Puisi-Puisi Moehammad Abdoe

Puisi-Puisi Moehammad Abdoe
Moehammad Abdoe

MELEPAS DURI MATA
Moehammad Abdoe

bahwa perjalanan hanya menuju cahaya kalbu
dengan mereka menyadari bekal yang cukup
tidaklah berkalang cemas mencari perhiasan bumi
merayu seribu ikan laut dan burung di gunung

bahwa hidup bukan perkara menghitung bintang usia
merayakan detak jantung atau hari kebangkitan
sebagaimana hanya untuk mengingat dan mensyukuri rahmat
pada jalan ke mana selain harus kembali kepadanya

bahwa karena meja dan kursi tiada yang dapat mengenyangkan
hiduplah jiwa mereka di puncak arupadatu
mengheningkan sebagian riak gelombang pikuk
daripada inginnya menjadi pengantin batu

bahwa diri mengetahui nilai-nilai kemustahilan
meja kekuasaan bukanlah untuk diduduki
kentut atau berak pada cawan berlapis emas
sesaji berwajah murung dari tangan petani

Malang, 2020.

RINDU DI JALAN NABI MUSA
Moehammad Abdoe

Seperti di pundak Gunung Sinai itu
kaki Musa pernah terkilir hingga pingsan
mengakui, bahwa tiada yang lebih berat
selain daripada rindunya kepada kekasih

Dan Muhammad pun mendapat perintah
hendaklah mudah jalannya menemui
berulang-ulang, hingga ia tersipu malu
melepas kepak rindunya ke bumi

Malang, 2020.

KAMPUNG HALAMAN
Moehammad Abdoe

Dedaunan pohon melambai
tiupan angin menyapu debu halaman
perih menyapa mataku
bertanya kabar tentang musim dingin
tempat di mana pertama kali sanda meneguk air susu
dari hasil ibu memakan makanan yang tumbuh di tanah asalnya

Tiada kerinduan selain kerinduan
seolah hati baru saja sembuh dari ngilu bising kota
mendengar lagi suara nun jauh tertinggal oleh putaran waktu
di sudut peraduan nasib orang-orang melarat:
wewangian baju kota
lampu gedung pencakar langit
serta anak-anak jalanan yang masih terusik dari tidur malamnya

Duhai wajah teduh berambut mati
letih kusimpan rindu di antara lipatan kulit ular
mendedah cangkul saat
kerutan wajah mulai tampak pada kaca
sisa-sisa kenangan
guratan masa lalu sebelum semburat senja senandung diri di halaman

Pada hari sebelum senja itu
meringkuk memasuki pintu malam berbintang
anak-anak kembali belajar mengaji
membersihkan daki di sekujur tubuhnya
kepada siapa pertama kali
sanda belajar berbakti

Malang, 2020.

Moehammad Abdoe, lahir di Malang Jawa Timur, anggota komunitas Dari Negeri Poci. Pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) dengan gerakan yang mengangkat tema sosial dan seni musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan cerpen terbit di berbagai media massa Indonesia maupun luar negeri, antara lain: Utusan Borneo, Sabah (Malaysia), Suara Sarawak, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Republika, Rakyat Sultra, Riau Pos, serta diabadikan di pelbagai antologi bersama. Saat ini, ia masih menetap tinggal di sebuah desa kecil di bawah lereng bukit kapur (Kalipare-Malang).

Komentar

Loading...