Sabar Dalam Berdakwah

Sabar Dalam Berdakwah
lustrasi. Foto/Pond5

”PEDIH dan sedih. Begitulah perasaan Rasulullah saw ketika kaum Thaif menolak kedatangannya. Mereka bukan saja menolak  dengan kata-kata, mereka pun menganiayanya. Mereka melempari Rasulullah saw dengan batu sampai tubuhnya yang mulia terluka dan  berdarah. 

Dalam perjalanan pulang, Malaikat Jibril mendatanginya. Ia berkata, ’Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.

Kemudian Malaikat penjaga gunung berkata, “Wahai Rasulullah! Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintah sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

Nabi saw menjawab, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka, generasi yang taat beribadah dan  tidak menyekutukan-Nya.”

Jauh sebelum dakwah ke Thaif, di depan kakbah,  Rasulullah saw berdo’a,  ”Allahumma ayyidil Islam bi Abi al Hakam Ibnu al Hisyam au bi Umar ibnu al Khattab (Ya Allah! Perkuat  Islam dengan Abdu al Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau dengan Umar bin Khattab).”

Ia berdo’a seperti itu setelah ia melihat kekuatan dan wibawa mereka berdua. Ia menginginkan salah seorang atau kedua-keduanya menjadi pembela Islam. Do’anya terkabul. Umar bin Khattab menjadi pembela Islam sampai akhir hayatnya.

Meskipun perjalanan dakwahnya penuh liku-liku kesedihan, penghinaan, ancaman, dan berbagai penderitaan, ia benar-benar sabar dalam menghadapinya. Seberat apapun, ancaman dari orang-orang yang menentangnya, ia selalu mendo’akan kebaikan bagi mereka.  

Rasulullah saw melaksanakan dakwah bukan hanya secara lahiriah saja, namun ia juga mengirinya dengan upaya spiritual, muqarrabah,  mendekatkan diri kepada Allah swt. Dakwah bukan hanya retorika, permainan kata-kata belaka agar menarik perhatian orang,  namun dakwah merupakan perjuangan yang memerlukan pendekatan diri kepada Sang Khalik.

Setiap malam, ia mengurangi tidur. Pada keheningan sepertiga malam, ia bangun, bemunajat melalui shalat malam; mengadukan segala permasalahan yang sedang dihadapinya kepada Allah.

Itulah sepenggal peristiwa dari perjalanan dakwah Rasulullah saw yang harus menjadi pelajaran  bagi kita. Dakwah yang sebenarnya bukanlah suatu  perjalanan  manis, namun perjalanan pahit, mendaki yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang teguh keyakinannya kepada Allah, sabar, dan tak mengenal putus asa dalam menjalaninya.

Sudah menjadi sunatullah dakwah memerlukan proses waktu untuk meraih keberhasilannya. Kesabaran, keyakinan kepada Allah, sungguh-sungguh dalam melaksanakannya, dan tawakal kepada-Nya merupakan modal utama  untuk meraih keberhasilannya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga serta bertawakallah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Q. S. 3 : 200).

Dalam suatu peperangan, empat puluh ribu orang tentara muslim dapat mengalahkan tentara Kerajaan Romawi Timur (Bizantium) yang berkekuatan dua ratus empat puluh ribu orang prajurit. Heraclius, Raja Romawi Timur pada waktu itu merasa heran, mengapa umat Islam bisa mengalahkan pasukannya?

Kemudian Sang Raja memerintahkan kepada anak buah dan ahli agama untuk menelitinya. Setelah sekian lama meneliti, orang-orang yang diperintah Sang Raja menyampaikan hasil penelitiannya.

“Kami telah menemukan empat kunci sukses keberhasilan mereka. Pertama, mereka tak pernah melupakan shalat tahajud, dan selalu mengingat akan kebesaran Allah;  selalu memohon petunjuk dan pertolongan-Nya. Kedua,  mereka tak serakah ketika perjuangannya membuahkan hasil. Ketiga, mereka selalu menjaga silaturahmi dan persaudaraan. Keempat, mereka selalu berjuang sepenuh hati, pantang menyerah dan pantang berputus asa dalam berjuang.”

Sang Raja termenung mendengar jawaban mereka. Kemudian ia berkomentar, ”Kalau demikian, mereka tak terkenal di muka bumi, namun mereka sangat pantas terkenal di langit. Kemenangan pantas mereka peroleh. ”

Dakwah laksana peperangan.  Perang antara hak dan bathil, perang antara ketaatan dan kemaksiatan. Dakwah juga merupakan ibadah dan perjalanan mulia yang berpahala besar. Sudahkah kita memiliki kesabaran, selalu mendekatkan diri,  dan kesungguh-sungguhan dalam menjalankannya? Apakah dakwah yang kita lakukan pada saat ini hanya memperhalus penampilan dan retorika saja? Sudahkah keikhlasan tertanam di hati kita?

“Barangsiapa yang mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, ia akan memperoleh pahala kebaikan sebagaimana pahala orang yang melaksanakannya” (H. R. Muslim, Ahmad, dan At Tirmidziy).

Sudah seharusnya kita berlindung kepada Allah swt dari kesia-siaan dakwah yang kita lakukan,  seraya menjauhi dakwah yang hanya memperindah penampilan dan retorika belaka, tidak ikhlas, dan jauh dari keteladanan.

Abu al Najib al Suhrawardi, seorang filosof muslim dan ulama sufi memberikan petuah, “Setiap kata-kata yang hanya mengandalkan kekuatan retorika belaka, jauh dari keikhlasan, tanpa muqarrabah kepada Allah, takkan menimbulkan bekas apa-apa di hati para pendengarnya, selain bagaikan air di daun talas. Sebaliknya, jika kata-kata itu keluar dari hati yang bersih, ia akan masuk ke dalam hati orang yang mendengarnya, menggerakan hati, pikiran, dan raganya untuk selalu berbuat kepada kebaikan.” (Abu al Najib al Suhrawardi, A Sufi Rule for Novices).*

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggai Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...