Puisi-Puisi Covid19 Heri Mulyadi

Puisi-Puisi Covid19 Heri Mulyadi
Heri Mulyadi

THE NEW NORMAL
Heri Mulyadi:

Kekasih normalku,
ini malam tak normal
tak ada zikir
tak ada rukuk
tak ada sujud
tak ada air mata
tak ada tangan terangkat
tak ada munajat
tak ada lembaran-lembaran kitab
tak ada tirakat
hanya lena
tidur panjang
meski maut diam-diam terus mengintai tiap mimpi yang kita ukir di peraduan, dan esok mungkin ia akan merampasnya, kasar sekasar-kasarnya.

Kekasih normalku,
dunia kini tak normal
tapi mereka ingin disebut normal
normal dengan masjid-masjid yang sepi
normal dengan gereja-gereja yang kosong
normal dengan pura-pura yang melompong
normal dengan vihara-vihara yang lengang
dan inilah new normal
normal yang tak normal.

Kekasih normalku,
dunia kini tak normal
tapi mereka ingin disebut normal
normal dengan tangan yang tak lagi berjabatan
normal dengan kerabat yang tak lagi saling jenguk
normal dengan sanak yang pulang tak ubah buangan
inilah new normal
normal yang tak normal
tak normal yang dipaksakan.

Kekasih normalku,
dunia kini tak normal
tapi mereka ingin disebut normal
normal dengan pekerja yang tak bisa bekerja
normal dengan ekonomi buruk
normal dengan hidup terpuruk
normal dengan tipu daya busuk
normal dengan perangkap penuh bujuk
dan inilah new normal
normal yang tak normal
tak normal yang dinormal-normalkan.

Kekasih normalku,
biar kupeluk engkau dengan normal
kubisiki dengan normal
bahwa aku masih normal
bahwa engkau selalu normal
bahwa cinta kita tetap normal.

Kekasih normalku,
engkau terlahir normal
aku pun terlahir normal
kita manusia normal
hiduplah dengan normal
bukan new normal
--karena itu jelas tak normal!

Jakarta, 27 Mei 2020 

SYAWAL BERDEBU
Heri Mulyadi:

inikah fajar kemenangan
saat kita difitrikan
ataukah semburat kekalahan
karena angkara tak juga terenyahkan

ramadhan berlalu
takbir syawal bergema
ada senyum
tapi juga gores duka

senyum oleh harap
Dia Mahalangit
hapus berjejak dosa

--bukan oleh tebal amal
di malam penuh rintih tangis ampun
bukan oleh lantun berlembar kalam
bukan oleh basah lidah berzikir
bukan oleh banyak sedekah atau ramai kata berseru
bukan pula oleh lama rukuk sujud di puncak lailatul qodar

:

semata rahmat dan kasih
walau diri tak juga pandai bersyukur

duka oleh kelam yang mungkin tak pupus
karena hiba tak sungguh tulus
sebab menyebut tak sepenuh turut
--sedang diri masih saja lalai
abai hujan beribu tanda
abai derai berlaksa kuasa
hati masih berluputluput

ramadhan berlalu
syawalku berdebu

tangan tak berjabat
pintu-pintu berkunci rapat
tiada tempat berbagi ketupat!

Jakarta, 1 Syawal 1441 H


Heri Mulyadi, kelahiran Tanjungkarang, 10 Oktober 1973. Menulis banyak sajak dan menerbitkannya dalam berbagai buku. Buku puisi tunggal terbarunya: Elegi Cinta Cerita Kata, Siger Publisher, November 2018. Bersama 149 penyair di Tanah Air, Heri baru-baru ini meluncurkan buku antologi puisi khusus bertema pandemi covid-19, Berbisik pada Dunia, Yayasan Hari Puisi, Mei 2020.

Komentar

Loading...