Resolusi 17 Ramadhan

Resolusi 17 Ramadhan
Al Quran Turun Pertama Kali Pada 17 Ramadhan. Getty Images/iStockphoto/artisteer

DI GUA HIRA, Muhammad al amin dikejutkan dengan kehadiran sosok makhluk yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Berminggu-minggu ia menyepi, bertafakur, menghindari perilaku jelek kaum Quraisy, baru pada malam itu ia kedatangan makhluk aneh tersebut. 

Makhluk tersebut menyuruhnya membaca. Meskipun berkali-kali, Muhammad al Amin menjawab tak bisa membaca, sang makhluk tersebut terus memaksanya untuk membaca. Ia mendekap erat  tubuh Muhammad al Amin dan menuntunnya membaca.

Di tengah keanehan, ketakutan, dan berbagai perasaan lainnya, Muhammad al Amin mengikuti bacaan yang dilantunkan  sang makhluk tersebut.  Ia membaca rangkaian kalimat yang kini kita kenal dengan sebutan surat  al-‘Alaq. 

Sang Makhluk yang menakjubkan tersebut tiada lain adalah Malaikat Jibril a.s. Ia diperintah Allah menurunkan wahyu pertama, surat al-‘Alaq ayat 1-5. Sejak pembacaan surat tersebut, Muhammad al-Amin diberitahu, ia resmi menjadi Nabi dan Rasul Allah.

Di tengah perasaan takut, Muhammad al-Amin  keluar dari  gua Hira menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia meminta kepada istrinya untuk menyelimutinya. Ia seolah-olah ingin bersembunyi di balik selimut. Namun, persembunyiannya tersebut tak menyurutkan Malaikat Jibril a.s. untuk memberikan informasi kepadanya. Berkali-kali ia mengatakan, “Hai Muhammad, kau adalah utusan Allah kepada seluruh manusia.”

Sesaat kemudian, malaikat Jibril a.s. membacakan rangkaian kalimat, “Hai  orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan...(Q. S.al Mudatsir ; 1-2).

Siti Khadijah, sang istri tercinta yang merasa aneh dengan kondisi suaminya  berusaha menanyakan peristiwa yang telah menimpanya. Setelah menyimak penjelasan suaminya, ia berusaha menenangkan dan meyakinkan suaminya tercinta bahwa ia benar-benar merupakan Nabi dan Rasulullah sebagaimana yang pernah didengarnya dari nenek moyangnya dahulu akan datangnya Nabi akhir zaman.

Sejak itulah, Muhammad al Amin mengemban tugas sebagai Nabi dan Rasulullah. Selama hampir 23 tahun, secara rutin ia mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada umatnya yang kemudian “dibukukan” menjadi kitab suci al Qur’an seperti yang ada di tengah-tengah kita sekarang ini. Kebanyakan para ulama berpendapat, peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw tersebut terjadi pada 17 Ramadhan.

Peristiwa lainnya yang terjadi pada 17 Ramadhan adalah pecahnya peperangan  Badar Kubra. Peperangan besar yang terjadi di Badar. Suatu peperangan besar  sebagai salah satu ajang pembuktian akan kebenaran janji pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya  yang berupaya menegakkan keagungan dan kemuliaan agama Allah.

Secara logika tidaklah masuk akal, pasukan muslim yang berjumlah 314 orang prajurit  bersenjata perang  seadanya mampu mengalahkan pasukan kafir kafir Quraisy yang berjumlah hampir 1300 prajurit  yang bersenjata dan berlogistik lengkap. Namun, kenyataan berbicara lain, pasukan muslim dapat mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy. Beberapa tokoh kafir Quraisy terbunuh dalam peperangan ini. Kunci kemenangan dari peperangan ini tiada lain adalah lurusnya niat,lillahi ta’ala, dalam menegakkan agama Allah disertai keyakinan akan janji Allah.  

Kini, setiap tanggal 17 Ramadhan umat Islam memperingati kedua peristiwa besar tersebut.  Tentu saja, kita tidak cukup sekedar mengenang dua peristiwa besar tersebut, namun kita harus mengambil ibrah dari dua peristiwa tersebut. Dengan kata lain, kita harus membuat resolusi untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Resolusi  pertama,  kita harus terus memperkuat keyakinan akan kebenaran al- Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Langkah awal sebagai bukti keyakinan akan kebenaran al-Qur’an adalah kita harus memiliki komitmen untuk  membaca al-Qur’an setiap hari dan memiliki target khatam membacanya.

Harus jujur kita akui, selama ini kita tidak pernah merasa berdosa ketika meninggalkan membaca al-Qur’an. Kita baru ramai membaca dan menargetkan khatam 30 juz hanya pada bulan Ramadhan saja. Selepas Ramadhan pergi, al-Qur’an kembali disimpan di tempat tinggi atau di rak buku, untuk kita sapa kembali pada Ramadhan yang akan datang.

Selayaknya, kita tidak berperilaku seperti itu. Setiap saat kita harus membacanya, kemudian menelaah isi dan kandungannya untuk kita implementasikan dalam kehidupan keseharian sesuai dengan kemampuan kita. Isi dan kandungan al-Qur’an harus menjadi ruh dalam setiap derap langkah kehidupan. 

Mari kita merenung sejenak, isi al-Qur’an pada masa Rasulullah saw dan para sahabat tak berbeda sama sekali dengan isi al-Qur’an yang ada di kita pada saat ini, yang berbeda  hanyalah ukuran dan bentuknya saja. Pada  masa Rasulullah saw,  al-Qur’an belum dibukukan, sementara  pada saat ini sudah dibukukan dengan rapi. Pertanyaannya, mengapa Islam dan umatnya pada waktu itu benar-benar mulia dan berwibawa, sementara sekarang Islam dan umatnya tak memiliki kekuatan dan wibawa?

Jawabannya hanya satu, kita meninggalkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Jangankan mengimplementasikan nilai-nilai kandungannya dalam kehidupan, sekedar membacanya saja kita sudah sering meninggalkannya. 

Resolusi kedua, kita harus memperkuat keyakinan, memperbaiki keimanan kita kepada Allah. Kita harus meyakinkan diri akan kebenaran janji Allah ketika kita mentaati segala titah dan perintah-Nya. Amar ma’ruf, nahyi munkar yang menjadi kewajiban dakwah setiap muslim harus benar-benar dilaksanakan dengan dasar lillahi ta’ala demi tegaknya kemulian kalimat Allah di muka bumi ini.

Kiranya, sangatlah tepat jika kedua resolusi tersebut kita tanamkan di tengah-tengah kehidupan umat Islam pada saat ini yang nasibnya sering terombang-ambing di atas gelombang ketidakpastian. Dengan melaksanakan dua resolusi tersebut, kita berharap  memperoleh kemenangan dan kehidupan yang mulia dalam menegakkan agama Allah di muka bumi, membuktikan ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin, seraya meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Semoga.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...