Puisi-Puisi Yajhem Jehaman

Puisi-Puisi Yajhem Jehaman
Yajhem Jehaman

KAMPUNG
Yajhem Jehaman

Kampung telah dilahap sepi setelah suara anak-anak tertidur
Hanya tersisa puing-puing kenangan di atas meja bapaku dalam rupa bingkai
Namun bukan lagi bingkai hanya sepotong bangkai yang di bawah kucing kesayangan adik
Kemudian ia melahap sampai malam membawanya pada kantuk.

Di halaman ibu merawat bunga tidak ada yang melihat
Berharap suara anak-anak kembali berteriak di panggung yang telah disediakan
Agar kampungnya tak melawat rumah dan lahan yang kosong
Menghibur hatinya setelah seharian merawat sepi.

Kerinduan ibu telah aku saksikan
Pada tanah dan air
Semua hanya dalam bingkai bapak
Semua benar-benar pergi tinggalkan ibu dan bapak.

Nita, 7 Oktober 2020.

RINDU
Yajhem Jehaman

Aku merindukanmu pada sesosok senja
Yang datang kemudian pergi tanpa bekas dibibir
Kau bahkan belum paham tentang semua deritaku
Karena derita hanya akan membungkus malam

Mengingatkan kenangan bersamamu adalah pilihan yang terpahit
Yang hanya akan membuka pintu bagi kecemasan dan gelisah
Kehadiranmu bahkan telah menjadi racun bagi rindu
Yang mencercit setiap darah menyambut kelana

Mungkinkah dalam rindu dan gelisah
Aku akan menjadi lilin yang mencair kemudian mati terkutu.

Nita, 07 Oktober 2020.

JALAN PULANG
Yajhem Jehaman

Setelah malam mengusir pagi
Aku ingin berpamit
Mengunjungi wewangian masakan di dapur
Yang telah lama disiapkan bersama mentari

Sesaat kulemparkan mata di halaman rumah
Ternyata bunga mati dikutuk sepi
Tinggalkan batang dan daun kering
Sebab hujan tersesat di hutan kepunyaan

Yang lupa akan jalan pulang

Setiba di senja aku melihat bapak tua
Tinggal dalam kesendirian melawat sepi
Dengan mawar hitam di tangan
Menyimpan derita yang ia bawa dari kampung.

Ruang sepi, 08 Oktober 2020.

Yajhem Jehaman dengan nama lengkap Yakobus Jehaman, kelahiran Amba, 5 Februari 1997. Penulis penikmat tulisan-tulisan sastra. Sekarang sedang menempuh pendidikan di STFK Ledalero-Maumere.

Komentar

Loading...