Rabu Mustajab

Rabu Mustajab
Ilustrasi Berdoa. Ist

Oleh:Ade Sudaryat

SECARA tersurat tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang menyebutkan hari Rabu. Tapi, secara tersirat terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebut-nyebut hari Rabu,  diantaramya surat  al-Qamar : 18-21.  

“Kaum 'Ad pun  mendustakan (pula).  Maka alangkah dahsyatnya  azab-Ku  dan  ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pohon-pohon kurma yang tumbang, maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.”

Jalaluddin Ash-Shuyuthi dalam Dzur al Mantsur fi Tafsiri bi al Ma’tsur, Juz XXII : 80 berpendapat,  yang dimaksud dengan riihan sharsharan, yakni angin lebat yang bergemuruh, dihembuskan sebagai siksaan bagi kaum ‘Ad. Peristiwa ini merupakan yaumin nahsin mustamir, hari-hari kesialan  yang  tiada hentinya. Azab ini terjadi pada hari Rabu akhir bulan,  namun tidak disebutkan nama bulannya.

Imam Al-Qurthuby dalam  Tafsir Al-Qurthuby, Juz XX : 87, mengutip pendapat al-Juzaj,  siksaan yang diturunkan kepada kaum ‘Ad terjadi pada hari Rabu akhir bulan. Sedangkan Imam Al-Baghawy dalam Ma’alim al Tanzil, halaman 1254  berpendapat, siksaan bagi kaum ‘Ad berupa angin lebat yang berdebu tebal. Siksaan yang tiada hentinya,  ini berlangsung selama setahun terus menerus. Tak ada orang yang selamat akibat siksaan tersebut. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu akhir bulan.

Imam Asy-Syaukani dalam Fath al Qadir Juz IV : 669 berpendapat, Allah menurunkan siksaan kepada kaum ‘Ad pada hari Rabu akhir bulan Syawal. Kejadiannya berlangsung selama tujuh hari delapan malam, dimulai pada hari Rabu, dan berakhir pada hari Rabu berikutnya.

Sementara dalam hadits Nabi saw,  ada beberapa hadits yang menerangkan nama-nama hari, diantaranya dalam Kitab Asma wa Shifat, karya Imam al Baihaqy, Juz II : 250, hadits nomor 812 dan 813. “...Allah ‘azza wa jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu, kemudian Ia menciptakan gunung di atasnya  pada  hari Ahad. Ia menciptakan pepohonan pada hari Senin dan menciptakan  perkara yang dibenci pada hari Selasa, dan Ia menciptakan cahaya pada hari Rabu. Kemudian Ia menebarkan seluruh binatang yang merayap pada hari Kamis. Dan Allah menciptakan Nabi Adam a.s pada hari Jum’at  ba’da  Ashar...”

Kebanyakan mufassir berpendapat azab  berupa angin lebat yang bergemuruh pada hari Rabu akhir bulan  hanya berlaku untuk kaum ‘Ad.  Tak ada alasan untuk berkeyakinan, hari Rabu merupakan hari yang penuh kesialan. Sebaliknya, jika kita menelusuri perjalanan ibadah Nabi Muhammad saw, hari Rabu merupakan hari yang baik, merupakan salah satu saat mustajab (terkabulnya) do’a.

“Rasulullah saw telah berdo’a di masjid ini, yakni masjid Al-Fath, selama tiga hari, Senin, Selasa, dan  Rabu. Kemudian  do’a Rasulullah saw tersebut  dikabulkan  pada hari Rabu diantara dua waktu shalat. Jabir berkata : ‘Tidaklah aku mendapat kesulitan yang besar, kecuali aku memilih waktu tersebut, kemudian aku berdo’a kepada Allah pada hari Rabu diantara dua shalat. Tidaklah aku  berdo’a  pada waktu tersebut, kecuali aku mengetahui bahwa do’aku terkabul.’ “

Berdasarkan hadits tersebut dapat kita ketahui, do’a Rasulullah saw  terkabul pada hari Rabu setelah berdo’a selama tiga hari. Sebagian ulama hadits memberi keterangan, waktu dikabulkannya do’a Rasulullah saw tersebut antara Dhuhur dan Ashar.

Syaikh Nashiruddin Al-Bani, salah seorang ulama hadits terkenal dalam karyanya Syarah Adab al Mufrrad memberikan komentar terhadap hadits tersebut. “Kalau bukan karena seorang sahabat Nabi saw yang telah memberi faidah kepada kami dan menyaksikan terkabulnya do’a Rasulullah saw pada hari Rabu, yang tentunya kesaksian sahabat tersebut jauh lebih berharga daripada komentar orang-orang yang tak pernah menyaksikan terkabulnya do’a Rasulullah saw. Berdasarkan hal tersebut, kami meyakinkan bahwa terkabulnya do’a Rasulullah saw pada hari Rabu benar-benar terjadi. Selain itu, sahabat Rasulullah saw yang menyaksikan peristiwa terkabulnya do’a Rasulullah saw tersebut, juga mengamalkan perbuatan seperti yang dilakukan Rasulullah saw, yakni  berdo’a pada waktu yang sama, dan do’anya pun dikabulkan Allah. Kesimpulannya, berdasarkan informasi dari seorang sahabat Rasulullah saw tersebut (sahabat Jabir), kami memahami perbuatan tersebut (berdo’a pada hari Rabu) merupakan sunnah ta’abudiyah (perbuatan yang tergolong ibadah), bukan perbuatan yang bersifat ‘afuwiyyah (kebetulan terjadi).”

Pada hari ini, kita telah berada pada sepuluh hari dari bulan Syawal 1441 H/2020 M, dan bertepatan dengan hari Rabu. Merujuk kepada hadits Nabi Muhammad saw dan sahabat Jabir yang meneladani Rasulullah saw, hari Rabu merupakan salah satu hari mustajab. Jika kita berdo’a dengan penuh keyakinan, do’a kita akan dikabulkan Allah Swt.

Seperti halnya Jabir, pada saat ini masing-masing dari kita bisa jadi tengah dirundung masalah besar. Karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan mustajab ini untuk memohon kepada Allah agar segala kesulitan hidup yang tengah menimpa kita, pandemi Covid-19 yang sudah beberapa bulan ini menghantui kita, dan berbagai kesulitan lainnya segera dilenyapkan dari diri dan sekitar kita.  

Kita sangat berharap,  kehidupan kita kembali kepada situasi normal. Kita sudah merindukan dapat kembali melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan merindukan semaraknya majelis zikir dan majlis ta’lim di masjid dan madrasah seperti sedia kala. Kita juga memohon kepada Allah agar diberi keimanan yang kokoh, kesabaran, dan ketawakalan dalam menghadapi segala musibah.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Kau sebaik-baiknya Penolong. Ya Allah, berilah kami kemenangan, sesungguhnya Kau sebaik-baiknya Pemberi kemenangan. Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, sesungguhnya Kau sebaik-baiknya Pemberi ampun. Ya Allah, kasihanilah kami, sesungguhnya Kau sebaik-baiknya Pemberi kasih sayang. Aamiin. ***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...