Puisi-Puisi Safron Rasyidi Sidal

Puisi-Puisi Safron Rasyidi Sidal
Safron Rasyidi Sidal. Ist

KARTINI ESOK HARI
Safron Rasyidi Sidal:

Kartini melahirkan negeri tanpa menangis 
Kartini melahirkan tanpa derita yang mengiris 
Ia menangis karena perlakuan adat lelaki yang tak adil dan sangat sadis 
Adat lelaki sangat dungu dan bengis (andai lelaki tahu Ia dilahirkan dari mana) 
Lelaki memperbudak semua perempuan atas dasar kebodohan dan kedunguan yang miris 
Kartini meronta dan memberontak sampai habis 
Karena nasib perempuan tidak digubris
Tidak boleh belajar dan tidak boleh pintar 
Kartini mengerti dan tetap hormat pada lelaki (karena lelaki makhluk Tuhan) 
Ia belajar patuh dalam teduh 

Ia khusyuk belajar dan membangkitkan semua perempuan Dengan mata batin membangun bangsa 
Tanpa buku meraih semua ilmu 
Menjadi guru kehidupan agar negeri tak layu 

Kartini mencoba menghentikan terik matahari 
Ia debu yang mengepul menaungi hati 
Ia ingin seluruh perempuan negeri ini lebih dari sekedar seorang Kartini 
Ia ingin semua perempuan adalah Kartini 

Ia ingin berjuta Kartini Untuk tumbuhkan harum negeri... 
(Mohon dimaafkan: "Kartini yang ini hanya makhluk kecil") 

Ia terngiang sebuah puisi  dari orang asing:
women was created from the ribs of man, 
not from his head to above him, nor from his field to.... 
(Lalu Kartini tertidur 
dan bermimpi: semua perempuan negeri ini
telah bangkit... hebat... dan bangga menjadi ibu dan hati sebuah negeri !!) 

Besoknya Kartini terbangun: Ia tersipu-sipu, sangat malu Karena terlalu membebani para puteri, untuk mengasuh negeri (yang makin sulit difahami !!) 

Jakarta 20 April2021

PERTIWI, GADIS KECIL INGIN JADI KARTINI 
Safron Rasyidi Sidal:

Pertiwi,  gadis kecil dari kampung kumuh itu 
Sering dibentak oleh angan-angan dan juga berjuta mimpi 
"Ia pengin menjadi seperti Kartini... "

Dibuatkan lagu dan dikenal dalam semua buku
Kartini satu-satunya putri sejati 
Tumbuh menyubur di semua hati 
Notasi lagunya indah sederhana membuai 

Ada mimpinya, si kecil Pertiwi pengin jadi pilot pesawat tempur 
Sebenarnya ia takut bakal cepat mati 
Tetapi terbang tinggi sangatlah dinanti 
Pertiwi kecil terus bernyanyi lagu "Ibu Kita Kartini" 

Seluruh angkasa begitu harum mewangi 
Seisi bumi juga harum terperangai:
tak ada kejahatan di bumi, atau bau bangkai, atau politik basi 

Semuanya sangat harum,  seharum Kartini: lagu abadi !!

Dan kau tahu 
Kehidupan seniman 
Memang miskin dengan kilau permata 
Kebanggaanmu  cinta semata 

Demikian keadaanmu Kartini: ilham para seniman 
Membelai hati negeri pertiwi 

Si kecil Pertiwi tersadar,  kampung kumuhnya tak pernah mewangi 
Pesawat tempurnya jatuh di tempat sampah: 
aroma sekeliling hidupnya setiap hari... 

Di tempat sampah itu 
Tiba-tiba Pertiwi kecil menemukan sesobek kertas 
Entah tersobek dari buku apa,  ia tak tahu 
Lalu terbata-bata ia mengeja sebuah kalimat:
"an obedient wife command her husband"
Istri yang patuh itu, (sebenarnya) memerintah suaminya... !!! 

Pertiwi kecil makin tidak tahu, hidup itu harus seperti apa... 
Pokoknya, pengin aja jadi seperti Kartini ! 

Jakarta, 20 April 2021

Safron Rasyidi Sidal,  lahir di Dusun Durungan Wates Kulon Progo Djokja, 8 Maret 1963

Menulis puisi kreatif essay  cerpen  novel (tidak diterbitkan) dan beberapa naskah drama, sejak masih di bangku SMP dan Pesantren Pabelan Muntilan Jawa Tengah. Alumnus Teater Dramaturgi ISI Djokja dan bekerja di Dit-Seni Depdikbud Senayan.

Mulai Maret 2021 pensiun sebagai PNS di Direktorat MSPP (Musik Seni Pertunjukan dan Penerbitan) Kantor Kemenparekraf

Salah satu Cerpennya "Dialog"  dimuat di dalam anthologi: Beyond the Horison: Short Stories From Contemporary Indonesia (editor by Dr. David T Hill)  dan diterbitkan sebagai sebuah buku oleh Monash Asia Institute  Australia,  bersama cerpenis Indonesia lainnya,  seperti Putu Wijaya dll.

Beberapa puisi panjang karyanya, Senandung Gadis Yang Dipotret Bugil dan dipublikasikan, Dialog Cinta Santri dengan Hostess, Senandung Melati di Dasar Jurang, hingga Indonesia: Gadis Biru di Dalam Arena Adu Banteng Cataluna.

Sampai sekarang masih aktif terus menulis.[]

Komentar

Loading...