Ragam Nasehat

Ragam Nasehat
Ilustrasi.net

MERUPAKAN suatu bentuk kesombongan dan akan menjadikan diri kita merugi manakala kita sudah tidak mau lagi saling menasihati. Kecelakaan pula yang akan kita raih manakala kita hanya ingin memberikan nasihat kepada orang lain seraya kita tidak mau mendengarkan nasihat dari orang lain.

Selain beriman, beramal saleh, dan bersikap sabar, saling menasihati dalam kebaikan merupakan syarat untuk meraih kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Itulah yang diisyaratkan dalam surat Al-‘Ashr.

Agama Islam Allah turunkan ke muka bumi ini pun pada intinya merupakan nasihat bagi seluruh manusia. Islam memberikan nasihat agar manusia beriman, mengikuti segala titah dan perintah  Allah swt, dan menjauhi segala keingkaran terhadap segala titah dan perintah-Nya.

Para Nabi dan Rasul-pun Allah utus ke tengah-tengah kaum pada intinya bertugas memberikan nasihat kepada umatnya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Nasihat yang disampaikannya berupa kabar gembira bagi mereka yang berkenan mengikuti nasihatnya, dan kabar kecelakaan bagi mereka yang membangkangnya.

Kehidupan yang kita jalani inipun adalah nasihat. Setiap peristiwa yang kita hadapi, kesenangan atau kepedihan yang kita raih dalam menjalani kehidupan ini merupakan nasihat agar kita mau dan mampu mengambil pelajaran darinya. Ketika kesenangan yang kita raih,  kita diajarkan untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika kepedihan yang kita raih, kita diajarkan untuk bersabar.

Dengan demikian, nasihat tidak hanya sebatas rangkaian kata-kata. Setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita, selayaknya kita jadikan sebagai nasihat untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan kata lain, kita harus mengambil i’tibar atau pelajaran dari setiap peristiwa yang menimpa kita dan di sekitar lingkungan kita.

Al-Qur’an telah mengajarkan agar kita senantiasa mengambil pelajaran atau nasihat dari setiap peristiwa yang terjadi di kalangan umat masa lalu. Kita diajarkan untuk memikirkan akibat dari perbuatan baik dan buruk yang telah menimpa umat-umat masa lalu. Mereka yang berbuat kebaikan memperoleh keselamatan, sementara mereka yang bersikap nanar dan berbuat onar, membangkang terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya memperoleh kesengsaraan dan kecelakaan.

Peristiwa yang terjadi di sekitar kita atau yang menimpa diri kita, terutama musibah atau kepedihan, sebenarnya merupakan nasihat yang lebih tinggi dibandingkan dengan nasihat berupa kata-kata. Banyak orang yang sadar, kembali ke jalan yang benar tatkala ia sudah diberi nasihat berupa musibah atau kepedihan hidup yang menimpanya. Sayangnya, kita jarang menjadikan musibah sebagai nasihat.

Para ulama terdahulu senantiasa menjadikan musibah sebagai nasihat. Ketika menghadapi suatu musibah, Imam Ja’far ash Shadiq selalu berdo’a, “Ya Allah semoga musibah yang menimpaku ini menjadi jalan bagi peningkatan keimanan dan perbaikan akhlak, dan bukan pembangkit kemurkaan-Mu.”

Imam al Junaid, seorang ulama sufi berkata, “Musibah merupakan nasihat bagi orang yang arif, dan sebuah pembinasaan bagi  orang-orang yang lalai.”

Syeikh Ibnu ‘Athaillah, yang juga seorang ulama sufi  dalam karyanya  “al Hikam” mengatakan, “Allah telah mengetahui, kamu tidak dapat menerima nasihat yang hanya berupa teori (kata-kata). Karenanya,  Allah menurunkan kepada kamu rasa pahitnya musibah (penderitaan), untuk memudahkan bagimu meninggalkannya.”

Makna dari kata-kata Syeikh Ibnu ‘Athaillah tersebut,  ketika kita diberi nikmat, kesenangan, kekayaan, keturunan yang baik, jabatan, dan lainnya, kita sering melalaikan akan perintah Allah. Tak sedikit pula karena kesibukan mengurus harta,  jabatan dan lainnya, kita jarang bersilaturahmi dengan sanak saudara dan tetangga, bahkan ibadah kepada Allah pun dilaksanakan alakadarnya saja. 

Lisan hanya basah membincangkan investasi harta untuk masa depan. Pikiran hanya sibuk dipakai mengkalkulasikan  strategi mempertahankan harta, kekuasaan,  dan jabatan. Mata hanya dipakai untuk menatap kehidupan dunia, sementara kehidupan akhirat terlupakan. Telinga hanya dipakai mendengarkan suara-suara peluang yang dapat menguntungkan kehidupan duniawi. Suara azan yang berkumandang lima kali sehari seolah-olah sudah tak terdengar. Jangankan buru-buru mendatangi masjid atau melaksanakan ibadah shalat, menjawab lafal azannya saja sudah jarang dilakukan.

Dengan kasih sayang-Nya, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya agar segera kembali ke jalan-Nya, segera meninggalkan keterlenaan dalam kesenangan hidup. Karena nasihat berupa kata-kata yang bertebaran di mana-mana sudah tidak mempan lagi, Allah menurunkan nasihat dalam bentuk lain, yakni berupa musibah atau penderitaan.

Jika kita merenungkan kata-kata Syeikh Ibnu Athaillah tersebut, kiranya pandemi Covid-19 yang sudah hampir satu  tahun mendekap kehidupan kita merupakan nasihat dari Allah. Melalui salah satu makhluk-Nya, Ia mengingatkan agar kita jangan lalai, terlena dengan keindahan hidup di dunia ini seraya melupakan bekal dan jalan pulang kita menghadap-Nya.

Sangatlah bijak, jika pandemi Covid-19 yang semakin menjadi-jadi ini kita jadikan nasihat untuk menafakuri akan kesalahan dan kealfaan diri kita. Sudah satu tahun kita terombang-ambing dan hampir “tenggelam” ke dalam samudera pandemi nan dalam dan seolah-olah hampir tak bertepian.

Menghadapi keadaan seperti  pada saat ini, selayaknya kita meneladani Nabi Yunus a.s ketika ingin segera keluar dari kegelapan perut ikan dan kedalaman samudera. Satu-satunya jalan yang ia lakukan adalah  mengakui kelemaham dan kealfaan diri. Ia bertaubat mengakui kesalahan dan kealfaannya, “laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimin.” Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau sesungguhnya aku telah menjadi bagian dari orang-orang zalim.

Pada saat ini, selain pandemi Covid-19, rangkaian musibah dan kesah kehidupan senantiasa menyapa kita, saudara kita, dan bangsa ini. Selain melakukan berbagai upaya lahiriah, sudah saatnya pula kita melakukan upaya batiniah berupa peningkatan keimanan,  taubat,  dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. 

Slogan ajakan meningkatkan iman, agar hidup kita imun, dan menjadi aman mudah-mudah benar-benar dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar slogan formalitas yang terpampang dalam spanduk-spanduk  ajakan mencegah tersebarnya penyebaran virus Covid-19.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.   

Komentar

Loading...