Puisi-Puisi Pusvyta

Puisi-Puisi Pusvyta
Pusvyta Sari

JEDA
Pusvyta:

Sesekali harus kuhela nafas dan
membuat ruang di rongga dada sedikit lebih luas
Jika kau melihatku bermuka lebam
barangkali saja barusan rindu menghantamku habis-habisan

Terkadang ingin kutunjukkan kepadamu
Betapa banyak kata-kata menyesak di lemari batinku,
mereka berdesak ingin keluar dan mengatakan betapa riuh cerita hidupku

Tidak, aku tidak bermaksud menyembunyikannya..
Bukan karena apa-apa.
Semua hanya karena keberanianku dibunuh oleh pertengkaran semalam,
sepasang kekasih yang saling menghujam luka

Aku berlari sebab luka itu mengarah kepadaku,
Mengejarku hingga di bawah sadarku,
Menghempasku dan membuatku terbangun dalam ketakutan

Pagi ini, kulihat gadis berwajah tirus duduk di sebuah café yang dikelilingi salju
Secangkir the hangat di genggamannya
Ia memanggilku datang dengan tatapan yang sendu
di sudut kerlingnya menantangku.

Lupakan saja, rindu itu sia-sia.
Lepaskan seluruh kekhawatiranmu akan dingin.
Bara di dadamu sudah cukup untuk mencairkan semuanya.
Berlarilah menuju bening jiwamu

Tatapannya mencairkan hatiku yang membeku

Hai..Dara.., bukankah ini yang kau impikan
kemerdekaan menjadi diri yang sejati dan
berkelana menjelajahi mimpi?

(Paciran, 16 Agustus 2020)


BINGKAI
Pusvyta:

Kita yang sederhana dalam hidup yang mewah atau
merasa mewah dalam hidup yang sederhana
Ini membuatku bertanya

Sejauh ku melihat cakrawala
Perjalanan ini sunyi, jiwa kita yang ramai
Hidup itu sepi, suara kita yang sorai
Bingkai membatasi, seperti apa tampak diri?

Kita ini lupa
Bingkai terpasang di mana-mana
di sungging senyuman
Di kacamata, di cermin, di kamera
Di sepatu, di baju, di rumah, di lencana,
Semua bingkai memburu hingga habis nafas tanpa sisa

Kita ini apa
Dalam bingkai bersama-sama?
Mungkin berbeda-beda ukurannya tapi tetap saja ada bingkai
Mungkin kita tak pernah memahaminya, kenapa
Atau mencari tahu bisakah lebih besar daripadanya?
Selusin pertanyaan menempeli foto-foto kita yang terpajang
Siapa suka melihatnya?
Mungkin itu tidak terlalu penting selama kita puas memajangnya

Kita buat bagus dan menawan
Tapi kita lupa, tiada yang sempurna
Ya, kita sering lupa
Siapa yang memasang bingkai kita?
Untuk apa?
Apakah bisa kita minta bingkai yang lebih besar?
Tentu saja, tapi sanggupkah kita?

(Paciran, 17 Maret 2020)


SUARA
Pusvyta:

Tetiba terdengar suara
Yang darinya kuingat peristiwa
Selama musim yang kita bawa di jalanan
Ceritamu terpasang di tepi-tepi
Menempel di dahan pohon dan dinding-dinding rumah

Sungguh
Mempesona
Sampai hujan tak sanggup melunturkannya

Cerita itu ada di sana
Dan suaramu intonasi yang tak pernah kulupa
Nada dasar yang kuhafal

Ah suasana membawa kita pada ingatan
Sejenak biar saja lah
Akan kutekuni mendengarkan

Ya itu sedikit membuat nyaman
Sebab suaramu sejatinya tak dapat lagi kudengarkan

Ini hanya rekaman
Yang tetap tersimpan
dalam kotak ingatan

dia aman

(Paciran, 17 Maret 2020)

Pusvyta Sari, lahir di Kediri 21 Oktober 1982. Jejak puisinya dapat di baca di kumpulan puisi bersama Sahabat Puisi Indonesia “Tanah yang Merdeka”, dan Antologi Puisi Lima Penyair, “Ziarah Cinta, Ziarah Jiwa”. Ia alumni Pendidikan Bahasa Perancis (S1) dan Pascasarjana Teknologi Pembelajaran di Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis pernah aktif di Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial Yogyakarta, dan Yayasan KAGEM Yogyakarta. Kini, ia aktif mengajar di Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan dan mengembangkan Taman Bacaan “Omah Lor” untuk anak-anak di tepi pantai Paciran Lamongan

Komentar

Loading...