Resolusi Syawal

Resolusi Syawal
ilustrasi

MARI kita merenung sejenak ke kedalaman hati nurani. Apa yang kita rasakan ketika kita berpisah dengan bulan suci Ramadan, sedih atau gembira? Adakah  perasaan gundah di hati akan ibadah selama Ramadan yang kita tinggalkan, apakah Allah menerima atau menolak  ibadah kita? 

Jika Ramadan itu bulan suci, dan orang yang menjalani ibadah selama bulan Ramadan akan memperoleh derajat kesucian laksana bayi yang baru lahir, apakah kesucian jiwa itu telah kita peroleh? 

Apakah Idul Fitri yang kita laksanakan benar-benar merupakan perayaan atas kemenangan diraihnya kembali derajat kesucian jiwa?   Ataukah Idul Fitri yang kita rayakan itu hanya merupakan perayaan pelepasan kebebasan dari “belenggu” makan dan minum yang terkekang selama bulan Ramadan?

Nurani kita akan memberikan jawaban jujur atas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apapun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, satu hal yang harus kita lakukan  sejak awal bulan Syawal ini adalah membuat resolusi diri, membulatkan hati untuk selalu memperbaiki diri.

Pengendalian diri dan hawa nafsu yang kita peroleh selama bulan Ramadan harus benar-benar dijaga. Tingkat paling minimal, kedisiplinan, kesabaran,  dan  kejujuran yang kita laksanakan selama bulan Ramadan dapat kita implementasikan sejak awal Syawal ini. 

Kedisiplinan makan dan minum, kedisiplinan bangun pagi-pagi sekali, kedisiplinan melaksanakan shalat berjama’ah dan shalat sunat harus benar-benar diimplementasikan di luar bulan Ramadan. Demikian pula dengan kejujuran, pengakuan akan adanya Allah Yang Maha Pengawas harus benar-benar kita pupuk.

Keberhasilan ibadah puasa yang kita lakukan akan terlihat pada perubahan akhlak. Jika akhlak kita meningkat semakin baik, besar kemungkinan ibadah puasa kita mabrur. Sebaliknya, jika akhlak kita menurun drastis menuju akhlak yang jelek (madzmumah), bisa jadi sebagai pertanda kegagalan ibadah puasa kita. Hanya lapar dan dahaga saja yang kita peroleh, nihil dari nilai-nilai akhlak mulia.

Tak dapat dipungkiri, perubahan semangat ibadah selama bulan Ramadan mulai menurun sejak pertengahan Ramadan sampai menjelang perayaan Idul Fitri. Terlebih-lebih perayaan Idul fitri selama masa pandemi Covid-19 ini. Keinginan untuk mudik bagi para perantau, pada umumnya telah mengalahkan semangat ibadah selama bulan Ramadan. 

Kelembutan akhlak selama melaksanakan ibadah puasa berubah menjadi kekasaran ketika kehendak mudik sudah tak terbendung lagi. Adu mulut dengan petugas yang menyekat perjalanan mudik mengalahkan kelembutan hati yang selama berpuasa dipupuk untuk selalu mengatakan ‘aku sedang berpuasa” ketika ada sesuatu hal yang tidak berkenan di hati.

Kedisiplinan yang dipupuk selama bulan Ramadan pun terkalahkan dengan dorongan kuat kehendak mudik. Rambu-rambu aturan yang sudah disepakati untuk ditaati, baik rambu-rambu lalu lintas maupun protokol kesehatan dilabrak begitu saja.

Memang tak bisa dipungkiri, kerinduan pulang kampung halaman merupakan sunatullah yang tak bisa dilawan. Karenanya,  tidaklah mengherankan jika orang-orang berani menebus bahaya terpapar Covid-19, yang penting bisa melepas rasa rindu sanak saudara di kampung halaman. 

Ketidakadilan para pengambil kebijakan dalam hal mudik memicu pula kenekadan para pemudik untuk melanggar aturan yang telah disepakati. Mudik atau pulang kampung dilarang dengan alasan untuk memutus rantai penyebaran vuris covid-19, ironisnya di tengah-tengah larangan mudik, pemerintah membiarkan ratusan tenaga kerja asing datang ke negara kita dengan menggunakan pesawat charter.

Apapun juga yang terjadi, kesabaran sebagaimana yang diajarkan selama bulan Ramadan harus tetap kita implementasikan dalam kehidupan. Kesabaran menahan rasa lapar dan dahaga selama melaksanakan ibadah puasa harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Hakikat dari menahan lapar dan dahaga adalah latihan untuk mengendalikan keinginan atau hasrat dalam melakukan sesuatu. Demikian pula dengan kejujuran yang diajarkan selama melaksanakan ibadah puasa harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan akan adanya pengawasan dari Allah harus terpatri kuat. Jika hal ini benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan bukan saja dapat menyelamatkan diri sendiri, namun juga dapat menyelamatkan sanak saudara, tetangga, bahkan bangsa dan negara.

Kehidupan yang dilandasi dengan kejujuran akan mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan. Sementara kehidupan yang dilandasi dengan kebohongan dan kelacutan hanya akan mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan. Kejujuran menjadi salah satu pilar tegaknya kehidupan. Jika kejujuran sudah tidak ada dalam kehidupan  pribadi,  keluarga,  dan negara, tinggal menunggu saat-saat datangnya kehancuran.

Jika Ramadan merupakan restart perjalanan spiritual, sejatinya bulan Syawal yang mulai kita jalani ini harus dijadikan tonggak awal perjalanan, titik awal niat,  dan tekad untuk menjalani kehidupan yang lebih baik berlandaskan nilai-nilai mulia sebagaimana yang telah diajarkan selama bulan Ramadan. Kita harus benar-benar  berjuang melaksanakan “puasa’ dari keinginan melakukan perbuatan yang dapat merusak akhlak dan keimanan. 

Istikamah  untuk  selalu berbuat baik dan beribadah harus selalu kita perbaharui setiap hari agar kita tidak lalai dan lalai dalam mengimplementasikan nilai-nilai mulia bulan Ramadan. Taqarrub kepada Allah, memohon agar dikuatkan beribadah, tingkat paling minimal sama kualitasnya seperti pada bulan Ramadan wajib kita lakukan.

Semoga bulan Syawal ini benar-benar  menjadi  tonggak awal membulatkan diri  untuk memperbaiki diri, berakhlak lebih baik, demi kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat kelak.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...