iklan bener Duka Cita Gub - Bambang

Rustam Effendi: Realisasi APBA 2018 Belum Optimal, Persoalan Klasik Harus Segera Dituntaskan

Rustam Effendi: Realisasi APBA 2018 Belum Optimal, Persoalan Klasik Harus Segera Dituntaskan
Pengamat Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi. Foto/Cakaraduani/Syukran Jazila

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh - Serapan Anggaran Pendapatan Belanja Aceh tahun 2018 dinilai belum optimal pada realisasi keuangannya. Hal tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi.

Berdasarkan pantauan pada situs p2k.apba.aceh prov.go.id tertulis jumlah APBA 2018 sebanyak 15,084 Triliun. Realisasi keuangan sampai 31 Desember 2018 mencapai 81,8 persen dan realisasi fisik mencapai 98,7 persen.

Sementara target keuangan sampai 31 Desember mencapai 85 persen dan target fisik mencapai 99,0 persen. Devisit keuangan -3,2 persen dan devisit fisik mencapai 0,3 persen.

Rustam menjelaskan, jika mengacu pada angka 85 persen namun realisasi hanya mencapai 81 persen, maka itupun belum maksimal, berarti ada ketidakmampuan memenuhi sekitar 3 persen.

"Kita punya uang tapi tidak sanggup kita habiskan, walaupun kita bukan perusahaan tapi uang itu harus kita habiskan," kata Rustam kepada CAKRADUNIA.CO, Senin 7 Desember 2018 di Banda Aceh.

Ia juga mengatakan, jikapun 81 persen anggaran  tersebut dihabiskan,  maka harus tepat sasaran seperti digunakan untuk pelayanan dasar dan kebutuhan masyarakat.

"Kalau alokasinya tidak efisien, tidak tepat dan uang habis bagaimana? Saya kira kita sudah  jatuh ketimpa tangga lagi," ujarnya.

Kondisi tersebut menurutnya buruk, apabila jika dilihat dari progress pengesahan APBA itu sendiri yang  mengacu pada proyeksi oleh pihak dinas dan pengesahan lamban waktu itu, karena melalui Pergub.

Imbas dari itu semua kata Rustam, lambatnya pertumbuhan ekonomi di Aceh, kemudian ada pelayanan dasar yang belum terpenuhi. Pengangguran masih banyak di Aceh, angka angka kemiskinan masih berada 0,7 persen, Ditambah lagi daya beli masyarakat menurun.

"Kalau APBA tidak maksimal, maka lapangan usaha juga tidak maksimal, misal di pertanian ada input yang macet, ada benih yang tidak bisa di suplai, ada pupuk yang tidak bisa disubsidi, ada jembatan putus yang tidak bisa dibangun, karena uang tidak terpakai," katanya.

Rustam juga menambahkan, persoalan-persoalan ekonomi klasik di Aceh yang belum terselesaikan ia meminta eksekutif dan legislatif harus duduk bersama dan selesaikan. Hal ini jangan sampai terjadi dan berpengaruh pada realisasi APBA kedepan.

"Sekarang kita butuh aksi nyata dari kedua belah pihak antara eksekutif dan legislatif supaya jangan sampai terulang lagi di tahun 2019, Aceh punya potensi pengelolaan dibidang pertanian desa, pelajari potensi itu untuk membangkitkan ekonomi rakyat Aceh", tutupnya.

Syukran Jazila

Komentar

Loading...