Rayakan Harlah NU, Lesbumi Jember Gelar Kenduri Budaya

Rayakan Harlah NU, Lesbumi Jember Gelar Kenduri Budaya
ist

CAKRADUNIA.CO - Banyak cara yang dilakukan para kader Nahdlatul Ulama (NU) dalam rangka memperingati hari lahir NU ke-98. Mulai dari seruan pemasangan 98 ribu bendera, istighosah bersama, pemotongan tumpeng, hingga halaqah kebangsaan.

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Jember juga turut merayakan peringatan hari lahir NU yang ke-98. Acara tersebut dikemas dalam Kenduri Budaya dan pemotongan tumpeng.

Kenduri Budaya yang diselenggarakan di aula PCNU Jember tersebut mengusung tema 'Sains, Sastra dan Pesantren'.

Siswanto, Ketua Lesbumi  Jember mengatakan pemilihan tema berangkat dari dua buku sastra karya pengurus Lesbumi Jember yang baru terbit, yaitu Muhammad Lefand dan Fandrik Ahmad. Sama-sama mengusung tema kearifan lokal masyarakat Madura, ia menilai keduanya berhasil memotret budaya Madura secara utuh.

"Keberhasilan itu tak lepas dari sebuah pengalaman yang dirasakan oleh penulis. Di sinilah kemudian ada keterlibatan sains. Sains yang dimaksud bukan dalam arti sempit tentang penemuan-penemuan ilmiah. Pengalaman empirik juga bagian dari sains," ujarnya.

Acara diawali dengan istighosah bersama, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, lalu diskusi kebudayaan.

Pemantik diskusi diisi oleh Gus Robith Qoshidi, Lc, pengasuh Ponpes Nurul Islam, Antirogo, Jember, menguraikan bahwa sastra mampu beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan sains, baik pada tataran isi, tematik, produksi dan  masyarakat, pesantren bisa mengambil peran strategis tersebut.

Menurut beliau, sastra dari dulu menjadi bagian sains, banyak para saintis yang telah melakukan kajian mendalam bahwa dongeng, mitos ternyata memiliki fungsi khusus dalam membentuk peradaban.

Sementara itu, Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd, Dosen sastra Universitas Jember; menyinggung fenomena science fiction yang mewarnai jagat susastra Indonesia. Menurutnya, karya Fandrik dan Lefand merupakan hasil kerja etnografi terhadap kebudayaan Madura, ada proses interkultural dan menariknya berhasil menyajikan realisme magis yang apik.

Di sisi lain, Ali Ibnu Anwar, penyair nasional, menjabarkan secara mendasar peran sastra dalam jaman jahiliyah, bahwa ketika terjadi konflik politik waktu itu maka sastra menjadi media dalam berdiplomasi.

Turut pula menjadi narasumber Muhammad Lefand, pengarang kumpulan puisi Pesan Laut Kepada Perahu dan Fandrik Ahmad, pengarang kumpulan cerpen Lelaki Ketujuh. Kedua buku tersebut menjadi titik pijak kenduri budaya.

Di sela-sela acara, Gus Robith menyampaikan rasa senangnya melihat Lesbumi makin semangat bergiatan.

"Lesbumi semakin kreatif, inovatif dan semangatnya serta kekompakannya luar biasa, bisa dicontoh oleh lembaga yang lain," pungkasnya.

Mahwi Air Tawar

Komentar

Loading...