Ragam Aktivitas Jihad & Mati Syahid

Ragam Aktivitas Jihad & Mati Syahid
Ilustrasi.net

HANYA satu kata untuk jihad dan mati syahid, “menakutkan”.  Hal ini tidak mengherankan, sebab masyarakat, termasuk kebanyakan dari  umat Islam selalu disuguhi berita dan peristiwa yang menimbulkan stigma terhadap jihad dan mati syahid.

Pada awal-awal sering munculnya gerakan terorisme di Indonesia, masyarakat membayangkan jihad dan mati syahid itu adalah peledakan bom. Pelakunya selalu digambarkan orang berjanggut, bercelana jingkrang, berbaju hitam, dan selalu membawa ransel berisi bom yang siap meledak.

Dari kondisi tersebut, stigma pun muncul kepada orang-orang yang berjanggut dan bercelelana jingkrang, sampai-sampai pernah muncul wacana pelarangan memakai celana jingkrang, terutama di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Wacana tersebut  melahirkan berbagai opini dan diskusi yang tak produktif di negeri ini. Tak jauh pula nasibnya dengan kaum Hawa yang memakai niqab atau cadar. Stigma negatif pernah muncul seperti kepada kaum Adam yang bercelana jingkrang.

Ironisnya, kata “pengantin”  tak pernah kebagian kata stigma. Padahal, para pelaku bom yang konon kabarnya siap “mati syahid” oleh para kaum teroris selalu diistilahkan dengan “pengantin”.

Stigma terhadap jihad dan mati syahid harus diluruskan. Bagaimanapun jihad dan mati syahid bagian dari ajaran Islam. Sayangnya kebanyakan dari umat Islam masih terlalu sempit dalam memahami konsepnya. Pengajian-pengajian pun, enggan dan takut membahas konsep jihad.

Pembahasan konsep jihad yang dibatasi dengan pedang, alias perang, kemudian menjadi korban dalam peperangan untuk menjemput mati syahid yang paling sering dimunculkan. Padahal, konsep jihad dan mati syahid begitu luas, tak sebatas pedang dan perang, apalagi disalahartikan dengan gerakan menteror orang-orang yang tidak berdosa.

Kolom yang singkat ini, tidak memungkinkan dapat memuat bahasan jihad yang begitu luas. Namun demikian, setidaknya tulisan dalam kolom ini bisa membuka wawasan awal para pembaca terhadap konsep jihad dan mati syahid yang selama ini selalu melekat dengan nilai-nilai negatif.

Setidaknya, terdapat dua konsep yang harus dibedakan, yakni jihad dan qital. Kata jihad merupakan derivasi dari kata “jahada – yujahidu – jihadan  -  mujahadatan”.  Kata ini secara bahasa menunjukkan pada sebuah usaha mengerahkan kemampuan, potensi dan kekuatan, atau memikul sesuatu yang berat. Sementara qital merupakan derivasi dari kata “qaatala – yuqaatilu – qitalan – muqatalatan” yang secara sederhana sering diartikan perang. 

Betul diakui, qital merupakan bentuk terakhir dari jihad. Namun demikian,  untuk menyatakan perang (qital) dengan cara mengangkat senjata apapun bentuknya tidak semudah membalik telapak tangan, harus memenuhi ketentuan dan persyaratan yang tidak sederhana. Situasi dan kondisi  yang dihadapi harus benar-benar memenuhi ketentuan dan persyaratan untuk dilakukan perlawanan dengan mengangkat senjata.

Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Nomor 3 tahun 2004 tentang Terorisme disebutkan, jihad memiliki dua pengertian, yakni pertama, al qital/al harb yaitu segala usaha dan upaya sekuat tenaga serta kesediaan untuk menanggung kesulitan di dalam memerangi dan menahan agresi musuh dalam segala bentuknya; kedua, segala upaya yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan untuk menjaga dan meninggikan agama Allah (li i’laai kalimatillah).

Dengan kata lain, jihad memiliki pengertian yang sangat luas. Inti dalam jihad adalah kesungguh-sungguhan niat dan tekad untuk memuliakan agama Allah. Jihad tidak sebatas qital atau perang. Dengan kata lain, setiap perang yang diniatkan untuk meninggikan atau memuliakan agama Allah adalah jihad, namun jihad tak mesti berupa qital atau peperangan.

Hadits-hadits Rasulullah saw sering mengemukakan beberapa amal yang tergolong jihad. Memperbaiki akhlak dan mengendalikan hawa nafsu merupakan bagian dari jihad. “Seorang mujahid adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya agar bisa mentaati Allah” (H. R. at Tirmizi dan Ibnu Hibban).

Menuntut ilmu dengan didasari karena Allah merupakan bagian dari jihad. Dalam Q. S. at Taubah : 122 dengan jelas Allah memerintahkan kaum muslimin untuk berbagi tugas.  Dalam situasi peperangan, sebagian muslim harus berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi harus ada yang berangkat untuk memperdalam pengetahuan agama alias menuntut ilmu.

Selain menuntut ilmu, dakwah menyampaikan kebenaran meskipun terasa pahit dan menyakitkan, menyampaikan kritik yang membangun kepada penguasa merupakan bagian dari jihad. “Sebaik-baiknya jihad adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang lalim” (H. R. Abu Daud).

Masih banyak perbuatan atau aktivitas yang tergolong jihad. Berbakti kepada kedua orang tua; menjadi amil zakat yang  jujur; menjadi penjabat atau penguasa yang jujur dan adil; mencari harta yang halal; tidak melakukan korupsi; menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat; melaksanakan ibadah shalat; menolong orang-orang miskin; melaksanakan ibadah haji dan umroh merupakan aktivitas yang berpahala jihad.

Muara akhir dari aktivitas jihad adalah memperoleh derajat kematian yang mulia, yakni mati syahid. Seperti halnya konsep jihad, konsep mati  syahid pun begitu luas. Umat Islam harus memiliki cita-cita mati syahid.

Seperti telah disebutkan, segala aktivitas yang  menguras tenaga, pikiran, dan harta yang diniatkan untuk memuliakan agama Allah dapat tergolong ke dalam perbuatan jihad. Jika pelakunya meninggal, kematiannya dapat tergolong ke dalam  mati syahid.

Para ulama membagi mati syahid  kepada dua kelompok, yakni mati syahid dunia - akhirat dan mati syahid akhirat.  Orang yang tergolong mati syahid dunia - akhirat adalah mereka yang gugur di medan perang membela agama Allah; sedangkan mati syahid akhirat disandangkan kepada mereka yang meninggal bukan karena peperangan, tetapi disebabkan oleh suatu perbuatan baik dalam memuliakan agama Allah. Bahkan orang yang sabar ketika ditimpa musibah, dan ia meninggal dunia karena musibah tersebut, kematiannya tergolong mati syahid.

“Orang yang tergolong mati syahid itu ada lima, yakni orang yang meninggal karena terkena wabah penyakit; orang yang meninggal karena sakit perut; orang yang meninggal karena tenggelam; orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan (rumah, longsor, gempa bumi); dan orang yang meninggal di medan tempur karena membela agama Allah” (H. R. Muttafaq ‘Alaih).

Dalam hadits lain disebutkan, perempuan yang meninggal karena melahirkan; orang yang meninggal karena kebakaran; dan orang yang meninggal karena radang paru-paru, kematiannya tergolong ke  dalam mati syahid. Demikian pula,  orang yang meningal karena terlempar dari kendaraan (kecelakaan lalu lintas); orang yang meninggal karena terjatuh dari tebing; dan orang yang meninggal diterkam binatang buas, kematian semuanya tergolong ke dalam mati syahid.

Setiap muslim harus memiliki cita-cita untuk mati syahid dalam arti yang luas. Sebab mati syahid merupakan kematian yang paling mulia.

“Barangsiapa yang  meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh  agar  mati syahid,  maka Allah akan mengantarkan orang tersebut kepada derajat kesyahidan, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya” (H. R. Muslim).

Jihad dalam arti luas harus dipahami oleh seluruh umat Islam. Selama diniatkan didasari keimanan yang kuat; diniatkan  lillahi ta’ala, untuk memuliakan agama Allah; insya Alah segala aktivitas kehidupan kita akan berpahala jihad.  Demikian pula dengan mati syahid. Umat Islam harus menginginkannya.

Kita memiliki kewajiban untuk memahami konsep jihad dan konsep  mati syahid dalam arti luas secara benar. Malahan jika kita menulusuri hadits-hadits  Rasulullah saw, dari perbuatan yang sederhana saja, Rasulullah saw mencontohkan kepada kita  untuk memohon agar kehidupan kita berakhir  dengan mati syahid.

Ketika kita memakai pakaian baru, Rasululullah saw menganjurkan kita mengucapkan do’a “Ilbis jadidan, wa ’isy hamiidan, wa mut syahiidan (semoga pakaian baru ini mengantarkan diriku hidup terpuji/berakhlak mulia,  dan meninggal dalam keadaan syahid” (H. R. Ibnu Majah, Hisnu al Muslim min Adzka al Kitab wa Sunnah, hadits/dzikir nomor 8). ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut, Jawa Barat.

Komentar

Loading...