mengulangi kembali dirinya dalam satu bentuk atau lainnya.

Demikian pula para ahli filsafat Yunani memiliki pandangan seperti sejarawan dunia lainnya. Para filosof Yunani berkeyakinan akan adanya hukum siklus sejarah. Setiap kejadian atau peristiwa tertentu akan terulang kembali. Laksana matahari yang setiap pagi terbit, demikian  pula setiap peristiwa akan terulang kembali.

Berdasarkan teori siklus tersebut, tidaklah mengherankan jika muncul suatu kaidah, “di dunia ini tidak terdapat sesuatu (peristiwa) yang baru, sebab segala sesuatu itu berulang menurut hukum siklus. Masih berkenaan  dengan teori siklus ini, Jalaluddin Rummi, seorang ulama Sufi, dalam salah satu karyanya “Fihi Ma Fihi (hal. 354) mengatakan, “segala jenis karya manusia bukanlah sebuah karya yang baru, mereka sudah melihat yang serupa sebelumnya, lalu menirunya.”

Beberapa peristiwa yang terjadi pada saat ini, membuktikan kebenaran teori siklus tersebut. Sekedar contoh pencurian kain kafan yang menimpa jenazah seorang ibu muda di Jombang  Jawa Tengah (detiknews.com, Senin 21 September 2020, akses jam 08:30).  Peristiwa seperti ini pernah terjadi dalam sejarah kehidupan umat Islam pada masa lalu. Pada zaman Rasulullah saw masih hidup ada orang yang pekerjaannya mencuri kain kafan.  Sebab musabab  turunnya  Q. S. Ali Imran : 135 adalah berkenaan dengan taubatnya seorang pemuda yang pekerjaannya mencuri kain kafan.

Seperti dikatakan dalam teori siklus, peristiwa masa lalu akan kembali terulang dengan setting situasi dan kondisi yang berbeda. Analisa sederhana terhadap peristiwa pencurian kain kafan ibu muda di Jombang Jawa Tengah misalnya, peristiwanya sama yakni pencurian kain kafan. Namun setting situasi dan kondisinya berbeda. Jika pada masa dulu, motivasi pencuriannya  karena kemiskinan, mereka tak memiliki kain untuk baju. Sementara  orang yang melakukan pencurian kain kafan pada saat ini bukan lagi karena kemiskinan, tapi karena motivasi lain. Konon salah satunya untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh ilmu hitam.

Sejarah akan mempengaruhi arah dan kebijakan dalam kehidupan. Dalam khazanah hukum positif misalnya, sejarah dapat memberi arah terhadap vonis hukum terhadap suatu peristiwa yang dikomparasikan dengan vonis hukum  terhadap peristiwa sama  yang pernah terjadi pada masa lalu. Yurisprudensi merupakan “sejarah” keputusan-keputusan hakim terdahulu  yang dapat dijadikan pedoman bagi para hakim lain pada masa mendatang  dalam menyelesaikan suatu perkara yang sama.

Dalam khazanah hukum Islam pun sama. Misalnya, sababul wurud yakni  sebab musabab atau peristiwa yang melatarbelakangi sebuah hadits misalnya. Peristiwa yang terjadi sampai Rasulullah saw mengatakan atau menentukan suatu hukum akan menjadi acuan dalam menentukan suatu hukum pada era berikutnya, terutama dalam masalah ijtihad fiqhiyah. Secara ijtihadi, suatu hukum bisa berubah hukumnya jika dibaca sesuai dengan konteks sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya sebuah sabda Rasulullah saw.

Contohnya larangan (makruh hukumnya) buang air kecil dan buang air besar menghadap ke arah kiblat. “Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke barat.” (H. R. Bukhari -  Muslim).

Jika kita tidak mempelajari sejarah, meneliti peristiwa yang melatarbelakangi sabda Rasulullah saw tersebut, kita akan mendapatkan putusan hukum yang keliru. Hadits tersebut,   Rasulullah saw sabdakan di Madinah. Pada waktu itu, masyarakat masih terbiasa buang hajat di alam terbuka. Sementara  posisi arah kiblat dari Madinah adalah ke selatan, sehingga Rasululullah  saw mengatakan, “jika buang hajat  jangan menghadap ke arah kiblat (ke selatan) dan jangan pula membelakanginya (ke utara), tapi menghadaplah ke arah barat atau timur.

Jika hadits  tersebut  langsung diterapkan secara tekstual di negara kita, tanpa lagi melihat latar belakang peristiwanya,   justru tindakan  yang kita lakukan (ketika  BAK,  dan BAB) akan bertentangan dengan sabda Rasulullah saw tersebut, sebab arah kiblat di negara kita pada umumnya ke arah barat miring sedikit ke arah utara. Arah yang tepat ketika kita buang hajat di daerah-daerah yang ada negara kita adalah bertentangan  dengan hadits tersebut, yakni menghadap ke selatan atau ke utara.

Lebih dari itu, secara fiqih,  jumhur  ulama ahli fiqih selain  madzhab  Hanafiyah berpendapat, hukumnya tidak dimakruhkan buang hajat (BAK maupun BAB) menghadap kiblat, asalkan dilakukan di toilet atau tempat khusus buang hajat, dan tempatnya tertutup.

Itu hanya sebagian contoh kecil dari pentingnya mempelajari dan mengkaji sejarah. Masih banyak manfaat lainnya yang dapat kita raih dari mempelajari sejarah. Singkatnya belajar sejarah sangatlah  penting dalam menentukan arah berbagai lini kehidupan. Al-Qur’an sendiri telah menekankan kepada kita untuk mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang menimpa orang-orang terdahulu.

 

Penulis,  Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut  Jawa Barat.

Komentar

Loading...