Puisi-Puisi Djoko Suryono

Puisi-Puisi Djoko Suryono
Prof Dr Djoko Suryono.Ist

LAMPUUK, LHOKNGA 1
Djoko Suryono

Lampuuk, lhoknga, debur tak henti -- demi hening
"di sini", kenangnya, merawan hati bening
kepadaku, "di pengujung tahun itu"

berkelebat amat kencang gunung-gunung gelombang: tak terekam detak napas yang terhumbalang: dari arah laut lepas yang tak pernah terbayang: menggendong benda-benda dan seisi samudra yang terburai tegang: menuju daratan dan permukiman yang baru terjaga dari malam: sebelum kesadaran hari dan kehidupan bisa bergumam. maka seketika segala sirna tenggelam: manusia tersisa lintang pukang: seperti debu-debu berhamburan untuk kemudian hilang: segenap kehidupan pun lindap entah di mana kalang. "inikah banjir bah Nuh yang disurat oleh kitab suci dan direkam sejarah bumi?: sekarang tengah memberi bukti bagi kehidupan masa kini yang kehilangan nurani selain nafsu saling menghunus mati?!", terperam pertanyaan di kedalaman hati.

lampuuk, lhoknga
"di sini", ujarnya berat bertenaga
kepadaku, "bermula segenap mala

dan kehidupan baru ditata: terkubur kebudayaan yang renta: terlahir bayi peradaban yang memancarkan jiwa mulia". dan kepada tebing-tebing karang aku memandang: kepada deru gelombang laut biru aku berkenang: kepada pasir-pasir putih tergelar aku terus memasuki silam yang menyimpan maha-duka tak lengkang

lampuuk, lhoknga
"di sini...", ia henti bicara
suara dan kata hilang saraf makna
bagi dahsyat bencana: akbar gempa! 

2016-2017 

LAMPUUK, LHOKNGA (2)
Djoko Suryono

Lampuuk, Lhoknga sesudah satu setengah dasawarsa: cekungan berlembah di antara dua bukit karang tak lagi seperti ngangga mulut singa: melumatkan apa dan siapa saja sebagai mangsa -- seperti dulu kala. Kini sudah bersalin rupa: jejak-jejak mala tsunami terlihat sama sekali tiada -- cuma menghuni ingatan di saraf otak kita juga dada.

Lampuuk, Lhoknga sesudah satu setengah dasawarsa: pasir putih bertabur di sepanjang landai Pante Tebing indah rupa: pohon-pohon pinus dan lainnya menyebarkan hijau hingga teduh suasana: memang angin dan panas ada juga. Tapi, kini sudah berwajah beda: hamparan tanah terbuka yang mencekam hanya terekam di potret-potret lama: maka orang-orang datang bersuka ria -- melepasbiarkan hidup di alam terbuka.

Di sini kita mengembala waktu -- juga rindu agar tak letih mengasuh cinta yang menua -- dan asmara yang kita piara di ladang-ladang waktu -- kita susun kisah-kisah baru berdua: juga bersihkan hati dari kerak-kerak yang menempeli hidup dari masa ke masa. Di tengah biru langit dan biru langit menjalin pertemuan: di antara angin laut berembusan.

2019

DI MASJID RAHMATULLAH, LAMPUUK
Djoko Suryono 

maka bumi terban berguncang
bangunkan hidup sebelum terang
saat subuh berlalu di kumpar waktu
makhluk melipat lelap di dulang rindu

sesudah itu tercipta deru hebat
menyapukan takdir kehidupan jagat
semua lantak rata: seperti sediakala
ada hampar padang terbuka: terluka

"cuma itu", ujarnya, "hanya itu sisa
menyiram anyir dengan wangi surga
rumah si mahabaka: selainnya tiada"

"cuma itu, sebermula begitu!", katanya

kokoh Masjid Rahmatullah berdiri
aksi bagi zaman nanti: ini katastrofi!

2016-2017

DI BAITURRAHMAN
Djoko Suryono

di sini, berabad telah
ditampung segala sejarah
tentang durjana yang kalah
tentang kerakusan yang rebah
tentang hati yang total berserah
sebab di sini tegak abadi rumah
berisi berkah, nikmah, dan rahmah

di sini, beratus tahun sudah
dibilas bersih segala riwayat resah
digosok kilap hati buram tak berarah
dilumatkan keangkuhan berdarah
dilantun lembut keindahan tayibah
karena di sini berdiam yang tercerah
dengan pancaran cahaya maha-wah

gelap mata hati insan dibuat terang
perlawanan atas kezaliman digalang
tumpukan kuat permusuhan tumbang
gunung badai kencang jeri menerjang
keselamatan dibentang bagi orang
sebab di sini tinggal cahaya gemilang
yang berasal dari langit tak terbilang

maka berembusanlah suci marwah
lantaran di sinilah sejati rumah Allah
maka berlantunanlah agung tembang
karena di sinilah ruang maha-lapang.

2016-2017

Prof Dr Djoko Saryono, Lahir di Kota Madiun, 27 Maret 1962, besar dan bermukim di Kota Malang, Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2009 raih gelar guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Dosen tetap IKIP Malang sejak 1986 hingga sekarang, memiliki buku puisi antara lain, Arung Diri: Kitab Puisi, Kemelut Cinta Rahwana, Arung Cinta dan Tafsir Kenthir Leo Kristi.

Komentar

Loading...