Puisi-Puisi Sultan Musa

Puisi-Puisi Sultan Musa
Sultan Musa

PRIA BERBINGKAI MUNAJAT
Sultan Musa:

Matanya di rangkul cahaya
Suguhkan pandangan tajam

Mulutnya di selipkan doa
Di antara ranting kusam

Badannya di lukis riak menyangga
Membendung larut buai membungkam

Telinganya di letup syair merenda
Menghadang caci maki merayu rekam

Dadanya di pahat raya berwarna
Merangkul gersang menjadi salam

Kakinya di relung takjub percaya
Melangkah menuju cerita tak kelam

Tangannya di teriak segudang asa
Mengukir kotak senja tanpa meredam

Kepalanya terikat bahagia
Menghargai masa lalu meski kusam

#2020


DENDANG HUJAN
Sultan Musa:

Memikul rekah air
Di beri sempat tebarkan
Pada hamparan bumi
Beri kabar dari Sang Pembawa Rahmat

Tak terkira turunnya
Saling berbunyi di atap
Seakan mengalirkan kata-kata
Dari wajah penuh pengharapan

Saling bertukar hentakan
Bergembira beban terbebaskan
Seperti memikul makna salah
Mengisi setiap ranjang semesta

Air yang turun berjatuhan
Seperti lembaran tak terputus
Mengharap luangkan kekosongan
Dari kekeringan tak terbasuh

Kadangkala di temani gelegar petir
Mengoreksi sisa kegetiran
Dengan arus bunyi “ramai”
Bahwa ini pertunjukan alam

Langit sebagai lembaran
Menghamburkan catatan sibuk
Bahwa manusia dalam persepsi
Di negeri diri membasuh usia

Dari tetesan airnya
Melukiskan kental isyarat
Akan sampai jumpa di lain waktu
Tekankan, untuk menjauh dari kata menyerah.

#2020

Sultan Musa, berasal dari Samarinda Kalimantan Timur, sebagian karyanya dihimpun dalam sejumlah antologi puisi maupun cerpen bertaraf  nasional maupun internasional, seperti “Balikpapan Kota Tercinta Kumpulan Cerita Pendek” Jaringan Seniman Independen Indonesia 2008, “Hantu Sungai Wain” Kumpulan Puisi dan Cerpen Jaringan Seniman Independen Indonesia 2009, “Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia“ Panitia Dialog Borneo-Kalimantan XI bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur Juli 2011, “Ketika Senja Mulai Redup Kumpulan Puisi” Kaifa Publisihing Bandung 2016, Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017 “The First Drop The Rain” Wahana Resolusi Jogyakarta, 2017.

Pada Juli 2018 puisinya lolos kurasi Antologi Puisi Penyair Dunia “Wangian Kembang : Antologi Puisi Sempena Konvesyen Penyair Dunia – KONPEN 2018” yang di gagas Persatuan Penyair Malaysia dan di ikuti sebanyak 11 Negara. Antologi Puisi “Dari Balik Batu – Batu Candi” Kelompok Pemerhati Budaya & Museum Indonesia (KPBMI) Jakarta 2019. Antologi Puisi “Jazirah 2 Segara Sakti Rantau Bertuah” Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019. Antologi Puisi “Saat Berjumpa Di Kertas” Garis Khatulistiwa, Makassar 2019. Antologi Puisi "5:00" Ellunar Publisher, Bandung 2020. Antologi Puisi “Pringsewu,Kita Rumpun Di Tepi Way Tebu” Lampung, 2020. Antologi Puisi “Potret Kehidupan” 2020. Antologi Puisi “Rumah Semesta” Bali 2020.

Antologi Puisi Sempena Pertemuan Dunia Melayu 2020. Antologi Puisi “Perempuan–perempuan Kencana – Serpihan Puisi Tentang Perempuan Istimewa “ Lingkar Studi Sastra Setrawulan 2020. Antologi Hari Puisi Dunia 2020 “Berbisik Pada Dunia” Yayasan Hari Puisi – Jakarta 2020. Serta tercatat pula di buku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017.

Terpilih sebagai 10 Penulis Terbaik versi Negeri Kertas Awards Indonesia 2020 & Penyair Pilihan dalam even Antologi Puisi Bersama 2020 “Perempuan Istimewa” – Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA) 2020. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa serta laman daring online.

Karya tunggalnya telah terbit di antaranya “Candramawa” 2017, “Petrikor” 2019 dan karya terbaru saat ini berjudul “Sedjiwa Membuncah” 2020 & “Mendjamu Langit Rekah” versi e-book 2020.

Komentar

Loading...