Re-evaluasi Dakwah

Re-evaluasi Dakwah
ilustrasi/nu

MENGAPA kehidupan umat Islam begitu gaduh? Mengapa umat Islam di seluruh dunia, khususnya di negara ini seolah tak memiliki wibawa? Mengapa umat Islam selalu dinistakan?

Mengapa setiap umat Islam menyuarakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan selalu dipandang akan meruntuhkan wibawa seseorang, kelompok, atau suatu golongan? Mengapa stigma selalu dituduhkan kepada Islam dan umatnya? Mengapa aksi terorisme selalu disandingkan dengan Islam?

Masih banyak lagi pertanyaan mengapa dan mengapa yang terkadang sangat sulit untuk menjawabnya. Satu hal yang jelas, umat Islam selalu merasa sakit hati dengan berbagai tindakan  ketidakadilan dan berbagai stigma. Bukan di negara kita saja, tapi di seluruh dunia.

Islamophobia alias ketakuatan terhadap Islam begitu gampang menyebar luas. Berbeda dengan penyakit kejiwaan lainnya yang sangat ditakuti, Islamophobia malah menjadi penyakit sebaliknya. Orang-orang yang membenci Islam seolah-olah sengaja memelihara penyakit kejiwaan ini, dan menyebarkannya.  Apapun yang berbau Islam harus diwaspadai, dicurigai, dan ditakuti.

Menghadapi fenomena yang sudah berlangsung puluhan tahun ini, seharusnya menyadarkan seluruh komponen umat Islam untuk kembali bersatu. Sekat-sekat egoisentris, khilafiyah, perbedaan pendapat harus dikikis habis, atau setidaknya dikurangi. Kita sering terlena menghabiskan waktu berjam-jam lamanya, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan hanya  untuk membahas perbedaan pendapat dalam masalah fiqhiyah yang bersifat ijtihadiyah. Sudah saatnya kita memikirkan masa depan Islam dan umatnya.

Dalam bidang politik praktis kita selalu kalah suara. Jangankan di dunia, di negara kita saja jika suara-suara partai yang berbasis ghirah Islam disatukan, jumlahnya tak akan mengalahkan suara partai yang tidak berbasis ghirah Islam. Sungguh suatu hal yang sangat ironis, kita tinggal di negara mayoritas berpenduduk  muslim, namun kita kesulitan memperoleh dukungan suara dari umat muslim.

Masalahnya memang sangat kompleks, namun mari kita semua mengevaluasi kembali atas  dakwah Islamiyah yang kita lakukan pada saat ini. Apabila dakwah Islamiyah hanya diartikan sebatas ceramah, pidato di depan khalayak, kita mesti bangga. Sampai detik ini, dakwah yang berarti ceramah begitu semarak, mulai dari yang kocak yang mengundang hadirin untuk tertawa terbahak-bahak sampai kepada pidato atau ceramah yang membuat mata orang terbelalak sudah banyak dan dinikmati khalayak via berbagai media.

Namun, dakwah yang benar-benar menyentuh kepentingan umat, kemuliaan Islam, dan evaluatif atas keberhasilan dakwah yang telah dilakukan sangatlah minim keberadaannya. Sangat jarang da’i yang mau mengevaluasi perkembangan umat atas dakwah yang telah disampaikannya. Padahal secara tersirat, ketika Rasulullah saw menyuruh Mu’ad bin Jabal selain untuk melakukan dakwah secara bertahap, juga menyuruhnya untuk mengevaluasi setiap pelaksanaan dari tahapan dakwah yang disampaikannya.

Nabi saw mengutus Mu’ad bin Jabal untuk berdakwah ke Yaman. Ia memerintahkan kepada Mu’adz mengajak penduduk Yaman untuk mengucapkan dua kalimah syahadat. Jika mereka sudah mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakininya,  Nabi saw menyuruh Mu’adz untuk mengajarkan kewajiban shalat lima waktu.

Tak sampai di sana, jika penduduk yang mengucapkan dua kalimah syahadat dan sudah mampu melaksanakan ibadah shalat, Nabi saw memerintahkan kepada Mu’ad untuk memberikan sosialisasi kepada mereka akan adanya kewajiban zakat yang diambil dari kelompok orang kaya, dan dibagikan kepada orang-orang fakir.

Perintah Nabi saw kepada Mu’ad bin Jabal untuk berdakwah  secara bertahap dan evaluatif tersebut, salah satunya tercantum dalam kitab “Riyadhus Shalihin”, hadits nomor 1208. Selayaknya, kita melaksanakan dakwah seperti yang diamanatkan Nabi saw kepada Mu’adz bin Jabal. Diakui atau tidak, dakwah yang kita lakukan baru sebatas evaluasi kuantitas mustami’, dan sangat jarang memperhitungkan kualitas outcome (dampak) dari dakwah yang kita sampaikan.

Dakwah yang kita lakukan sering dilakukan secara spontanitas, tanpa perencanaan dan tanpa kurikula yang terukur. Betul diakui, banyak orator muslim hebat yang mampu mengbangkitkan ghirah umat dengan mengaduk-ngaduk emosi umat Islam atas suatu peristiwa yang memojokkan Islam atau umatnya. Emosi umat bangkit.  Mereka siap mengorbankan apapun untuk membelanya, namun hal ini akan berbahaya jika umat tak dibekali dasar-dasar keislaman yang kuat.

Para da’i perlu sekali mengembalikan spirit dakwah seperti yang dilakukan Rasulullah saw, yakni dakwah yang benar-benar menanamkan keimanan, akhlak yang baik, dan mempersiapkan kader-kader handal yang siap membela dan menjaga kemuliaan Islam dan umatnya. Dengan cara seperti ini, kehadiran kader-kader da’i dan umat yang berkualitas akan cepat tercapai.

Idealnya, semarak dakwah yang kita lakukan sampai hari ini melahirkan sosok umat yang benar-benar siap menerapkan nilai-nilai al Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Sejarah telah membuktikan, mengimplementasikan nilai-nilai mulia al Qur’an dalam kehidupan telah melahirkan kemuliaan hidup umat Islam. Bukankah kehidupan mulia para sahabat, umat Islam,  baik selama Nabi saw masih hidup dan sesudahnya karena mereka berjuang keras mengimplementasikan al Qur’an dalam kehidupan?

Memang bukan hal mudah untuk mengimplementasikan al Qur’an dalam kehidupan. Banyak rintangan yang menghadang jika kita ingin mengimplementasikannya.

Abdullah Ibnu Mas’ud r.a. pernah mengatakan, “Saya sangat kesulitan untuk menghafal al Qur’an, meski saya sudah mengamalkannya. Kelak orang yang datang sesudahku akan dapat mudah menghafal al Qur’an, tapi sulit mengamalkannya”  (Tafsir al Qurthubi, I : 40).

Sementara Abdullah ibnu  Umar berkata, “Kami telah hidup dalam masa yang panjang. Seorang diantara kami diberi keimanan sebelum diberi (pelajaran) al Qur’an. Lalu turunlah ayat al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, sehingga kemudian ia bisa mempelajari halal, haram, perintah, dan larangan, serta hal-hal yang harus dipelajari dari suatu surat. Dan saya menyaksikan ada banyak orang yang diberi al Qur’an sebelum diberi keimanan. Mereka membaca al Qur’an dari awal hingga akhir, akan tetapi mereka tidak mengetahui terhadap perintah dan larangan. Mereka juga tidak mengetahui, apa yang harus dipelajari dari al Qur’an. Mereka memilah-milah ayat-ayat al Qur’an seperti memilah kurma’.

Dakwah pertama yang harus benar-benar kita sampaikan adalah pemahaman terhadap isi dan kandungan al Qur’an. Kewajiban para da’i adalah kembali memperkuat keyakinan umat akan kebenaran al Qur’an dan meyakinkan umat akan pemerolehan kemuliaan hidup manakala mampu mengimplementasikan nilai-nilai,  isi,  dan kandungan al Qur’an dalam hidup kesehariaan.

Pertanyaan besar yang harus kita munculkan, sudahkah dakwah kita melahirkan outcome (dampak) yang dapat meningkatkan kemuliaan Islam seraya melahirkan kuantitas umat yang berkualitas?  Sudahkah dakwah yang kita lakukan dapat menjaga marwah dan kemuliaan Islam dan umatnya?

Demi kemuliaan Islam dan umatnya, sudah saatnya kita, para da’i, dan para intelektual muslim untuk melakukan re-evaluasi terhadap  dakwah yang telah kita lakukan selama ini. Fiqih dakwah yang mencakup metode dan kurikulum dakwah harus kita kaji kembali.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...