Revitalisasi & Reaktualisasi Sastra Aceh Sebagai Sumber Kearifan

Revitalisasi & Reaktualisasi Sastra Aceh Sebagai Sumber Kearifan
Sastra Aceh

1.Pedahuluan

Sebuah adagium dalam masyarakat Nusantara: bahasa menunjukkan bangsa memberitahukan kita betapa bahasa menjadi cermin tempat kita melihat diri sendiri dan orang lain. Demikian pula dengan sastra, produk dari bahasa, yang di dalamnya berkelindan aneka tingkah polah, catatan perilaku, dan pemikiran dalam berbagai sisi kehidupan mikro dan makro. Karena itu, dalam konsep sosiologi sastra diyakini bahwa sastra adalah cermin kehidupan masyarakat pada suatu zaman tertentu (Damono, 1979).

Salah satu bahasa yang memiliki khazanah karya sastra yang sangat kaya dan monumental adalah bahasa Aceh. Sastra Aceh tetap memiliki ciri atau identitas sendiri, baik yang digubah dalam bentuk lisan, tulis, cetak, maupun dunia maya. Identitas ini perlu dipelihara dengan baik. Inilah seharusnya pekerjaan utama para akademisi atau pemerhati sastra Aceh, terutama insan yang berada di perguruan tinggi. Kegiatan memelihara identitas sastra Aceh ini amatlah berat, mengingat banyak generasi Aceh yang tidak mau atau enggan menaruh ‘simpati’ dan ‘empati’ terhadap khasanah sastra ‘indatu’nya. Karena itu, dibutuhkan kepedulian dan kerja ekstra untuk menjaganya dari kelangsungan hidupnya. Demikian juga dibutuhkan ‘daya tarik’ ekstra untuk menarik generasi Aceh  dan  pecinta  sastra  untuk  menjadi  pelaku,  pelestari, pengembang, dan peneliti sastra Aceh yang handal.

Merawat identitas sastra Aceh dan mengembangkannya haruslah melalui proses revitalisasi dan reaktualisasi. Revitalisasi, dalam konteks ini, diterjemahkan sebagai upaya pelestarian atau perawatan, atau pemertahanan, atau menghidupkan kembali sastra Aceh, sehingga sastra Aceh tetap eksis dan hidup berkesinambungan sebagai salah satu kekayaan budaya manusia Aceh yang beradab (civilize).

Sementara itu, reaktualisasi diterjemahkan sebagai upaya penyegaran, pengembangan, dan atau pembaruan sastra Aceh sehingga ia diterima kembali oleh masyarakat pemiliknya sebagai sesuatu yang bernilai dalam hidup mereka serta sesuai dengan masa kini (lihat Depdiknas, 2005). Revitalisasi dan reaktualisasi tersebut akan berlangsung dengan baik jika dilakukan oleh lembaga pendidikan formal melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, pendokumentasian, dan publikasi yang terstruktur dan memadai. Dalam hal ini, lembaga dimaksud adalah perguruan tinggi, khususnya Universitas Syiah Kuala sebagai universitas modern pertama di Aceh dan memiliki sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Reavitalisasi dan reaktualisasi sastra Aceh penting dilakukan karena di dalamnya terkandung berbagai mutiara kehidupan atau nilai-nilai yang sangat bermanfaat dalam kehidupan.    

2. Jenis Sastra Aceh

Sastra Aceh dapat dibagi dalam tiga jenis, yaitu prosa fiksi, puisi, dan prosa liris. Prosa fiksi dikenal dengan istilah haba. Ia terbagi atas dongeng, mite, dan legenda. Ini mengacu kepada teori folklore menurut Bascom (1965). Kelompok dongeng terbagi lagi atas (1) dongeng biasa, (2) dongeng binatang, (3) dongeng berumus, dan (4) dongeng berupa anekdot dan lelucon. Khusus tentang anekdot dan lelucon Aceh (humor), sangat sedikit penelitian secara akademis, salah satunya oleh Yunus, dkk (1997). Padahal, anekdot dan lelucon juga banyak merekam realitas kehidupan masyarakat. Beberapa contohnya adalah Meuriam Puteh Ulee (Merian Putih Kepala), Lagee Mie Mabok Beulacan (Seperti Kucing Mabuk Belacan), Ceuramah Mauled (Ceramah Maulid), Sirih dan Apa (Sirih [Si Idris/ranub] dan Apa [paman]), dan Si Bakar dan Si Jamin (lihat Harun, 2012).

Jenis puisi (poem; poetry) berbahasa Aceh meliputi pantôn (pantun), h’iem (teka-teki), miseue (peribahasa), caé  (syair), pepatah, nalam (nadham), nasib (puisi cinta), mentra atau neurajah (mantera), seulaweuet (shalawat, puisi yang mengagungkan rasulullah),  meurukon,  dodaidi  (Inggris:  lullaby),  pemeo,  dan idiom. Dalam jenis puisi ini, ada salah satu genre puisi yang sangat khas, yaitu hadih maja atau narit maja. Hadih maja berfungsi menyampaikan nasihat dari orang-orang bijak; dari tetua. Hadih maja menjadi genus beberapa bentuk puisi  lisan  lainnya, yaitu pantôn, caé, miseue, pepatah, perumpamaan, tamsil, ibarat, pemeo, dan idiom. Atas dasar ini hadih maja bukanlah hanya  peribahasa. Dengan kata lain, peribahasa atau miseue Aceh tidaklah identik dengan  hadih  maja.  Peribahasa  hanya  salah  satu  jenis  hadih  maja  (lihat disertasi Harun, 2006).

Puisi paling popular dalam masyarakat Aceh adalah pantun. Ha ini karena pantun merekam berbagai sisi kehidupan manusia dari segala golongan dan usia. Ia terdiri atas (a) pantun agama, (b) pantun nasihat, (c) pantun adat, (d) pantun nasib, (e) pantun muda, (f) pantun jenaka, (g) pantun teka-teki, (h) pantun dukacita, (i) pantun anak-anak, dan (j) pantun seumapa. Saat ini, pantun yang masih sering dipraktikkan adalah pantun seumapa, yaitu pantun pada upacara prosesi perkawinan, sejak melamar sampai pesta perkawinan berlangsung (Royani. 1994).

Prosa liris termasuk bentuk yang unik dalam sastra Aceh. Ditinjau dari segi bentuknya, prosa liris adalah puisi, tetapi dari segi isinya, ia disebut prosa (bentuknya puisi, substansinya prosa),  sehingga  dapat  disetarakan dengan  roman  atau  novel dalam istilah sastra modern. Dengan kata lain, prosa liris adalah prosa dengan bahasa berirama atau bahasa bersajak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005:899) disebutkan bahwa “prosa lirik atau prosa berirama berarti karya sastra yang ditulis dalam ragam prosa, tetapi dicirikan oleh unsur-unsur puisi, seperti irama yang teratur, majas, rima, asonansi, disonansi, dan citra”.

Dalam kesusastraan Aceh, prosa liris ini mendominasi cerita-cerita atau kisah-kisah kepahlawanan (heroic), sejarah, perjalanan (safari), yang kemudian sebagian besar dituliskan dengan nama hikayat (ikayat, iekayat). Belum ada penelitian sejak kapan istilah hikayat digunakan untuk jenis prosa liris ini. Apakah ada istilah asli Aceh? Namun, sangat patut diduga bahwa sebelum mengenal istilah hikayat (Arab: hikayah), bentuk sastra yang disebut hikayat sekarang ini sudah lama eksis di Aceh. Selain itu, banyak ajaran keagamaan dan pelajaran moral disampaikan atau digubah dengan bahasa berirama, tetapi tetap juga dinamakan hikayat. Beberapa di antara hikayat agama dimaksud adalah (1) Hikayat  Akhbarulkarim, (2)  Hikayat  Akhbarulhakim, dan  (3)  Dike  Aceh  dan Shalawat Nabi oleh Teungku Bustami Mahmud (lihat Harun, 2001). Kelompok hikayat agama ini disebut juga sebagai sastra kitab atau sastra yang berisikan ajaran-ajaran agama Islam.

Ditinjau dari segi isi, hikayat Aceh dapat digolongkan ke dalam (1) hikayat agama, (2)  hikayat cerita,  (3)  hikayat sejarah, (4)  hikayat safari, (5)  hikayat perang, (6) hikayat undang-undang (pembagian hikayat Aceh menurut Hasjmy; Hanafiah, dalam Ara, dkk. 1995), (7) hikayat makanan atau kuliner, dan (8) hikayat biografi. Contoh hikayat makanan/pertanian adalah Hikayat Asai Pade (Waardenburg, 1936), sedangkan hikayat biografi adalah Hikayat Ibrahim Hasan (Syamhas, 1999). Temuan hikayat makanan dan hikayat biografi menunjukkan bahwa hikayat Aceh ada yang masih tersembunyi dan ada juga yang terus berinovasi.

3. Kearifan dalam Sastra Aceh

Banyak sekali kearifan terkait dengan eksistensi sastra Aceh. Di antara yang sangat  penting adalah bahwa sastra dijadikan media atau model pembelajaran dan sebagai sumber kearifan.

A. Karya Sastra Aceh sebagai Model Pembelajaran 

Ada dua model pembelajaran berbasis sastra dalam kebudayaan Aceh, yaitu model monologis dan model dialogis. Umumnya, model pembelajaran tersebut lebih banyak dikemas dalam bentuk sastra kitab sebagaimana dimaksudkan Braginsky (1998).

Model Pembelajaran Monologis

Banyak karya sastra Aceh yang digunakan untuk membelajarkan berbagai masalah kehidupan, mulai dari masalah agama sampai masalah lingkungan hidup. Perihal agama, misalnya, terdapat dalam bentuk puisi nalam (nazm) (periksa contoh dalam Lamnyong, 1974) dan nyanyian untuk menyanjung Rasul Muhammad yang dikenal sebagai seulaweuet (Harun, 2012). Demikian juga dengan peurateb aneuk atau doda idi yang banyak menanamkan dimensi ideologi keislaman sejak anak masih usia nol tahun. Masalah lingkungan hidup, misalnya, terdapat nyanyian-nyanyian berkenaan dengan bagaimana cara menjaga alam, termasuk menjaga kesinambungan persediaan makanan di alam. Berikut contohnya. 

Pok ayé-ayé
Boh ram itam tangké
Nyang putik taprom di bak
Nyang masak tapajôh lé Pok aye-aye
Artinya:
Buah ram hitam tangkai
Yang putik simpan di batang
Yang masak makanlah segera

Nyanyian ini sesungguhnya berisikan pembelajaran kepada generasi penerus agar tetap menjaga keberlangsungan makanan. Hanya makanan yang sudah layak dimakanlah yang boleh dipetik untuk dimakan (Harun, 2016). Hal ini tidak hanya berlaku untuk buah ram, tetapi untuk semua buah-buahan lain, seperti mangga, manggis, langsat, dan durian. Dipilihnya diksi buah ram karena salah satu kesenangan anak-anak di Aceh dulu adalah menggunakan buah ram yang masih putik sebagai peluru bedil bambu. Dalam konteks ini anak-anak diajarkan bagaimana cara menjaga kelestarian makanan, sekaligus belajar menahan nafsu diri sendiri. Dari sisi revitalisasi, simbol boh ram perlu dipertahankan mewakili buah-buahan tanrawat. Sementara itu, dari sisi reaktualisasi diperlukan upaya menciptakan kebaruan contoh terkait bagaimana menjaga keseimbangan dan kesinambungan ketersediaan makanan di alam.

Model Pembelajaran Dialogis

Karya sastra Aceh yang berhubungan dengan model pembelajaran dialogis yang paling umum dikenal adalah meurukon. Hal ini karena meurukon adalah puisi Aceh yang membincangkan masalah keagamaan antarkelompok; antara dua kelompok atau lebih. Masing-masing kelompok bertukar peran sebagai penanya dan penjawab dengan media puisi lisan (Harun, dkk., 2020). Di sinilah letak kehebatan intelektual Aceh tempo dulu membelajarkan berbagai masalah agama secara estetis-didaktis-filosofis. Artinya, seorang pembelajar sekaligus dapat memperoleh ilmu dan kesenangan. Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu lainnya. Penelitian tentang meurukon, antara lain, pernah dilakukan oleh Mirza dan Aksa (2010), Nurhayati dan Iqbal (2018), Wahyudi (2018), Warahmah (2018), dan Harun, dkk. (2020).

Model pembelajaran meurukon diyakini dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Ini sejalan dengan pandangan Joyce dan Weil (1980:6) bahwa salah satu tujuan pembelajaran adalah menciptakan lingkungan untuk mempermudah pembelajaran. Selain itu, meurukon didisain sebagai media pembelajaran interaktif-dialogis. Istilah ‘dialogis’ dapat merujuk pada perilaku yang saling menghargai atas perbedaan ide (Bakhtin, 1986). Pembelajaran interaktif-dialogis adalah teknik belajar-mengajar untuk memotivasi pembelajar agar mau bertanya dan menjawab (tanya-jawab) selama belajar. Model ini dapat meningkatkan kecerdasan atau keterampilan berpikir pembelajar karena mereka diajak berpikir secara mendalam saat berdialog secara interaktif (Alexander, 2006; Lyle, 2008; Mortimer & Scott, 2003; Skidmore, 2006). Berikut salah satu cuplikan Meurukon.

Su-eue :

Ngon bismillah tapujoe Tuhan Ulon tanyong bak syaikhuna Syarah Islam neuci peutrang Peugah bandum padum perkara
Arti Islam neuci seubut Kiban maksud neuboh makna Binasa Islam hai teungku cut Nyan pih beujeuet hai syaikhuna

Soal :

Dengan bismillah memuji Tuhan

Saya tanyakan pada syaikhuna Syarah Islam mohon terangkan Jelaskan semua berapa perkara
Arti Islam cobalah disebut Bagaimana maksud berilah makna Binasa Islam wahai teungku cut Itu pun harus tahu wahai syaikhuna

Rukun Islam pun harus paham Coba sebutkan wahai syaikhuna

Jaweub:

Arti Islam na tatuban
Suroh Tuhan takeurija Teugah Allah tapeujeu-oh Larang bek roh uleh gata
Rukon limong nyang phon syahdat Seumayang nyan nyang keudua Rukon keulhee tabri zakeuet
Soe nyang na jeuet mat hareuta
....
Ohnoe abeh kabar zakeuet
Rukon keupeuet tapuasa
Soe puasa buleuen Ramadhan
Page taulan nekmat teuka
.....
Rukon keulimong ta-ek haji Soe beureuhi na kuasa
Tunai rukon ibadah haji

Ka samporna limong peurkara
Ka samporna limong peurkara

Nyan jawaban peue na beutoi
Neuci seubut hai syaikhuna
Meunyo salah meu’ah meulakee Ateueh ulee jaroe dua

Jawab : 

Arti Islam ketahuilah
Suruh Tuhan kita kerjakan Larangan Allah jauhkanlah Jangan Anda termasuk di sana
Rukun lima pertama syahadat
Shalat itu yang kedua
Rukun ketiga keluarkan zakat
Bagi siapa yang punya harta
....
Selesai sudah tentang zakat
Rukun keempat kita puasa
Siapa yang puasa bulan Ramadhan
Akhirat taulan nikmat tiba
....
Rukun kelima naik haji Siapa kuat dan kuasa Tunai rukun ibadah haji
Sempurna sudah lima perkara
Sempurna sudah lima perkara

Itulah jawaban entah betulkah Tolong tanggapi wahai syaikhuna Jika salah mohon maafkan
Di atas kepala tangan yang dua

B. Karya Sastra Berisi Kearifan dalam Dimensi Pemikiran

Karya sastra Aceh yang berisi kearifan dalam dimensi pemikiran terdapat dalam semua genre, baik puisi, prosa fiksi, maupun prosa liris. Karena keterbatasan ruang, dalam tulisan ini hanya dipaparkan genre puisi dan itu pun terbatas pada salah satu jenis puisi, yaitu hadih maja (berdasarkan penelitian Harun, 2006;2009), khususnya nilai dalam hadih maja. 

Pemikiran dalam Dimensi Nilai Religius

Nilai religius dalam hadih maja berkenaan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Nilai yang berkaitan dengan akidah meliputi (1) pengakuan akan ke-ADA-an Allah, yang terdiri atas pengakuan akan (a) keberadaan Allah, (b) kekekalan Zat Allah, (c) keesaan Allah, (d) kebenaran janji Allah; (2) pengakuan keberadaan Rasul Allah, (3) pengakuan kebenaran Kitabullah, (4) pengakuan hari akhirat, (5) pengakuan qadha dan qadar, dan (6) pengakuan kewajiban bertindak benar (amar makruf dan nahi mungkar). Nilai religius bidang ibadah dalam hadih maja meliputi (1) ibadah shalat, (2) mengeluarkan zakat, (3) memberi sedekah, dan (4) taubat. Sebagian nilai tersebut disampaikan secara umum dan sebagian disampaikan secara khusus. Nilai religius muamalah meliputi (1) jihad, (2) kewajiban berusaha, (3) membayar utang, (4) menegakkan peradilan, (5) pernikahan, (6)  perceraian, (7) perihal perzinaan, (8) harta warisan, (9) jinayah, dan (10) menjauhi sifat munafik. Nilai religius muamalah ini merupakan representasi akidah dan ibadah yang mengatur keharmonisan antarmanusia dan manusia dengan alam lingkungan hidup.

Dari aspek nilai religius tampak bahwa hadih maja merepresentasikan nilai religius secara vertikal dan horizontal; dua sisi keislaman yang membutuhkan keyakinan dalam akidah, kebenaran dalam beribadah, dan keikhlasan bermuamalah. Secara vertikal, nilai religius menuntun manusia untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik, sedangkan secara horizontal, nilai religius hadih maja memberikan pencerahan bagi manusia untuk berlaku santun dan bijak dalam interaksi antarmanusia, tidak hanya antarumat seagama, tetapi juga antarumat beragama. Dengan kata lain, nilai religius berhubungan dengan dimensi habluminnallah dan hablumminannas.

Pemikiran dalam Dimensi Nilai Filosofis

Nilai filosofis hadih maja merepresentasikan pandangan hidup orang Aceh berkaitan dengan persoalan kehidupan manusia dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar representasi cinta pengetahuan, tetapi yang lebih utama adalah cinta kebijaksanaan. Nilai filosofis itu berkenaan dengan (1) prototipe watak orang Aceh, (2) sistem demokrasi, (3) sistem hukum dan perundang-undangan, (4) manajemen hidup, (5) etos kerja, (6) prinsip harmoni kehidupan, (7) prinsip kepemimpinan, (8) prinsip pengultusan, (9) prinsip kewaspadaan, (10) konsep keadilan, (11) konsep tentang musuh, (12) konsep dendam, (13) konsep tabu, dan (14) konsep kebenaran.

Prototipe watak orang Aceh adalah ciri khas orang Aceh yang mewarnai pola pikir dan pola tindak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Ciri khas tersebut meliputi watak (1) reaktif, (2) militan, (3) optimis, (4) konsisten, dan (5) loyal.

Sistem demokrasi meliputi pengakuan akan perbedaan antarindividu. Sebab, dasar demokrasi orang Aceh adalah mengakui adanya perbedaan pandangan. Dalam forum musyawah, misalnya, semua orang harus hadir dengan mengusung keikhlasan (hati yang bersih) dan mengakui keputusan bersama sebagai keputusan tertinggi (Bah surang-sareng, asai puteng jilob lam bara).

Sistem hukum dan perundang-undangan Aceh harus memenuhi prinsip bahwa (1) hukum tidak boleh direkayasa; (2) proses hukum harus berjalan sesuai aturan yang berlaku; (3) hukum harus memenuhi prinsip-prinsip keadilan yang bermartabat; dan (4) kejelasan pihak-pihak yang terkait hukuman. Kemurnian hukum harus selalu dijaga, karena hukum tidak boleh dimanipulasi oleh siapa pun. Proses hukum harus mengikuti rambu-rambu: kupas, sidik, tanyakan, periksa (sék, sidék, usui, paréksa).

Dari sudut manajemen hidup terdapat konsep bahwa setiap individu dewasa harus memahami secara benar apa yang seharusnya dilakukan dan apa akibat yang timbul dari setiap tindakan. Sementara itu, etos kerja orang Aceh didasari oleh prinsip utama bahwa bekerja mencari rezeki adalah kewajiban setiap individu. Prinsip-prinsip itu meliputi perihal (1) tidak boleh menyia-nyiakan waktu berusaha; (2) mengetahui bidang usaha andalan, yaitu pertanian dan kerajinan tangan; (3) harus berusaha sendiri; (4) harus gigih; dan (5) harus membuat perencanaan yang matang (Gaki jak urat meunari, na tajak na raseuki).

Prinsip harmoni kehidupan orang Aceh berhubungan dengan asas keseimbangan atau keselarasan dan keserasian dengan mempertimbangkan akal sehat dan hati nurani. Prinsip-prinsip tersebut terdiri atas (1) perpaduan akal dan rasa (mind and feel) atau prinsip keseimbangan antara otak dan hati; (2) berpikir logis atau menggunakan kesadaran akal sehat; (3) belajar pada pengalaman generasi sebelumnya; (4) selalu ingat kepada eksistensi diri sendiri dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan; (5) selalu berpikir, yakni setiap tindakan atau kegiatan harus dimatangkan dahulu; (6) selalu menjaga waktu, karena waktu sangat berharga dan tidak pernah kembali; (7) selalu menghindari konflik, baik vertikal maupun horizontal; dan (8) selalu kompromistik, yaitu bijak memilih yang terbaik dari segala pilihan yang ada (Padum na le gob peu-ingat, nyang leubeh ingat taingat keudroe).

Berkenaan dengan prinsip kepemimpinan, orang Aceh memandang keharusan adanya keselarasan dengan prinsip harmoni kehidupan di jagad raya. Hukum alam, fakta empiris, dan kesadaran logis untuk hidup berperaturan merupakan prinsip utama yang diyakini bermartabat. Tanpa kesabaran dan rela dikritisi, seorang pemimpin di Aceh tidak berterima. Beberapa prinsip kepemimpinan berkenaan dengan (1) kesolidan kepemimpinan, (2) kepatutan sebagai pemimpin, dan (3) pemimpin idaman (Nyang mat adat nyang meubudhoe, akai sampoe bijaksana).

Dalam hal pengultusan, orang Aceh sangat menghormati orang yang baik, bijak, dan berilmu. Namun, siapa pun tidak akan dihormati lagi jika ia sudah tercemar atau tercela. Hal ini karena prinsip-prinsip paternalistik tidak begitu kental (bukan fanatik buta) dan didasari cara berpikir sesuai konteks dan sistem demokrasi mereka (Pane lom hebat iku ka lipeh, pane lom areh meunyo ka ceudra).

Prinsip kewaspadaan orang Aceh tertait erat dengan sejarah perjalanan hidup mereka yang cukup lama berbaur dengan pendatang dan sudah mengadopsi berbagai karakter dan budaya,; ada yang baik dan yang buruk. Pada saat tertentu, mereka merasa diri pernah menjadi ‘sapi perahan’ dan dikhianati (Meunyo ate hana teupeh, boh kreh jeuet taraba. Meunyo ate ka teupeh, bu leubeh han jipeutaba)

Konsep keadilan mengacu kepada keadilan yang bersifat sama rasa dan sama rata (adé beurata). Adé beurata merupakan konsep keadilan yang mengharuskan pemimpin memperhatikan seluruh elemen masyarakatnya secara benar dan bijaksana,  dalam bentuk materi dan nonmateri, seirama dengan kebutuhan dan kesesuaian.

Konsep tentang musuh terdiri atas musuh pribadi dan musuh bersama. Musuh pribadi adalah musuh seorang individu terhadap individu atau beberapa orang. Musuh bersama adalah musuh kolektif suatu kelompok, suku, bangsa, yang terdiri atas penjajah dan cuak (pengkhianat). Dalam perspektif orang Aceh, cuak dipandang lebih berbahaya dan lebih hina daripada penjajah.

Di sisi lain, dendam adalah salah satu konsep hidup orang Aceh mengenai harga diri. Dendam harus dibalas, baik secara halus maupun secara terang-terangan. Karena itu, dendam berhubungan dengan tueng bila atau bela darah (Belanda: bloed wraak) yang harus dilakukan seseorang atau kaum meskipun pada turunan ketujuh.

Mengenai konsep tabu, orang Aceh mengenal tiga macam tabu yang utama, yaitu tabu berkenaan dengan anggota fisik,  kata-kata, dan  perilaku sehari-hari. Tabu berkenaan anggota fisik antara lain menendang, menyepak, mengetok kepala, dan menyentuh dagu. Tindakan itu dianggap penyerangan. Tabu mengenai kata-kata, antara lain mencaci dan memaki, sedangkan tabu dalam bentuk perilaku, antara lain larangan mengisap candu,  berjudi, berkeliaran di kampung lain tanpa ada keperluan, dan pacaran atau ‘bermain’ perempuan.

Dari sisi konsep kebenaran, orang Aceh percaya bahwa kebenaran itu nisbi, yakni relatif atau tidak mutlak. Kebenaran itu tergantung dari sudut pandang tertentu dan orang yang memandangnya. Namun, kebenaran yang kasat mata harus dapat dibuktikan secara nyata, terutama berkenaan dengan benda hidup dan benda mati.

Dari dimensi nilai filosofis disimpulkan hal berikut. Pertama, orang Aceh memiliki watak reaktif, militan, optimis, konsisten, dan loyal. Kedua, sistem demok-rasi utama orang Aceh adalah pengakuan terhadap perbedaan pendapat secara jujur dengan kesepakatan bersama sebagai keputusan tertinggi. Ketiga, prinsip hukum yang adil di Aceh haruslah memperhatikan adagium sék, sidék, usui, paréksa (kupas, sidik, tanyakan, periksa).

Keempat, semua orang yang normal wajib mencari rezeki secara gigih dengan perencanaan yang matang. Kelima, prinsip harmoni kehidupan didasar-kan pada keseimbangan akal dan rasa, berpikir logis, belajar pada pengalaman, mengenal diri sendiri, menghargai waktu, menghindari konflik, dan selalu mau berda-mai. Keenam, pemimpin yang baik adalah yang berlaku adil, bertanggung jawab, dan sabar terhadap kritikan rakyat. Ketujuh, orang Aceh senantiasa menghargai orang yang baik, bijak, jujur, dan berilmu, sepanjang yang bersangkutan tidak tercela.

Kedelapan, curiga merupakan salah satu representasi kewaspadaan yang didasarkan kepada pengalaman hidup berdampingan yang berdampak positif dan negatif. Kesembilan, hakikat keadilan adalah adé beurata atau sama rata sama rasa. Kesepuluh, musuh yang paling dibenci adalah para pengkhianat, karena pengkhianat lebih keji daripada penjajah. Kesebelas, dendam berhubungan dengan harga diri sehingga wajib dibalas meskipun menunggu lama.

Keduabelas, orang Aceh pantang disepak, ditendang, diketok kepala, disentuh dagu, dicaci, dimaki; pantang mabuk-mabukan, berjudi, masuk wilayah orang tanpa izin, dan berselingkuh. Ketigabelas, kebenaran itu nisbi karena sangat tergantung konteks dan subjek yang memandangnya.

Pemikiran dalam Dimensi Nilai Etis

Dari dimensi nilai etis, dalam hadih maja terdapat nilai etis pribadi dan nilai etis sosial. Nilai etis pribadi terdiri atas (1) tahu diri, (2) tetap pendirian, (3) jujur kepada diri sendiri, (4) setia, (5) bijak, (6) malu, (7) kebersihan diri, (8) hemat, (9) rajin, (10) berani, (11) empati, dan (12) tahu berterima kasih. Semua nilai etis pribadi ini eksis dan melekat pada individu sebagai makhluk pribadi.

Nilai etis sosial berkenaan dengan keluarga, kaum kerabat, tetangga, dan umat manusia. Nilai etis keluarga meliputi (1) etis sebagai suami, yakni (a) harus berguna bagi isteri, (b) menjaga perasaan isteri, (c) membantu isteri memperbaiki diri, dan (d) tidak menyia-nyiakan isteri; (2) etis sebagai isteri, yakni (a) menjaga kesucian diri, (b) tidak berkeliaran, (c) tidak melawan suami, (d) tidak suka menyerapah, (e) meminta cerai secara baik;  (3) etis sebagai orang tua, yakni (a) bijak mendidik anak, (b) memperlihatkan cinta kasih kepada anak, (c) dermawan kepada anak, (d) memperlakukan anak secara adil, (e) bertanggung jawab terhadap anak; (4) etis sebagai anak, yakni (a) santun kepada orang tua, (b) berbuat baik kepada orang tua, (c) tidak membangkang orang tua, dan (d) mendahulukan ibu daripada ayah.

Nilai etis mengenai kaum kerabat meliputi (1) melestarikan hubungan silaturrahmi, (2) menjaga kehormatan kaum kerabat, dan (3) merasa senasib. Nilai etis  berkenaan dengan tetangga, meliputi (1) toleran kepada tetangga, (2) dermawan kepada tetangga, (3) sabar terhadap perlakuan tetangga, dan (4) tidak menggunjing tetangga.

Nilai etis yang berhubungan dengan umat manusia meliputi (1) jujur kepada setiap orang, (2) tulus ikhlas, (3) ramah, (4) sederhana dan rendah hati, (5) menghindari memfitnah, (6) menjaga rahasia, (7) menghormati orang yang lebih tua dan terhormat, (8) bergaul dengan orang-orang yang berbudi, (9) menjauhi sifat penjilat, (10) membalas kebaikan orang, (11) hemat dalam berbicara, (12) suka memuliakan tamu, (13) tatacara bertamu yang baik, (14) meringankan beban orang susah, (15) menyebarkan salam, (16) tatakrama makan dalam perjamuan, (17) menghindari menguap dalam pertemuan, (18) mengundang orang yang berhak, (19) membantu orang yang mengadakan kenduri, (20) memilih istri yang sepadan, (21) tidak curang, (22) tidak khianat, (23) tidak dengki, (24) tidak menggunakan bahasa kasar dan kotor, (25) tidak berlagak pintar, (26) tidak mencampuri urusan di luar wewenangnya, (27) tidak egoistis, (28) tidak menyela pembicaraan orang lain, (29) tidak meremehkan orang, (30) tidak memberikan pernyataan yang salah, (31) tidak sombong, (32) tidak mempermalukan orang, (33) tidak menyulitkan orang, (33) tidak menyindir/sinis, (35) tidak besar cakap, (36) tidak mengomel, (37) tidak debat kusir, (38) tidak memandang ke dalam rumah orang, (39) tidak rakus, (40) tidak kikir, (41) tidak meminta-minta.

Dari dimensi nilai etis disimpulkan bahwa hadih maja merepresentasikan nilai etis pribadi dan nilai etis sosial. Nilai etis pribadi menjadi peranti moral bagi seorang individu dalam meneguhkan eksistensi diri sebagai makhluk pribadi dan makhluk ciptaan Tuhan. Nilai etis sosial menjadi pedoman moral bagi manusia sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi sesama manusia dan alam lingkungan hidup, baik dalam lingkup keluarga (suami, isteri, ayah, ibu, anak), kaum kerabat, tetangga, maupun dalam lingkup umat manusia, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Pemikiran dalam Dimensi Nilai Estetis

Nilai estetis hadih maja dibagi dalam kategori alam nonisani dan alam insani. Nilai estetis alam nonisani terpancarkan melalui (1) benda alam tanjiwa, (2) alam nabati, dan (3) alam hewani.  Nilai estetis alam insani terpancarkan melalui (1) jasad insani, (2) perilaku insani, dan (3) kreasi insani. Nilai estetis jasad insani terepresentasikan melalui simbol anggota fisik: tubuh; punggung, bahu, dan wajah;  rambut dan gigi; tangan dan kaki. Nilai estetis perilaku insani mewujud pada cara berpakaian/berdandan, berekspresi, bergaya, dan beraktivitas. Nilai estetis kreasi insani menampak dalam seni arsitektur, alat pencari nafkah, peralatan rumah, dan benda konsumsi. Semua nilai itu berkelindan dalam suasana, gagasan, dan pesan dalam kesatuan, keselarasan, kesetangkupan (simetris), keseimbangan, dan  kekontrasan.

Bak ok sion peue taboh minyeuk

Bak igoe sineuk peue taboh baja
Rambut sehelai untuk apa diminyaki

Gigi sebiji untuk apa dipupuki
Tajak bak laku linggang

Tamupinggang bak laku ija
Berjalan sesuai lenggang

Berpakaian sesuai kain

Dari dimensi nilai estetis, disimpulkan bahwa hadih maja merepresentasikan nilai keindahan dalam wujud suasana, gagasan, dan pesan yang tergambarkan dalam kategori simbol alam noninsani dan alam insani. Seni arsitektur, misalnya, merupakan salah satu penanda pentingnya keseimbangan antara berbagai benda alam, perilaku insani; antara perkataan dan perbuatan; antara yang indah dan tidak indah; antara penampilan diri dan eksistensi diri; antara sisi keindahan yang memerlukan kesimetrisan dan keindahan yang memerlukan keserasian tanpa kesimetrisan; antara gerak dan kedinamisan gaya.

4. Penutup

Berdasarkan paparan di atas, teranglah bahwa sastra Aceh memiliki berbagai dimensi kearifan. Oleh karena itu, eksistensinya perlu direvitalisasi dan direaktualisasi secara masif dan terstruktur. Revitalisasi dan reaktualisasi dimaksud memerlukan tenaga, waktu, biaya, lembaga, dan pengorbanan.

Salah satu lembaga kunci dalam konteks ini adalah perguruan tinggi di Aceh, terutama Universitas Syiah Kuala. Bahkan, di universitas ini sudah saatnya didirikan Jurusan Sastra Aceh sebagai motor penggerak dinamika pelestarian dan pengembangan sastra Aceh. Dengan demikian, Universitas Syiah Kuala akan menjadi pioner dalam menghasilkan sarjana sastra Aceh yang sekaligus menjadi pengajar pada berbagai jenjang pendidikan di Aceh, khususnya. []

Prof Dr Mohd Harun, M.Pd

Disampaikan pada sidang terbuka senat untuk pengukuhan Profesor Dr Mohd Harun, M.Pd  Universitas Syiah Kuala di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, M.A Banda Aceh, Rabu, 10 Maret 2021.

Komentar

Loading...