Puisi-Puisi Rian Kurniawan Harahap

Puisi-Puisi Rian Kurniawan Harahap
Rian Kurniawan Harahap

HUJAN YANG ASING MALAM ITU 

Aku melihat sepucuk kenangan pada hujan
Di antara peluk dan dekapanmu yang bisu
Dibawa mimpi dalam alunan gemuruh
Mengalunkan melodi ritmis disela bahagianya katak yang diseruput kemarau

Aku membaca gerak bibirmu
Yang tidur kemayu, mengajakku pada alamat ibumu
Yang kudatangi setiap malam minggu
Yang kujaga dari serbuan anjing-anjing gang depan rumahmu

Aku mengelus rambutmu
Mencoba menghitung berapa cinta dari tiap helainya
Sebab rambutmu mulai bernyali merubah warnanya
Ia bersaksi atas bantal yang kau dekap dalam tiap hujan

Aku adalah sejengkal rindumu
Berbaring di samping, bergelut dalam mimpi abadi, memutih berabad semesta
Pada hujan yang asing, aku coba mengenalimu setiap waktu, antara wajahku dan wajahmu, tak perlu lampu.

Pekanbaru, 2021

KUDETA

Diam makan dalam
Dalam diam makan api
Api disulut, rumah terbakar
Jendela dipecah, pintu didobrak
Tak, tak, detak langkah masuk menyelinap
Tak, tak, detak jantung berdegup kencang
Tak, tak, detak waktu dilumat sebelum gelap

Operasi senyap, malam bisu
Suara ditanam dalam perut bumi
Hingga pagi mentari mengabarkan ada manusia berkepala babi

Pekanbaru, 2021

CATATAN GANJIL MEMBACA TANAH

Dari tanah kembali ke tanah Makhluk kecil mengintai pesta pora Corona bersyair di lingkar galaksi

Berkeliling dunia safari pada inang yang manusia

Dari air yang mengembara menuju luka-luka, menyapa tanah kering kerontang, menjamah sunyi di tengah padang
Ilalang hilang rupa, udara lenyap rasa, sungai kehidupan keruh pekat menyekat

Tak ada tanda nafas masih di dada, mulut berbusa-busa, langkah gontai menyeret menuju pengharapan palsu
Dari tanah kembali ke tanah

Kami terkurung di dalam rumah-rumah, sekolah tumbang jiwanya, kampus menutup pagar- pagar logika, rumah sakit penuh dengan dusta masker di muka

Kami menunggu kembali ke tanah, nomor antrian telah dipegang, keranda datang dengan jumlah ribuan, nafas satu-satu sesak di dada.

Kami merindu udara segar yang meranggas pintu rimba, mengelabui jagawana, menyahdu dan menyatu pada pencipta

Dari tanah kembali ke tanah

Kami bertanya pada Tuhan, langkah mana yang tidak takut neraka? Rumah sakit membabi buta, menjadi serakah, lupa adat, lesap istiadat 

Kami bertanya pada Tuhan, apakah ini azab atau sekadar ujian biasa?

Dalam doa yang sepenggal, seorang anak sesak, terbujur kaku kembali ke tanah Nomor urut sudah dibaca, kospirasi tertawa di media massa

Dari tanah kembali ke tanah

Semua tak bergeming, wajah-wajah lucu dan lugu termangu dalam layar kaca Surat kabar dipenuhi ucapan duka cita, konspirasi jumawa di kaki langit Apakah kami akan mati diliput fakta atau justru propaganda?

Kami bertanya pada dinding-dinding legislasi, jendela para wali, ventilasi para bupati. Semua sepakat memakai dasi dan menyanyikan lagu bisu setiap hari

Bersenandung aubade undang-undang erupsi kapitalisasi Menunggu rakyatnya mati dan kembali korupsi

Dari tanah kembali ke tanah

Dari ketiadaan kami kembali ke tanah

Dari raungan dalam rahim kami kembali ke tanah Dari bisu yang biadab kami kembali ke tanah

Dari hati paling dalam, kuburkan corona di dalam tanah

Tanah mulia tanah tak berdosa, hutan bahagia bayi-bayi menangis gembira. Tanahku, tanah kita, tanah bayi-bayi manusia

Di atas tanah ketuban pecah, lahirlah anak manusia Tak takut Corona, Tak resah dunia

Pekanbaru, 2020

Rian Kurniawan Harahap, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Pekanbaru. Ia merupakan pendiri Komunitas Jejak Langkah. Tunak menulis di beberapa media cetak dan online lokal dan nasional. Buku novel terbarunya berjudul Kelambu Waktu (2020). Ia juga memenangkan lomba juara 1 puisi guru nasional secara berturut-turut 2019 dan 2020, juara 2 lomba naskah drama nasional Dewan Kesenian Metro, dan cerpen terbaik Kemenparekraf.[]

Komentar

Loading...