Racun Kesuksesan

Racun Kesuksesan
Ilustrasi

SEORANG  tukang becak terlelap tidur di atas jok becaknya. Ia nampak nikmat sekali, tak peduli dengan lalu lalang orang di sekitarnya. Sementara teman-temannya sesama tukang becak bercakap-cakap di sekitar tempat mangkal tukang becak yang tengah tertidur lelap tersebut. Percakapannya tak jauh dari sulitnya mendapatkan penumpang dan kecilnya penghasilan yang ia peroleh. 

Saya lama sekali memperhatikan mereka. Tak lama kemudian ada seorang penumpang yang hendak menggunakan salah satu becak. Tanpa berebut, mereka mempersilakan orang tersebut untuk menggunakan becak milik salah seorang diantara mereka. Setelah adu tawar ongkos, penumpang pun dipersilakan naik dan diantar ke tempat tujuannya. Kebahagiaan nampak di wajah abang becak, padahal ongkosnya cuma sepuluh ribu rupiah. Itu pun penghasilan kotor karena sebagiannya harus disisihkan untuk setoran kepada pemilik becak.

Di tempat lainnya, seorang kuli panggul di pasar begitu lahapnya makan nasi bungkus yang lauknya sangat sederhana. Bihun, sambal goreng kentang, tempe goreng, dan kerupuk. Membelinya bukan di restoran mahal, cuma di roda pedagang kaki lima. Saking nikmatnya melahap makanan, ia tak memperdulikan lingkungan sekitarnya yang becek dan kotor. Mungkin bagi sebagian orang tak akan bisa makan di tempat seperti itu. Tapi baginya sudah biasa, dan ia nampak bahagia.

Pada kesempatan lain, saya kedatangan seorang teman lama yang sukses sebagai pengusaha. Baginya, uang puluhan juta sampai ratusan juta bukan masalah. Demikian pula dengan makanan, pakaian, dan fasilitas hidup lainnya tak ada masalah.

Dalam percakan dengan teman saya tersebut, saya terhentak sebab teman saya tersebut sudah lama tak bisa tidur malam. Ia baru bisa tidur nyenyak kalau sudah minum obat tidur. Jika tidak, semalaman ia tak akan bisa tidur pulas. Jika malamnya kurang tidur, pagi harinya bahkan sampai sore hari, ia tak bisa makan banyak, selain air, kopi, atau makanan ala kadarnya. Berbagai cara sudah ia tempuh agar bisa makan banyak, nikmat,  dan tidur nyenyak.

“Saya heran, dulu ketika hidup saya biasa-biasa saja, bahkan serba kekurangan, saya bisa makan banyak, nikmat, tidur nyenyak, dan bisa hidup tenteram serta bahagia. Kini ketika kehidupan saya serba ada, berbagai kesibukan menyapa saya. Makan banyak, nikmat,  dan tidur nyenyak serta hidup penuh ketenangan menjadi barang mahal bagi saya.” Demikian kata teman saya tersebut.

Mungkin para pembaca juga pernah menyaksikan gambaran seperti yang telah saya paparkan. Di sekitar kita banyak orang yang secara materi hidupnya pas-pasan, tapi mereka nampak menikmati hidup, tenteram dan bahagia. Sebaliknya banyak pula orang kaya, berkantung tebal, namun hidupnya dirundung berbagai masalah, untuk sekedar dapat makan nikmat dan tidur nyenyak saja  mereka tak bisa mendapatkannya.

Banyak orang yang ketika hidupnya dalam kubangan kemiskinan, ia masih hidup bahagia.  Bisa bersilaturahmi dengan sahabat, tetangga, dan orang lain. Namun, tatkala orang tersebut  sukses menjadi orang kaya, mereka menjadi orang super sibuk. Jangankan bersilaturahmi dengan sahabat dan tetangga, dengan anggota keluarganya pun jarang bertemu. Ia berangkat pagi-pagi sekali ketika anggota keluarganya masih tertidur, dan pulang larut malam ketika anggota keluarganya sudah tertidur lelap.

Kesuksesan yang diraih seseorang belum tentu menjamin kebahagiaan hidup, malah kesuksesan yang diraih seseorang bisa menjadi perampas kebahagiaan hidupnya. Banyak orang yang karena kesuksesannya, kehidupannya menjadi terasing, hanya bisa bergelut dengan pekerjaan dan berbagai kesibukan lainnya.

Paul Pearsall, doktor Psikologi Pendidikan, menyebut kesuksesan yang hanya melahirkan penderitaan, berbagai kesibukan, dan tidak mendatangkan ketenangan serta kebahagiaan disebut sebagai toxic success, racun kesuksesan. Terdapat beberapa gejala yang dapat menjadi tanda seseorang yang terkena racun kesuksesan diantaranya terpusat asyik dengan  diri sendiri dan menyerah kepada stress.

Masih menurut  Pearsall, ciri lainnya dari orang yang terkena racun kesuksesan  adalah senang mengkritik, menyalahkan, dan memusuhi hampir semua orang;  tidak mampu menikmati hal-hal kecil dalam kehidupannya; mudah terganggu oleh orang-orang di sekelilingnya yang meminta perhatiannya; terlalu sibuk dengan pekerjaan pada waktu yang sama; pola tidur terganggu; selalu berprinsip waktu adalah uang sehingga melalaikan waktu istirahat; dan selalu ingin berkuasa.

Siapapun orangnya pasti ingin meraih kesuksesan. Namun kesuksesan belum tentu bisa membeli kebahagiaan. Uang bisa dipakai untuk membeli makanan dan kasur empuk, namun belum tentu bisa dipakai untuk membeli  rasa enak dan nyenyak.

Banyak orang yang mengatakan, bahagia itu sederhana. Berterima kasih, bersyukur kepada Allah atas segala rizki yang kita peroleh tanpa memandang besar dan kecilnya rizki yang kita dapat merupakan cara sederhana menjemput bahagia. Qana’ah, menerima dan merasa cukup  atas segala pemberian dari Allah merupakan cara berikutnya untuk meraih kebahagiaan.

“Jika suatu hari,  kamu  hidup dalam keadaan sehat wal afiat, hidup dalam keadaan aman dan tenteram, dan tersedia makanan untuk hari itu, maka seolah-olah kamu telah memiliki seluruh dunia” (H. R. Ibnu Majah).

Berdasarkan hadits tersebut, bahagia itu benar-benar sederhana. Badan sehat wal afiat dan memiliki makanan meskipun hanya untuk satu hari sudah menjadikan seseorang seolah-olah memiliki seluruh dunia. Orang yang memiliki seluruh dunia adalah orang kaya.

Abang  becak yang bisa tidur nyenyak di jok becaknya, padahal di sakunya hanya ada uang sepuluh ribu rupiah, tukang kuli panggul di pasar yang dapat melahap makanan sederhana dengan nikmat yang digambarkan pada awal tulisan ini, mereka adalah orang-orang yang sukses meraih kebahagiaan, meskipun secara materi ia tak memiliki tabungan ratusan juta rupiah atau harta yang berlimpah.  

Sementara teman saya yang pengusaha sukses secara materi, sebenarnya dirinya sedang terkena racun kesuksesan. Hartanya berlimpah, tapi ia tak bisa menikmatinya. Untuk sekedar tidur nyenyak dan makan enak saja ia tak mampu.

Beracun atau tidaknya kesuksesan yang kita raih hanya diri kita sendiri yang akan merasakannya. Kita tidak perlu takut dengan kesuksesan yang kita raih, selama kita masih bisa bersyukur, qana’ah, taat beribadah, dan mampu berbagi dengan sesama, insya Allah bahagia akan tetap menyapa kita.

 

Penulis, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...