Breaking News

Sakit Moral

Sakit Moral
Ilustrasi.Paxibay

MESKIPUN tidak memahami ilmu kedokteran, pada umumnya setiap orang bisa membedakan rasa sakit dan sehat.  Ketika seseorang merasakan kepalanya terasa berat dan pusing, maka ia mendiagnosa sedang  ada sesuatu yang ganjil dengan kepalanya. Demikian pula ketika seseorang merasakan serba pahit di lidah ketika mengunyah  makanan, maka ia akan mendiagnosanya, pasti sedang ada sesuatu yang ganjil dengan lidahnya.

Ketika seseorang tidak enak makan, tidak enak tidur, tidak lancar buang air besar atau buang air kecil, tidak bisa tidur, sesak nafas, dan lain sebagainya, secara kasat mata sudah bisa dipastikan ada penyakit atau gejala penyakit yang sedang menyerang tubuh.  Menyadari akan kondisinya, ia segera berkonsultasi dengan ahli kesehatan, baik perawat maupun dokter.

Demi kesehatan tubuh ragawi, hampir semua orang selalu siap melaksanakan saran para ahli kesehatan. Selain itu, hampir semua orang mengupayakan dapat mengkonsumsi makanan sehat sebagai salah satu upaya  menjaga kesehatan tubuh.

Olah raga, memperbanyak bergerak dan berjalan sedapat mungkin dilakukan setiap hari. Kegiatan fisik yang menguras tenaga dan memeras keringat ini pun diakui sebagai salah satu cara menjaga kesehatan fisik.

Berbagai ilmu pengetahuan praktis  yang membahas kebugaran, metode diet sehat, makanan sehat, dan ilmu pengetahuan lainnya yang berhubungan dengan kesehatan dan kebugaran tubuh banyak  dipelajari orang. Komunitas olah raga, komunitas  diet sehat, dan komunitas  hidup sehat lainnya pun banyak bermunculan dengan jumlah pengikut yang bertambah setiap harinya.

Ini merupakan suatu kenyataan yang menggembirakan. Dengan cara seperti ini, masyarakat yang sehat sebagai sumber daya utama pembangunan suatu bangsa akan tercapai. Namun demikian, pada umumnya kebanyakan dari  kita fokus kepada kesehatan fisik, dan agak melupakan kesehatan jiwa dan kesehatan moral. Kita kurang peduli dengan kondisi kesehatan spiritual  dan sosial.

Ketika kita tidak merasakan kekhusyukan dalam ibadah shalat, kita jarang mendiagnosa diri misalnya dengan mengatakan  jangan-jangan ada yang salah dengan hati kita. Demikian pula ketika kita  sulit bangun malam untuk melaksanakan shalat malam, malas melakukan istighfar, malas membaca al Qur’an, dan malas melaksanakan kegiatan ibadah lainnya, kita tak pernah mendiagnosa diri, “jangan-jangan jiwa atau hati kita sedang sakit.”

Selayaknya kita menyadari, jiwa atau hati kita kita pun sama halnya seperti fisik, bisa sehat, bisa pula sakit. Dalam sebuah hadits, penyakit hati diibaratkan seperti besi yang berkarat.

“Sesungguhnya hati ini bisa berkarat seperti berkaratnya besi apabila terkena air. Ia ditanya ‘Ya Rasulullah, bagaimana membersihkannya?’  Ia menjawab, ‘memperbayak mengingat akan datangnya kematian dan membaca al Qur’an’ ” (H. R. Baihaqi, Mirqatu al Mafaatih Juz V hadits nomor 2168).

Kehidupan sosial pun bisa sehat,  bisa pula sakit. Ketika kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang guyub, saling menghormati, menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, saling membantu, saling menyayangi,  dan saling memperhatikan, berakhlak baik, berarti kita tengah hidup di tengah-tengah kehidupan sosial yang sehat.

Sebaliknya, jika lingkungan hidup kita penuh kegaduhan, saling benci, saling ejek, saling ancam, penuh kedendaman, saling mejatuhkan,  merasa benar sendiri, penggunaan bahasa yang jelek, berarti kita tengah hidup di tengah-tengah kehidupan sosial yang sedang sakit. Kita harus secepatnya mendiagnosa penyakit, penyebab, dan segera mencari obatnya.

Lingkungan sosial yang tidak sehat akan melahirkan moral yang tidak sehat. Lingkungan kehidupan sosial yang tidak sehat biasanya bersikap permisif, menganggap perbuatan jelek sebagai sesuatu kewajaran karena sudah dilakukan banyak orang.  Ketidakjujuran yang memasyarakat dan kebohongan yang tidak lagi dianggap perbuatan nista merupakan salah satu imbas dari lingkungan kehidupan sosial yang tidak sehat.

Apabila  kita menelusuri kehancuran bangsa-bangsa terdahulu, penyebabnya lebih banyak diakibatkan  tersebarnya penyakit sosial, penyakit moral, daripada  karena penyakit yang menyerang secara fisik. Dalam al Qur’an telah dikisahkan kehancuran beberapa negeri dan kaum seperti Saba, kaum Nabi Luth, kaum nabi Hud, dan lain sebagainya. Penyebab kehancurannya  bukan karena penyakit secara fisik, namun disebabkan penyakit sosial dan moral.

Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan dari Cortland University-USA,  mengungkapkan,  terdapat sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai. Jika tanda-tanda ini sudah ada dalam suatu bangsa, kemungkinan bangsa tersebut sedang berjalan menuju jurang kehancuran.

Tanda-tanda yang dimaksud adalah meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan; meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas; semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; menurunnya etos kerja; semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara; membudayanya ketidakjujuran; dan  adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Penyakit moral baik yang menimpa kehidupan individu maupun kehidupan beragama, berbangsa, dan benegara jarang disadari kehadirannya. Kita pun jarang mendiagnosa penyebabnya. Kita baru panik mencari penawarnya setelah penyakit moral tersebut menyebar dan mengancam kehidupan kita.

Salah satu penyakit moral yang melanda kehidupan bangsa pada umumnya adalah kebiasaan bersikap lain di bibir, lain di hati.  Seperti dikatakan Vaclay Havel, Presiden Cekoslovakia era 1989-an, kita jatuh sakit secara moral karena kita terbiasa mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita pikirkan. Kita belajar untuk tidak mempercayai apapun, mengabaikan satu sama lainnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, sikap egois dan merasa benar sendiri lebih banyak dimunculkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sementara sikap saling mencintai, mempererat persahabatan dan persaudaraan, kerendahan hati, kerelaan untuk memaafkan sudah kehilangan makna dan dimensi-dimensinya. Konsep-konsep moral yang baik terasa aneh ketika dimunculkan dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari (Speeches that Change the World, Quercus Publishing, London, 2006 : 212).

Untuk kelangsungan hidup kita, bangsa kita, dan kehidupan anak cucu kita pada masa depan, alangkah bijaknya jika selain kita menjaga kesehatan fisik, juga menjaga kesehatan sosial dan moral. Sakit fisik yang melanda seseorang dan suatu bangsa berbahaya, namun akan jauh lebih berbahaya jika penduduk suatu bangsa mengidap penyakit sosial dan moral. Tugas pertama Rasulullah saw sendiri adalah memperbaiki akhlak atau moral, dan lingkungan sosial kehidupan manusia, bangsa Arab pada waktu itu.  ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...