Restart Perjalanan Spiritual

Restart Perjalanan Spiritual
Ebiet G Ade. Ilustrasi/Fuaz.Art

kemanapun aku pergi
bayang-bayangmu mengejar
bersembunyi dimanapun
selalu engkau temukan
aku merasa letih
dan ingin sendiri
 
kutanya pada siapa
tak ada yang menjawab
sebab semua peristiwa 
hanya di rongga dada
pergulatan yang panjang
dalam kesunyian

.....

kemanapun aku pergi
selalu kubawa-bawa 
perasaan yang bersalah
datang menghantuiku

masih mungkinkah pintumu kubuka
dengan kunci yang pernah kupatahkan?
lihatlah aku terkapar dan luka
dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

SAYA sengaja memulai tulisan ini dengan salah satu lagu favorit saya, “Aku Ingin Pulang” yang didendangkan penulisnya sendiri, Ebiet G.Ade. Bagi saya, lirik lagu ini multitafsir, dan saya menafsirkannya dari sudut pandang perjalanan spiritual.

Jika kita kembali menelusuri titik awal kehidupan kita dari alam azali, sebenarnya kehidupan kita sudah banyak melenceng dari janji kita kepada Allah. Di alam azali atau di alam ruh,  kita telah mengakui, Allah itu adalah Tuhan kita (Q. S. Al- A’raf ; 172). 

Konsekuensi dari pengakuan ini adalah semua ibadah, mati, dan kehidupan kita harus berada dalam ketentuan yang telah Allah gariskan. Namun demikian, berbagai hiruk pikuk  kehidupan dunia, susah dan senang telah melalaikan diri kita dari menepati janji kita kepada-Nya.

Akibat dari pengingkaran terhadap  janji tersebut  adalah pembangkangan terhadap fitrah kemanusiaan sejati. Fitrah tersebut tiada lain adalah ketauhidan kita untuk mentaati Allah, menyertakan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Idealnya apapun yang kita lakukan demi meraih keridaan Tuhan Pengurus alam raya. Lillahi rabb al’alamin. 

Faktanya, apapun yang kita lakukan sering demi meraih keridaan selain-Nya. Ria, ingin dipuji dan dipuja sesama manusia sering mengalahkan keridaan-Nya. Memuja hawa nafsu kita dengan melakukan berbagai kejahatan, kemunkaran, kemaksiatan, dan dosa sering mengalahkan diri kita untuk mengingat, memuja, dan memuji-Nya.

Kita sering mengunci rapat keberadaan Allah di masjid atau di atas sajadah. Di luar aktifitas ibadah shalat, kita sering melupakan-Nya, dan  merasa tidak diawasi-Nya. Tidaklah mengherankan jika kita bisa berbuat semena-mena. Satu hal yang paling parah apabila “kunci” untuk membuka keberadaan Allah tersebut sengaja kita patahkan. Kita sering melupakan eksistensi Allah, dan menganggap alam tempat kehidupan kita ini sunyi dari pengawasan-Nya, dan menjalani kehidupan menurut kemauan diri kita sendiri.

Di dalam kesunyiaan dari penglihatan manusia atau makhluk lainnya kita begitu bebas berbuat berbagai kemaksiatan. Padahal,  seperti kata lirik lagu Ebiet tersebut, bersembunyi dimanapun, selalu Engkau temukan.  Zat Pencipta seluruh makhluk tetap melihat segala tingkah, ucap, dan seluruh perilaku kita. 

Kita merasa meraih kesenangan ketika berbuat maksiat atau dosa. Padahal jika disadari secara mendalam, kesenangan yang diperoleh dari perbuatan maksiat merupakan gerbang meraih kesengsaraan dan kecelakaan nan abadi. Kemaksiatan yang kita perbuat bukanlah kesenangan yang sebenarnya. 

Aristoteles, seorang filosof mengatakan, seseorang yang berbuat suatu kejahatan, meskipun nampak memperoleh kesenangan, sebenarnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri. Kelak ia akan merasakan akibat pahit dari perbuatan jahatnya.

Selain Nabi dan  Rasul Allah, tak ada seorang manusiapun yang terbebas dari perbuatan dosa. Sehebat apapun ibadah dan kewaspadaan seseorang, suatu saat ia akan terjerumus kepada perbuatan dosa. Hanya kadar dosanya saja yang berbeda. Meskipun demikian, seseorang yang berbuat dosa akan kembali menjadi bahagia manakala ia merasa dikejar-kejar dan dihantui perbuatan dosa yang pernah dilakukannya, kemudian ia kembali kepada-Nya, bertobat. 

Kehadiran bulan suci Ramadhan yang akan kita mulai esok hari, selayaknya dijadikan moment untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan. Kita harus mengakui telah mematahkan kunci kefitrahan yang dapat membuka pintu keridaan-Nya. Perbuatan dosa dan nista selalu menjadi pengikut setia kehidupan nyata.

Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk mensucikan diri,  bertaqarrub kepada Allah, melakukan restart perjalanan spiritual. Kita harus kembali menyerahkan segala ibadah, hidup, dan kematian kita demi meraih keridaan-Nya seraya mengakui kekotoran jiwa nan penuh dosa. Kita pun harus penuh harap meraih ampunan-Nya  melalui ibadah Ramadhan tahun ini diiringi rasa takut dan malu karena kita sering meninggalkan segala perintah-Nya.

Ya Allah, masih  mungkinkah pintu-Mu kubuka  dengan kunci yang pernah kupatahkan? 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp.Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...