Puisi-Puisi Rian Kurniawan Harahap

Puisi-Puisi Rian Kurniawan Harahap
Rian Kurniawan Harahap

Di BINTAN AKU BERLABUH 
Rian Kurniawan Harahap

Dari kejauhan dermagamu telah kudengar sorai rindu
Kapalku  telah tertambat, kupaut jangkar tepat di jantung gunungmu
Aku menyatu pada air terjunmu yang penuh liku-liku
Mata air rahim ibu yang tak pernah menjadi warna abu
Telaga suci yang meramu sajak melayu 

Di Bintan aku berlabuh 
Gunungmu terpacak tegak menantang lanun
Perahu-perahu mereka jatuh dan karam pada lautmu
Tanahmu adalah nyanyian sendu pokok kelapa yang disepoi angin
Pada tanahmu semua akan tumbuh kecuali sebiji kesombongan

Di Bintan aku mengarak rindu
Rindu melabuhkan kapal pada teras Abah dan Mak
Melarungkan memori air mata di sarung dan kebaya
Pada budak kecil yang menaruhkan mimpi di atas batu karang
Pada masa yang tidak bisa diputarbalik oleh kapal manapun 
Pada kapal yang beda, harapku berlabuhku pada Bintan jua

Pekanbaru, Juni 2021


OMBAK DAN CAMAR BINTAN
Rian Kurniawan Harahap

Kawanan camar menarikan lenggak zapin di cakrawala
Ombak-ombak bergulat di tengah samudera
Pasir-pasir berdesir tentang riwayat melayu tua
Karang menyeka air mata mengingat masa – masa jaya

Oh tahukah Tuan?
Bintan segepok rindu tentang ombak yang berkejaran
Bintan hamparan pasir putih tempat menyimpan memori kekanak-kanakan
Bintan rimbunnya hutan dan camar yang merajut singgasana di atasnya
Bintan menara kerinduan dan ingatan yang tak berkesudahan

Akulah pelaut yang gemar memberi nama ombak
Akulah pelaut yang gemar berbincang dengan camar di perahu-perahu nelayan
Akulah rinai hujan yang datang dan kelebat petir yang gagah di langit hitam
Akulah pula pelangi yang jatuh ke lautan dalam

Bintan serupa menara ingatan
Camar sekawanan kegelisahan tentang pulang ke kampung halaman.

Pekanbaru, Juni 2021


KEMANA NAK MENGADU?
Rian Kurniawan Harahap

Di antara baris-baris rindu langit, di balik sendunya awan kelabu
Ada petikan sunyi yang bergetar dalam hati
Mengais cerita-cerita dahulu, tentang aku, tentang engkau dan dunia kita
Saat langit tak lagi merona, kidung senja pun dilahap gelapnya malam

Kemana nak mengadu?
Saat aku melihat rintihan pohon-pohon dilalap gemuruh api
Saat aku mendengar jeritan dan pekik lolongan binatang-binatang berlari
Saat aku mencium aroma mati dari akar-akar yang tak bisa diganti
Saat kepulan asap telah memenuhi langit kota kami

Kemana nak mengadu?
Mak telah bilang, saat kau besar kau kan lihat tulang rusuk Pekanbaru
Mak juga bilang, kalau kau sudah besar jangan takut untuk garang
Mak bilang, pantang mundur sebelum berperang
Sebab perang sejati, adalah perang untuk menang

Mak kemana aku nak mengadu?
Asap sudah mengepung Pekanbaru 
Orang-orang berlari ke seluruh penjuru
Sekolah-sekolah menutup pintu
Aku tak lagi melihat sahabatku dan guru-guru 

Wajah kotaku, ditanam api sembilu
Mak, biarkanlah aku mengadu
Biarkanlah aku tunaikan niat
Membaca kalimat demi kalimat, untuk menjaga hutan demi wasiat
Aku tak peduli berapa langkah pergi
Aku tak peduli berapa pohon lagi
Sebab menjaga hutan adalah tanggung jawab kami.
Mak, kemana lagi aku nak mengadu?

Juli, 2015

Rian Kurniawan Harahap, M.Pd, lahir di Pekanbaru, 5 Juli 1989, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Pekanbaru. Bergiat pada Komunitas Jejak Langkah. Penulis Novel Kelambu Waktu. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi cerpen, dan esai yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar, dan terangkum dalam berbagai antologi. 

Berbagai penghargaan dan prestasi telah diraihnya di antaranya Anugerah Penulis Naskah Terbaik 3 dalam Festival Sastra Sungai Jantan Kabupaten Siak pada tahun 2019, peraih naskah puisi terbaik 1 nasional yang ditaja Universitas Islam Riau pada tahun 2019 dan 2020, peraih terbaik 2 lomba naskah drama dalam festival sastra yang ditaja Fakultas Ilmu Budaya UGM, peraih terbaik 2 lomba naskah drama dalam festival sastra yang ditaja Dewan Kesenian Metro pada tahun 2020. 

Naskah populer yang sering dipentaskan oleh berbagai kelompok teater di Indonesia adalah perempuan obrak-abrik. Dia juga aktif menulis cerpen dan dimuat di berbagai surat kabar.[]

Komentar

Loading...