Puisi-Puisi Mezra E Pellondou

Puisi-Puisi Mezra E Pellondou
Mezra E Pellondou

ATAPUPU
Puisi Mezra E. Pellondou

Tinggalkan saja  mayat ini di sini
dia seorang ata
yang mati tadi pagi
waktu terlalu berharga untuk sebuah upacara
perkabungan
pedagang pedagang cina itu menangisi mayatnya
hingga mata mereka membengkak 
tak sanggup menatap matahari

kuburkan mayat ini disini
dia bukan bangkai
tapi pinang yang harum
terlalu berharga untuk menjinakkan 
gelombang dahsyat

dia bagai kapal yang senantiasa berlabuh 
saat hari masih subuh dan  membongkar muatannya
makanan-makanan siap dikirim ke pedalaman Timor
obat-obatan pembunuh malaria Timor yang ganas
dipasoknya

Jangan tinggalkan dia hanya tetap sebagai ata
dia seorang ata yang pupu, mati 
tapi ia  telah menimbun penuh
kapal-kapal pedagang dengan keringatnya 
yang menjadi madu 
  
Atapupu, Juni 2012 dan direvisi 2019


LELAKI BERPERAHU SANGGA NDOLU
: Foe Mbura
Puisi Mezra E.Pellondou    

Lelaki berperahu Sangga Ndolu itu
Tidak akan tambatkan perahunya 
Sebelum  bermimpi  membangun 
masa depan nusak
pada gerbang-gerbang
sekolah
dipahatkannya mimpi itu
di atas puncak Fiulain
 
Semua orang menyapanya sebagai mahaguru 
Lelaki itu pun mulai mengajak berlayar
Jauh sebelum Logan menemukan kata
bernama Indonesia

“Mari kita ke “Matabi” ajak lelaki itu
Waktu itu Batavia belum diperanakkan

Bagai sekawanan anak kerbau menyusu 
melalui celah paha sang induk
Orang-orang pun mengikuti lelaki itu 
Dua frasa telah dikekalkan lelaki itu
pada mereka:
Sangga Ndolu ma
Tungga Lelah Falu

Jemputlah Damai
Jenputlah Ilmu
Cerdas harus bermartabat
Melawan jahat harus 
dengan kasih

Mereka bertarung maut melintas Samudera Hindia
Nyanyikan mimpi untuk tanah terselatan 

Mana makinda ndolu sio
Ma
Mana mambeda lela falu


Kupang, 2 Februari   2020


NUSANTARA DUA
Puisi Mezra E. Pellondou

hanya selembar foto
aku ingin menyimpannya
tak perlu aku mengais udara
pada tiga lelakiku
dan pada seorang puteri 

hanya selembar foto
untuk kelak aku punya
senyuman tentang sebuah keluarga
hanya selembar foto
tapi itu terlalu sulit    

Atambua 9 agustus 2019  

Mezra E. Pellondou, lahir dan menetap di Kupang-NTT. Penerima Adi Acarya Award dari GMBI (2020) sebagai Penulis Berdedikasi dan Pengembangan Pendidikan Literasi terbaik. Pemenang Pertama Penghargaan Sastra untuk Pendidik dari Badan Pengembangan Bahasa RI (2012). Penerima  penghargaan NTT Award (2013) Kategori Sastra dan Humaniora.

Menerbitkan Kitab Puisi Sujud Selembar Daun (2020), Beta Indonesia Keliling Tanah Air dengan Puisi (2018), Likurai dari Negeri yang Membatu (2017), Tujuhpuluhkalitujuhkali (2015), Kekasih Sunyiku (2013).  Empat buku kumpulan  cerpen, Kuda dan Sang Dokter (2017);Menjahit Gelombang (2020);  Negara Te Au Na (2020);MAKHPELA (2020). 

Buku Essai Sastra, Dari Suri Ikun Bu Ikun hingga Tuan Kamlasi (2018). Naskah Film/Sinetron Anak berjudul Merah Putih di Ujung Tiang (2019)/telah difilmkan dan dipublikasikan TVRI  NTT dan TVRI Nasional 11 Oktober 2019. Empat Novel, serta terlibat dalam puluhan antologi bersama. Karya-karya Mezra lolos muat dalam berbagai Koran media cetak dan portal sastra.

Komentar

Loading...