Puisi-Puisi Mezra Pellondou

Puisi-Puisi Mezra Pellondou
Penyair Mezra E Pellondau

SUPUL
Mezra E. Pellondou

Kau datang lagi mempertanyakan 
wajahku yang lama tersimpan 
pada biru bening 
air telaga
tenang tak bernama

matahari kampung Supul
mengirimkanmu padaku
antara Lakat dan Niki -Niki
terlalu lama madu Polen  
membawa cerita
apel dan  jeruk Soe jadi sejarah
tapi sebuah telaga?

mungkinkah air  biru itu
menjadi madu saat pesta matahari
mengrimkan kupu- kupu dan bunga
rumput dalam tidurku?

mata akan sulit terpejam
antara kehijauan rumput dan 
ayunan daun jagung

di jantungmu klason mobil
tak punya cerita
paru-parumu tanpa asap kendara
dan sampah yang terbakar
di sini tak ada mimpi yang gombal
kerena kamu begitu nyata

pada masa depan  nanti
tak ada satu huruf sejarah 
akan memahat keindahanmu
kecuali sebuah puisi

Kampung  Supul,antara Lakat dan Niki –Niki 2019


BATU YANG MENYUSUI 
Mezra E. Pellondou

Fatu Nausus sunyi senyap
dingin memikat
semesta memukau mata
hari ini kembali kau tunaikan tugasmu
menyusui manusia- manusia tanah
agar gembur, tambun dan subur

Susumu geliat hidup
tubuhmu yang  bulat lambang ume k`bubu
tempat  menyimpan makanan

di bawahmu, air mengalir menuju Bena
di sana lumbung makanan Timor meruah
orang- orang mulai mengintipmu
kecoa dan semut-semut suten memasuki 
lubang~ lubangmu

Fatu Nausus
Semut- semut itu bukan kupu~kupu
akan jadi belatung ketika sekawanan tikus
jatuhkan remah-remah hasil rampokkan mereka
pada batu, tanah dan matahari
belatung- belatung itu akan melecetkan putingmu
dan tak setetes  kehidupan pun kaukucurkan

setiap ketiak pagi 
membengkak wajah air mata

Fatunausus, TTS 9 agustus 2019


FATUMETAN 
Mezra E. Pellondou

Hmm ma
hmmm mu
hmmm mi
hmmm me
hmmm mo
hmm hmm hmm hmm hmm hmm

Burung nus
burung flikopi
merobek langit  malam pada gugusan
bukit- bukit batu yang menghitam 
sejak purba
batu -batu di sana telah hitam
bukan karena malam
bukan karena matahari

hm fatu,te,to,fa,fi,fu,,fatu
hmm fatu ma, mi,mu,mo,metan

batu- batu yang merimbun lebat
gantikan lontar dan kelapa
orang- orang merangkak dari batu
mencari batu untuk hidupnya
di balik batu ada sepasang mata
sang khalik yang memberi keindahan
pada  bunga-bunga tropis 
dan belalang hutan
sehingga tidak jadi hama

hmm hmm hmm hmm hmm hmm
hmm hmm hmm hmm hmm hmm

Fatumetan, 21 Oktober 2012 dan direvisi 2019 

Mezra E. Pellondou, lahir dan menetap di Kupang-NTT. Penerima Adi Acarya Award dari GMBI (2020) sebagai Penulis Berdedikasi dan Pengembangan Pendidikan Literasi terbaik. Pemenang Pertama Penghargaan Sastra untuk Pendidik dari Badan Pengembangan Bahasa RI (2012). Penerima  penghargaan NTT Award (2013) Kategori Sastra dan Humaniora. Menerbitkan Kitab Puisi Sujud Selembar Daun (2020), Beta Indonesia Keliling Tanah Air dengan Puisi (2018), Likurai dari Negeri yang Membatu (2017), Tujuhpuluhkalitujuhkali (2015), Kekasih Sunyiku (2013).  Empat buku kumpulan  cerpen, Kuda dan Sang Dokter (2017);Menjahit Gelombang (2020);  Negara Te Au Na (2020);MAKHPELA (2020). 

Buku Essai Sastra, Dari Suri Ikun Bu Ikun hingga Tuan Kamlasi (2018). Naskah Film/Sinetron Anak berjudul Merah Putih di Ujung Tiang (2019)/telah difilmkan dan dipublikasikan TVRI  NTT dan TVRI Nasional 11 Oktober 2019. Empat Novel, serta terlibat dalam puluhan antologi bersama. Karya-karya Mezra lolos muat dalam berbagai Koran media cetak dan portal sastra. FB: Bunda Mezra Pellondou.  IG. Mezra Pellondou. Youtube: mezra elisabeth pellondou.

Komentar

Loading...